Dua Aktivis Global Sumud Flotilla Dibawa ke Israel untuk Diinterogasi

Global Sumud Flotilla akan kembali mencoba menembus blokade Israel menuju Jalur Gaza. (Anadolu Agency)

Dua Aktivis Global Sumud Flotilla Dibawa ke Israel untuk Diinterogasi

Dimas Chairullah • 2 May 2026 16:57

Tel Aviv: Otoritas Israel pada hari Jumat kemarin menyatakan bahwa pihaknya telah menahan dua dari 175 aktivis armada kapal Global Sumud Flotilla yang tengah membawa misi bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza. 

Kedua aktivis tersebut dilaporkan telah dibawa kembali ke wilayah Israel untuk menjalani proses interogasi.

Kementerian Luar Negeri Israel, melalui sebuah unggahan di platform media sosial X, mengidentifikasi kedua individu itu sebagai Saif Abu Keshek yang dicurigai memiliki hubungan dengan "organisasi teroris," dan Thiago Avila yang dituduh melakukan "aktivitas ilegal."

Sementara itu, sisa aktivis lainnya yang sempat ditahan usai Angkatan Laut Israel mencegat armada di perairan internasional dekat Pulau Kreta pada hari Kamis, akan diturunkan di wilayah Yunani setelah mendapat persetujuan penuh dari otoritas Athena.

Tuduhan Israel

Kementerian Luar Negeri Israel turut mengeklaim bahwa Dewan Perdamaian dan Departemen Luar Negeri AS sebelumnya telah menerbitkan aturan yang menetapkan bahwa semua kegiatan kemanusiaan di Gaza murni merupakan wewenang dewan tersebut. 

Tel Aviv menuduh secara terang-terangan bahwa kelompok Hamas menjadi dalang di balik armada kemanusiaan ini. 

"Armada yang dipimpin Hamas ini adalah provokasi lain yang dirancang untuk mengalihkan perhatian dari penolakan Hamas untuk melucuti senjata, dan untuk melayani kepentingan humas para provokator profesional. Israel tidak akan membiarkan pelanggaran blokade laut yang sah di Gaza," tegas pihak kementerian, sebagaimana dikutip dari laporan UPI, Sabtu, 2 Mei 2026.

Diketahui, armada yang beranggotakan 58 kapal itu tengah menempuh pelayaran dari Barcelona dan masih berada lebih dari 600 mil dari perairan Gaza ketika 22 di antaranya tiba-tiba dicegat dan disita. 

Pihak Global Sumud Flotilla menuduh pasukan Israel menodongkan senjata ke arah relawan, menghancurkan mesin, serta merusak perangkat navigasi kapal sebelum akhirnya mundur. 

Kecaman dari Berbagai Negara

Tindakan sabotase tersebut dinilai sengaja dilakukan untuk meninggalkan ratusan warga sipil terdampar tak berdaya tepat di jalur badai besar yang sedang mendekat, diperparah dengan pemutusan akses komunikasi darurat.

Arogansi Israel di perairan internasional ini tak pelak memicu gelombang kecaman dari berbagai negara, termasuk Italia dan Turki. 

Sebuah pernyataan bersama yang dirilis oleh Brasil, Pakistan, Spanyol, Malaysia, dan Afrika Selatan mengutuk keras insiden tersebut sebagai "serangan Israel" terhadap misi kemanusiaan yang damai. 

Mereka menegaskan bahwa penahanan para aktivis merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter internasional.

Meski dihujani kritik, Departemen Luar Negeri AS justru pasang badan mendukung klaim Tel Aviv. Washington mengidentifikasi pengorganisasi armada itu sebagai Konferensi Populer untuk Warga Palestina di Luar Negeri (PCPA), sebuah entitas yang telah dijatuhi sanksi oleh Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS pada bulan Januari lalu karena dianggap beroperasi atas perintah Hamas. 

AS bahkan menuding bahwa misi Global Sumud Flotila sengaja dirancang untuk merusak rencana perdamaian Gaza yang digagas oleh Presiden AS Donald Trump, seraya menuduh armada itu mendukung penuh rezim Iran beserta proksinya seperti Hamas dan Hizbullah.

Baca juga:  57 Aktivis Global Sumud Flotilla yang Diculik Israel Tiba di Turki

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)