Ilustrasi: Medcom.id
Iran Eksekusi Pria yang Menjadi Mata-mata Israel
Fajar Nugraha • 28 January 2026 18:44
Teheran: Iran dikabarkan telah mengeksekusi seorang pria yang dihukum karena bekerja sebagai mata-mata bagi dinas intelijen Israel, Mossad.
Hamidreza Sabet Esmailpour, yang ditangkap pada 29 April 2025, digantung setelah vonisnya dikonfirmasi oleh Mahkamah Agung, lapor media peradilan Iran, Mizan, pada Rabu 28 Januari 2026.
Esmailpour dituduh melakukan spionase dan kerja sama intelijen dengan badan intelijen Israel, Mossad. “Dia mentransfer dokumen rahasia dan informasi sensitif kepada seorang perwira intelijen Israel melalui komunikasi online rahasia,” laporan Iran, seperti dikutip dari TRT World.
Menurut para penyelidik, tinjauan aktivitas online-nya menunjukkan bahwa dia telah mengirim dokumen langsung kepada seorang perwira yang terkait dengan Israel.
Otoritas juga menuduhnya melakukan kegiatan intelijen dan operasional untuk Israel, termasuk membeli peralatan untuk seorang perwira intelijen dan mengangkut kendaraan melintasi provinsi Isfahan dan Lorestan.
Mereka menuduh tindakan-tindakan ini dimaksudkan untuk memfasilitasi aksi sabotase yang menargetkan fasilitas rudal Kementerian Pertahanan.
Operasi besar
Para pejabat Iran menggambarkan dugaan rencana tersebut sebagai “operasi besar” yang diungkap dan dinetralisir oleh agen-agen dari Kementerian Intelijen.Terlibat dalam perang bayangan selama beberapa dekade dengan Israel, Iran telah mengeksekusi banyak orang yang dituduh memiliki hubungan dengan dinas intelijen Israel dan memfasilitasi operasinya di negara tersebut.
Eksekusi warga Iran yang dihukum karena memata-matai Israel telah meningkat secara signifikan sejak tahun lalu setelah konfrontasi langsung antara kedua musuh regional tersebut pada bulan Juni, ketika pasukan Israel dan AS menyerang fasilitas nuklir Iran.
Memicu kerusuhan
Otoritas Iran memberlakukan pemadaman internet menyusul gelombang protes anti-pemerintah yang melanda negara itu mulai bulan lalu, dipicu oleh depresiasi tajam mata uang lokal dan krisis ekonomi yang memburuk.Sementara itu, badan intelijen Israel, Mossad, mengeluarkan seruan langsung kepada warga Iran untuk melanjutkan protes, dengan mengatakan bahwa mereka mendukung demonstrasi "di lapangan" seiring meluasnya demonstrasi di Teheran dan kota-kota Iran lainnya.
Demonstrasi dimulai di Teheran dan kemudian menyebar ke beberapa kota. Presiden Masoud Pezeshkian mengakui kemarahan publik dan berjanji untuk berupaya memperbaiki kondisi.