BMKG: Hujan di Jabar Berkurang Sepekan ke Depan Akibat El Nino

ilustrasi.

BMKG: Hujan di Jabar Berkurang Sepekan ke Depan Akibat El Nino

Lukman Diah Sari • 12 August 2026 16:20

Bandung: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung memprediksi fenomena El Nino masih berpotensi mengurangi intensitas curah hujan di sebagian wilayah Jawa Barat (Jabar) dalam sepekan ke depan, yakni dari 10 hingga 16 Agustus 2026. Kepala BMKG Bandung, Edi Wibowo, mengatakan berdasarkan analisis iklim global terkini, fenomena El Nino yang ditunjukkan oleh indeks Niño 3.4 sebesar +2.02 masih memberikan pengaruh terhadap pola curah hujan di Jawa Barat.

"Fenomena El Nino masih berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, yang ditunjukkan oleh indeks Nino 3.4 sebesar +2.02," kata Edi di Bandung, Rabu, 12 Agustus 2026, melansir Antara.

Meski demikian, BMKG menyebut potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih dapat terjadi secara lokal, terutama pada sore hingga malam hari di sejumlah wilayah Jawa Barat. Selain itu, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat atau petir serta angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal dengan durasi relatif singkat.

Edi mengatakan, pihaknya juga mengeluarkan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah terkait potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

"Kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan memperbarui informasi cuaca resmi dari BMKG. Pahami potensi bencana di lingkungan sekitar dan segera lakukan langkah pengurangan risiko," ujarnya.


Ilustrasi- Petugas BPDB Jawa Barat saat menyalurkan bantuan air bersih dampak kekeringan di sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. ANTARA/HO-Pemprov Jabar

Menurut dia, upaya mitigasi sederhana dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko bencana, antara lain tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta memperkuat budaya gotong royong dalam penataan lingkungan.

"Masyarakat diharapkan mengenali potensi bencana di lingkungannya dan mulai memahami cara mengurangi risiko bencana tersebut, misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan, bergotong royong menjaga kebersihan, dan menata lingkungan sekitarnya," kata Edi.

Edi juga mengimbau masyarakat dalam menghadapi musim kemarau ini untuk menghemat penggunaan air bersih yang biasa digunakan sehari-hari.

(Lukman Diah Sari)