Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto- Media Indonesia (MI)/Ebet
Podium MI: Mata Media Amerika
Abdul Kohar • 20 April 2026 05:40
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran. Justru, media Amerika-lah yang secara bertubi-tubi 'menegaskan' bahwa dalam perang 41 hari itu, Iran menang dan Amerika kalah.
Apalagi, narasi tentang siapa yang menang dan kalah dalam perang pada era kekinian tak lagi ditentukan dentuman meriam atau jumlah target yang hancur. 'Kemenangan' kini ditentukan siapa yang menguasai cerita. Ironisnya, dalam konflik terbaru di Timur Tengah, cerita tentang 'kemenangan Iran' justru lahir dari jantung media Amerika sendiri.
The New York Times menjadi salah satu pelopornya. Melalui rangkaian publikasi, mulai opini 'Iran Thinks It Can Win a Long War', siniar The Ezra Klein Show bertajuk 'What if Iran Wins This War', hingga laporan utama "Iran's Battered Leaders Emerge from War Confident – and with New Cards", media arus utama Amerika itu membangun satu tesis konsisten, bahwa Teheran yang tampak babak belur justru keluar dari konflik dengan rasa percaya diri dan kartu as baru di tangan.
Reaksi dari Donald Trump yang meledak-ledak justru menguatkan narasi kemenangan itu. Lewat platformnya, Truth Social, ia melabeli laporan The New York Times tersebut sebagai fake news dan menyematkan julukan lama kepada media itu sebagai 'The Failing New York Times'. Trump berkeras Iran telah dihancurkan secara militer sehingga narasi kemenangan Iran, menurut Trump, tak lebih dari kebohongan publik.
Namun, persoalannya bukan sekadar benar atau salah. Pertanyaannya ialah bagaimana media Amerika sendiri mendefinisikan 'kemenangan'? Bagi sebagian analis di Washington, kemenangan tidak lagi identik dengan dominasi militer. Daniel Byman dari Center for Strategic and International Studies menyebut keberhasilan taktis Amerika justru dibayar mahal dengan kerugian strategis.
Dalam konteks itu, sekadar bertahan dari gempuran dua kekuatan besar, Amerika Serikat dan Israel, sudah dianggap sebagai kemenangan historis bagi Teheran. Kerusakan fisik mungkin nyata, tetapi daya tahan politik dan kemampuan mengganggu sistem global menjadi ukuran baru yang lebih menentukan.
Di titik itulah medan perang bergeser. Bukan lagi di langit yang dipenuhi rudal, melainkan di ruang persepsi. Dalam istilah Carl von Clausewitz, perang ialah kelanjutan politik dengan cara lain. Clausewitz ialah seorang jenderal, ahli teori militer, dan intelektual Prusia yang sangat berpengaruh. Ia terkenal karena bukunya Vom Kriege atau On War atau Tentang Perang).
Seturut dengan pendapat Clausewitz, dalam era digital, 'cara lain' itu menjelma menjadi narasi yang diproduksi lewat layar, algoritma, dan arus informasi. Pada era kini, kemenangan sering kali dimiliki pihak yang menguasai cerita, bukan sekadar yang unggul di medan tempur. Iran tampaknya memahami logika itu. Strategi servers, screens, and minds (mengendalikan tampilan pesan memengaruhi cara orang berpikir) dijalankan dengan agresif.
.jpg)
Salah satu peluncur rudal milik Iran. (Anadolu Agency)
Baca Juga:
Iran Ingin Perdamaian, Namun Tuntut Jaminan Tak Ada Lagi Serangan AS dan Israel |
Iran membanjiri ruang digital dengan konten, termasuk berbasis kecerdasan buatan, yang menonjolkan ketahanan rezim dan membesar-besarkan dampak serangan balasan. Sebaliknya, Trump terjebak dalam respons reaktif. Ledakan emosi di media sosial tidak cukup untuk membangun narasi tandingan yang utuh.
Kekosongan itulah yang kemudian diisi media dan lembaga riset dari The New York Times, Brookings Institution, Center for Strategic and International Studies, yang secara tidak langsung memperkuat framing tentang ketahanan Iran.
Dampaknya meluas ke opini publik global. Di kawasan Global South, Amerika semakin dipandang dengan kecurigaan, terutama karena tudingan standar ganda dalam konflik internasional. Bahkan di negara-negara Barat, persepsi negatif terhadap Amerika meningkat tajam.
Perang pun berubah menjadi kontestasi moral. Apalagi setelah kritik datang dari otoritas moral dunia, Paus Leo XIV. Paus menyebut perang itu sebagai buah delusion of omnipotence (kepercayaan diri yang sudah lepas dari realitas hingga berubah jadi kesombongan yang berbahaya). Paus Leo XIV pun menyerukan penghentian konflik.
Respons Trump yang menyerang balik Paus justru memperburuk citranya, bahkan memantik kontroversi baru di panggung simbolis global. Akumulasi semua faktor itu berujung pada erosi legitimasi. Popularitas Trump merosot, baik di dalam negeri maupun di mata dunia. Serangan militer yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak, memperdalam luka moral yang sulit dipulihkan hanya dengan klaim kemenangan.
Di sinilah paradoks itu menjadi nyata. Amerika mungkin unggul dalam daya hancur, tetapi tertinggal dalam daya cerita. Bom dijatuhkan, fasilitas dilumpuhkan, tetapi narasi lepas kendali. Sekutu mulai ragu, publik global berbalik arah, dan rakyat domestik mempertanyakan arah kebijakan.
Dalam pengertian itulah, kekalahan tidak selalu datang dari medan tempur. Ia bisa lahir dari kegagalan menguasai persepsi. Dalam perang modern, ketika cerita menjadi pusat gravitasi, kehilangan narasi pun berarti kehilangan separuh kemenangan.