Fatmawati dan Soekarno. (Instagram/@membacasoekarno)
Profil Fatmawati, Istri Soekarno dan Penjahit Bendera Pusaka
Riza Aslam Khaeron • 22 December 2025 15:37
Jakarta: Fatmawati Soekarno dianugerahi penghargaan Wonder Mom Awards 2025 dalam kategori Lifetime Achievement yang diselenggarakan oleh Metro TV dalam rangka peringatan Hari Ibu Nasional ke-97. Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas jejak pengabdian seorang perempuan yang telah memberikan pengaruh besar bagi bangsa.
Sebagai Ibu Negara pertama Republik Indonesia, Fatmawati dikenang bukan hanya karena kedekatannya dengan Presiden pertama, tetapi juga karena kontribusi historisnya yang monumental: menjahit bendera pusaka Merah Putih yang dikibarkan pada hari Proklamasi Kemerdekaan.
Berikut ini profil Fatmawati Soekarno, sosok yang jejak perjuangannya tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa.
Tentang Fatmawati
Fatmawati lahir di Bengkulu pada Senin, 5 Februari 1923. Ia merupakan anak tunggal dari pasangan H. Hassan Din dan Siti Chadidjah. Ayahnya semula bekerja di perusahaan Belanda, Bersomij, namun memilih mengundurkan diri agar dapat tetap aktif dalam organisasi Muhammadiyah.Setelah itu, keluarga mereka kerap berpindah-pindah di wilayah Sumatra bagian selatan, mengikuti berbagai usaha yang dijalankan sang ayah.
Fatmawati juga memiliki garis keturunan dari Kerajaan Indrapura Mukomuko. Ini lantaran ayahnya disebut sebagai keturunan keenam dari Putri Bunga Melur.
Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang religius dan nasionalis, menjadikannya sosok yang disiplin, sederhana, dan memiliki kepekaan sosial tinggi—nilai-nilai yang kelak membentuk kiprahnya di masa perjuangan dan pascakemerdekaan.
Bersama Soekarno dan Peran Menjelang Proklamasi

Anak-anak Fatmawati dengan Soekarno. (Istimewa)
Fatmawati bertemu Soekarno saat Bung Karno menjalani masa pengasingan di Bengkulu. Hubungan mereka tumbuh di tengah semangat perjuangan melawan penjajahan. Kala itu, Soekarno masih berstatus suami dari Inggit Garnasih.
Pada 1943, Soekarno menikahi Fatmawati secara perwakilan melalui Opseter Sardjono. Sebab, Fatmawati masih tinggal di Bengkulu, sementara Soekarno berada di Jakarta.
Fatmawati kemudian pindah ke Jakarta pada 1 Juni 1943 untuk mulai mendampingi Soekarno secara langsung.
Dari pernikahan ini, keduanya dikaruniai lima orang anak: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh.

Fatmawati menjadih Sang Saka Merah Putih. (Buku Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
Menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945, Fatmawati mendapat tugas penting yang kelak menjadi simbol sejarah bangsa: menjahit Sang Saka Merah Putih. Penjahitan dilakukan pada awal Agustus 1945, dalam suasana darurat dan penuh ketegangan politik.
Ia menjahit bendera tersebut secara manual menggunakan tangan dari kain mori dan katun yang tersedia di rumah.
"Bendera itu saya jahit dengan tangan, sederhana saja, tetapi dengan harapan besar bahwa suatu hari kelak bendera itu akan berkibar sebagai lambang bangsa merdeka," tulis Fatmawati dalam bukunya Catatan Kecil Bersama Bung Karno (1981).
Bendera tersebut dikibarkan di halaman rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56 pada peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Dalam upacara yang berlangsung khidmat, Trimurti membawa bendera di atas nampan dan menyerahkannya kepada Latief Hendraningrat dan Soehoed untuk dikibarkan.
Sejak saat itu, bendera hasil jahitan Fatmawati dikenal sebagai bendera pusaka dan menjadi simbol kemerdekaan Indonesia.
Peran sebagai Ibu Negara, Akhir Hayat, dan Warisan

Pemakaman Fatmawati. (Ibu Tien via Facebook)
Setelah Indonesia merdeka, Fatmawati mengemban peran sebagai Ibu Negara dalam masa-masa awal berdirinya republik yang masih rapuh. Ia mendampingi Soekarno dalam kunjungan ke berbagai daerah untuk membangkitkan semangat rakyat, serta ikut serta dalam lawatan ke luar negeri sebagai bagian dari misi diplomatik negara.
Dalam kegiatan sosial, Fatmawati aktif mendorong program pemberantasan buta huruf, serta mendukung kemajuan perempuan dalam bidang pendidikan dan ekonomi.
Ia memandang peran Ibu Negara bukan hanya sebagai simbol, melainkan sebagai agen perubahan yang harus bekerja nyata di tengah masyarakat.
Salah satu warisan konkret Fatmawati adalah berdirinya Rumah Sakit Fatmawati di Jakarta Selatan. Rumah sakit ini didirikan pada 1954 dengan nama awal Rumah Sakit Ibu Soekarno, dan dirancang sebagai sanatorium untuk anak-anak penderita gangguan paru-paru.
Pada 15 April 1961, pengelolaan rumah sakit diserahkan kepada Departemen Kesehatan dan berkembang menjadi salah satu fasilitas kesehatan utama di Indonesia.
Fatmawati wafat pada 14 Mei 1980 akibat serangan jantung dalam perjalanan pulang dari ibadah umrah.
Ia dimakamkan di Taman Makam Karet Bivak, Jakarta. Dalam catatan terakhirnya, ia menuliskan rasa syukur karena dapat menunaikan ibadah ke Tanah Suci, serta meninggalkan pesan spiritual tentang pentingnya zikir, syahadat, dan semangat melanjutkan perjuangan.
Nama Fatmawati diabadikan di tanah kelahirannya, Bengkulu, dalam nama Bandar Udara Fatmawati yang diresmikan pada 14 November 2001. Pemerintah juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 118/TK/2000 tanggal 4 November 2000.