Ilustrasi kekeringan. Foto MGN
Godzilla El Nino Sulit Diprediksi, Ketahanan Pangan Bisa Terdampak
Muhamad Marup • 5 April 2026 16:52
Jakarta: Fenomena El Nino kembali menjadi perhatian global seiring meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Kekeringan berkepanjangan berpotensi menurunkan produktivitas sekaligus mengganggu ketahanan pangan nasional.
Guru Besar bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan bahwa tahun ini berpotensi terjadi Godzilla El Nino merupakan bagian dari siklus iklim yang telah berlangsung lama. Namun, perubahan iklim global membuat pola kemunculannya semakin dinamis dan sulit diprediksi.
"El Nino itu sebenarnya siklus alami, sudah lama terjadi. Tapi sekarang polanya terasa makin cepat karena pemanasan global," ujar Bayu, mengutip situs UGM, Minggu, 5 April 2026.
Ia menjelaskan, kondisi ini membawa konsekuensi serius bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada air. Tanaman seperti padi dan jagung menjadi sangat rentan karena fase pertumbuhannya bergantung pada kecukupan air.
Ketika suplai air menurun, lanjut Bayu, tanaman tidak dapat berkembang secara optimal. Dalam kondisi ekstrem, tanaman bahkan berpotensi mengalami kerusakan permanen sehingga petani mengalami kerugian karena gagal panen.
"Kalau kekeringan terjadi setelah tanam, petani bisa gagal panen. Artinya, biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak kembali dan jadi kerugian," jelasnya.
Bayu menekankan langkah mitigasi di tingkat petani menjadi semakin penting untuk menekan risiko kerugian. Salah satu upaya yang dinilai efektif adalah memperkuat komunikasi antara petani dan penyuluh pertanian.
Akses informasi mengenai kondisi cuaca dan pilihan varietas tanaman menjadi faktor penentu dalam strategi budidaya. Pendampingan yang intensif membantu petani menyesuaikan praktik di lapangan.
"Kuncinya ada di komunikasi petani dan penyuluh. Kalau informasinya jelas, petani bisa ambil keputusan yang lebih tepat di lapangan," terangnya.
Bayu menilai, Indonesia sudah memiliki dalam menghadapi fenomena El Nino pada periode sebelumnya. Bahkan berbagai program telah dijalankan untuk mengantisipasi dampak kekeringan, termasuk penguatan infrastruktur dan teknologi pertanian.

Ilustrasi kekeringan. Foto MGN
Inovasi seperti irigasi hemat air dan pengembangan varietas tahan kekeringan terus dikembangkan. Selain itu, informasi cuaca kini semakin mudah diakses secara real time.
"Sebenarnya kita sudah punya pengalaman di tahun 2024, misalnya lewat pompanisasi dan inovasi irigasi tetes. Varietas tahan kekeringan juga sudah dikembangkan, tinggal dimanfaatkan dengan baik," katanya.