Ilustrasi. Foto: dok Subholding Gas.
Pasokan LNG Domestik Harus Jadi Prioritas di Tengah Krisis Energi Global
Husen Miftahudin • 20 May 2026 13:44
Jakarta: Eskalasi geopolitik di Timur Tengah saat ini telah mendorong krisis energi global yang berdampak langsung terhadap rantai pasok dan harga energi dunia, termasuk LNG. Dalam situasi tersebut, keberlanjutan pasokan energi menjadi faktor yang sangat penting untuk dijaga.
"Di krisis geopolitik prioritas utama adalah security of supply, bukan harga. Jadi ya, mengamankan pasokan fisik jauh lebih krusial daripada sekadar menjaga harga. Kalau energinya tidak ada, harga murah pun tidak ada gunanya. Ini hal yang sangat penting untuk ke depannya," ungkap pakar energi Prof. Iwa Garniwa, dalam keterangan tertulis, Rabu, 20 Mei 2026.
Iwa yang juga Guru Besar Universitas Indonesia dan Rektor IT PLN ini menjelaskan, negara yang tidak punya kontrak jangka panjang, infrastruktur regasifikasi yang fleksibel, dan cadangan strategis, akan kalah bersaing. Sementara, energi sangat dibutuhkan terlebih untuk sektor vital.
"Ketersediaan lebih penting daripada harga dalam jangka pendek. Energi memang 'oksigen' ekonomi. Tanpa listrik, tanpa gas untuk industri, pabrik berhenti, rantai pasok putus, inflasi meningkat, yang mana ini sangat tidak diinginkan oleh semua negara," jelas dia.
Dari sudut pandang akademis, Iwa menegaskan, dalam situasi seperti saat ini urutan paling utama adalah ketersediaan energi. Setelah itu baru pengaturan harga sesuai prinsip keadilan. "Availability first, then affordability management. Sebaiknya Jangan di balik," tukas dia.
Hal tersebut berlaku untuk seluruh energi baik itu BBM, LPG, maupun LNG yang telah mengalami lonjakan harga secara global di tengah dinamika geopolitik. Di Indonesia, harga LPG industri tercatat telah meningkat sekitar 25 persen sampai 26 persen, sementara solar industri mengalami kenaikan jauh lebih tinggi, yakni sekitar 77 persen hingga 84 persen mengikuti lonjakan harga energi global.
| Baca juga: Menteri ESDM: CNG 3 Kg Masih Dalam Tahap Uji Coba di Tiongkok dan RI |
Harga LNG perlu penyesuaian
Selanjutnya, harga LNG disarankan perlu segera dilakukan penyesuaian karena harga acuan global sudah melonjak dan dalam pendek akan menciptakan tekanan yang lebih signifikan. "LNG domestik belum naik karena masih pakai kontrak lama tapi tekanan itu akan datang," kata Iwa mengingatkan.
Terlebih, eskalasi konflik di Timur Tengah sejak Februari 2026 telah memicu lonjakan harga acuan LNG global. Kondisi tersebut terlihat dari kenaikan Japan Crude Cocktail (JCC) sekitar 97 persen dan Japan Korea Marker (JKM) sekitar 111 persen sepanjang Maret-April 2026, yang kemudian ikut mendorong Indonesian Crude Price (ICP) naik hingga sekitar 99 persen dibandingkan asumsi awal tahun.
Kondisi tersebut menciptakan tekanan besar terhadap rantai pasok LNG dunia. Ia menilai publik perlu memahami harga LNG domestik pada dasarnya tetap terhubung dengan mekanisme pasar global. Meski pasokan LNG berasal dari sumber domestik, formula harga masih mengacu pada indikator internasional seperti JCC dan JKM yang menjadi referensi utama perdagangan LNG Asia.
"Untuk mengamankan LNG domestik, kita harus ubah mindset dari 'jual semurah mungkin' ke 'jamin pasokan dulu, harga dikelola'. Jangan denial dengan menahan harga terlalu lama," saran dia.

(Ilustrasi. Foto: dok Istimewa)
Prioritaskan penyelamatan pasokan domestik
Dalam kondisi pasar LNG internasional yang semakin ketat, Iwa menilai pemerintah perlu memprioritaskan penyelamatan pasokan domestik, selain penyesuaian harga, kemungkinan pengalihan sebagian pasokan LNG ekspor untuk kebutuhan dalam negeri adalah langkah yang harus dipertimbangkan.
Menurut dia, langkah tersebut penting karena sektor industri merupakan salah satu penggerak utama ekonomi nasional dan pencipta lapangan kerja. Tanpa kepastian energi, industri berisiko menghadapi tekanan produksi yang pada akhirnya berdampak terhadap aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Ditambah lagi dengan menyadari peran strategis gas bumi sebagai jembatan energi dan tulang punggung industri nasional. Terutama juga untuk mendukung ketahanan energi. "Tanpa gas, transisi energi tidak mungkin jalan dan kehilangan gas sama saja kehilangan daya saing industri," papar Iwa.
Setelah dilakukan penyesuaian harga, LNG diyakini Iwa masih jauh lebih kompetitif di antara energi fosil. Berdasarkan kalkulasi BPH Migas dan ESDM, 1 MMBTU gas setara dengan 7 liter solar. Seandainya LNG setelah penyesuaian harga menjadi setara Rp150 ribu per MMBTU, maka setara Rp21.400 per liter solar.
"Sementara solar industri (non subsidi) sekarang harganya sudah jauh di atas dan belum termasuk biaya perawatan mesin yang lebih tinggi. Sedangkan gas punya efisiensi pembakaran 90-95 persen vs solar 80-85 persen, biaya perawatan mesin lebih rendah, emisi CO2 40 persen lebih rendah dari batu bara, 25 persen lebih rendah dari solar," ulas Iwa.
Setelah penyesuaian, harga LNG domestik industri berada pada kisaran USD21 hingga USD25 per MMBTU, masih lebih rendah dibandingkan LPG industri sekitar USD28,3 per MMBTU maupun solar industri yang mencapai sekitar USD43 per MMBTU.