Dubes Palestina Peringatkan Dunia Jangan Terbiasa Lihat Warganya Dibunuh

Wakil Tetap Palestina untuk PBB Riyad Mansour. Foto: Anadolu

Dubes Palestina Peringatkan Dunia Jangan Terbiasa Lihat Warganya Dibunuh

Fajar Nugraha • 22 May 2026 11:19

Yerusalem: Wakil Tetap Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, mengatakan bahwa Israel terus melancarkan kekerasan terhadap warga sipil Palestina melalui pasukan militer maupun pemukim ilegal.

Mansour memberikan peringatan keras agar komunitas internasional tidak menjadi terbiasa melihat warga Palestina terbunuh.

Mansour menegaskan di hadapan Dewan Keamanan PBB bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan hukuman kolektif terhadap lebih dari dua juta warga Palestina. Ia menambahkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak boleh bersyarat, dijadikan alat tawar, ataupun digunakan sebagai senjata perang. 

Menurutnya, jalur perlintasan harus tetap dibuka agar bantuan kemanusiaan seperti tempat pengungsian, obat-obatan, dan makanan dapat masuk dalam skala besar. Meskipun menghargai upaya global terkait gencatan senjata, Mansour menyoroti kekurangan dalam implementasinya karena Israel telah membunuh lebih dari 870 warga Palestina sejak kesepakatan dimulai.

Ia meminta dewan untuk membayangkan reaksi dunia jika 800 atau bahkan 80 warga Israel yang tewas, serta mempertanyakan apakah kesepakatan gencatan senjata tersebut masih dianggap berhasil ditegakkan jika hal itu terjadi. Mansour menegaskan semua pihak memiliki kewajiban untuk memastikan dunia tidak membiarkan pembunuhan warga Palestina menjadi hal yang biasa.

“Israel secara sistematis menargetkan warga sipil dan terus membiarkan serta memicu kekerasan oleh pasukan pendudukan maupun pemukim ilegal,” ujar Mansour, seperti dikutip dari Anadolu, Jumat 22 Mei 2026.

“Langkah tersebut dinilai sebagai tindakan nyata Israel untuk menghancurkan negara Palestina dan merusak solusi dua negara,” imbuhnya.

Mengenai kondisi di fasilitas penahanan Israel, Mansour menyoroti video unggahan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang memperlihatkan para aktivis armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla diikat dan dipaksa berlutut. Mansour menyebut perlakuan tersebut baru merupakan sebagian kecil dari kekejaman yang dialami oleh para tahanan Palestina.

Ia mengungkapkan lebih dari 100 tahanan Palestina tewas dalam dua tahun terakhir akibat penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis, serta menjadi korban perlakuan tidak manusiawi hingga kekerasan seksual. Lebih lanjut, Mansour menolak keras skenario pemisahan Jalur Gaza dari pemerintahan Palestina dan menegaskan bahwa Gaza adalah bagian tidak terpisahkan dari Palestina.

Ia menuntut reunifikasi Gaza dan Tepi Barat di bawah Otoritas Nasional Palestina dengan prinsip satu negara, satu pemerintah, satu undang-undang, dan satu senjata, serta mendesak penarikan penuh militer Israel tanpa adanya pendudukan, pengusiran, maupun aneksasi. Mansour menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati komitmen mereka dan mendesak adanya tindakan yang tegas.

Mansour meminta komunitas internasional memanfaatkan momentum gencatan senjata ini untuk mengambil langkah konkret guna mengakhiri penderitaan dan pendudukan, sekaligus memastikan kemerdekaan serta perdamaian bagi Palestina, Israel, dan kawasan yang lebih luas. Dalam pertemuan yang sama, Direktur Proyek Kemanusiaan Bulan Sabit Merah Palestina di Jalur Gaza, Rami Hijjo, menyampaikan melalui sambungan virtual bahwa penderitaan di Gaza tetap berlanjut meskipun gencatan senjata telah diumumkan.

Menurutnya, serangan Israel yang terus berjalan telah merenggut nyawa secara membabi buta, termasuk menyasar warga di kamp pengungsian yang telah kehilangan segalanya dan berpindah tempat berkali-kali. Hijjo, yang mengaku telah mengungsi sebanyak enam kali, mendesak adanya perlindungan mutlak bagi para pekerja kemanusiaan di lapangan.

Ia membagikan pesan dari seorang penyintas yang meminta dunia memberikan perlindungan dan imunitas bagi institusi bantuan medis kemanusiaan agar mereka dapat menjalankan tugas dengan aman dan kembali ke keluarga mereka tanpa cedera. Hijjo menegaskan bahwa pembiaran terhadap pelanggaran hukum bukan merupakan pilihan, melainkan pemicu bagi kekejaman yang lebih besar.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)