AS telah menyita sejumlah kapal tanker di dekat perairan Venezuela. (Anadolu Agency)
AS Proses Surat Perintah untuk Sita Lebih Banyak Tanker Minyak Venezuela
Willy Haryono • 14 January 2026 11:28
Washington: Pemerintah Amerika Serikat mengajukan permohonan surat perintah pengadilan untuk menyita puluhan kapal tanker tambahan yang terkait dengan perdagangan minyak Venezuela, menurut empat sumber yang mengetahui persoalan tersebut. Langkah ini dilakukan seiring langkah AS untuk mengonsolidasikan kendali atas pengiriman minyak yang keluar masuk Venezuela.
Dilansir dari AsiaOne, Rabu, 14 Januari 2026, militer AS dan Penjaga Pantai AS telah menyita lima kapal dalam beberapa pekan terakhir di perairan internasional. Kapal-kapal tersebut diketahui mengangkut minyak Venezuela atau pernah melakukannya di masa lalu.
Penyitaan ini merupakan bagian dari kampanye Washington untuk memaksa Presiden Venezuela Nicolas Maduro lengser dari kekuasaan, yang berpuncak pada penangkapannya oleh pasukan AS pada 3 Januari.
Sejak itu, pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan berencana mengendalikan sumber daya minyak Venezuela untuk jangka waktu tidak terbatas, sembari berupaya membangun kembali industri minyak negara tersebut yang terpuruk.
Trump memberlakukan blokade pada Desember untuk mencegah kapal-kapal tanker yang terkena sanksi mengirim minyak Venezuela, sehingga ekspor nyaris terhenti. Namun, pengiriman kembali berlangsung pekan ini di bawah pengawasan Amerika Serikat.
Langkah Hukum Buka Jalan Penyitaan
AS telah mengajukan sejumlah gugatan perdata perampasan aset (civil forfeiture) di pengadilan distrik, terutama di Washington DC, yang memungkinkan penyitaan dan perampasan kargo minyak serta kapal-kapal yang terlibat dalam perdagangan tersebut, kata para sumber. Mereka menolak disebutkan identitasnya karena sensitivitas perkara.Jumlah pasti surat perintah penyitaan yang telah diajukan AS, serta berapa banyak yang sudah dikabulkan, belum jelas karena pengajuan dan perintah hukum tersebut tidak dipublikasikan. Namun, para sumber menyebut jumlahnya mencapai puluhan.
Departemen Kehakiman AS tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Kapal-kapal yang telah dicegat sebelumnya berada di bawah sanksi AS atau merupakan bagian dari “armada bayangan” kapal-kapal tak teregulasi yang menyamarkan asal-usulnya untuk mengangkut minyak dari produsen utama yang dikenai sanksi seperti Iran, Rusia, atau Venezuela.
Masih terdapat banyak kapal tanker di laut yang membawa minyak mentah Venezuela ke pembeli utama Tiongkok, atau yang sebelumnya pernah melakukannya. Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi terhadap banyak kapal tersebut karena memfasilitasi perdagangan minyak dengan Venezuela atau Iran.
Para sumber mengatakan terdapat jeda dalam aksi penyitaan kapal oleh AS sejak Jumat lalu. Namun, tindakan dapat kembali dilanjutkan terhadap kapal dan kargo yang tidak mendapat otorisasi dari Amerika Serikat.
Departemen Pertahanan AS, bersama lembaga-lembaga AS lainnya, akan “memburu dan mencegat SEMUA kapal armada gelap yang mengangkut minyak Venezuela pada waktu dan tempat yang kami tentukan,” kata juru bicara Pentagon Sean Parnell pada Jumat melalui platform X.
Dalam penyitaan terbaru, Amerika Serikat menargetkan baik kapal maupun kargo di atasnya. Hal ini menandai eskalasi dibandingkan penyitaan kargo minyak Iran pada periode 2020–2023, ketika aparat penegak hukum AS menyita muatan minyak namun tidak kapal itu sendiri, menurut sumber industri pelayaran.
Jaksa Agung AS Pam Bondi menyatakan pada 7 Januari bahwa Departemen Kehakiman tengah “memantau sejumlah kapal lain untuk tindakan penegakan hukum serupa," setelah penyitaan kapal tanker Bella-1 yang tidak membawa muatan, penyitaan pertama dalam beberapa waktu terakhir terhadap kapal berbendera Rusia oleh militer AS.
Rusia, seperti Venezuela, mengandalkan armada bayangan untuk mengangkut minyak yang dikenai sanksi. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut langkah tersebut sebagai “penggunaan kekuatan secara ilegal” oleh militer AS, serta menilai penerapan sanksi Amerika Serikat “tidak memiliki dasar hukum."
Baca juga: Trump Umumkan Dirinya sebagai Presiden Sementara Venezuela