Hari Kedua Blokade AS, Sejumlah Kapal Tanker Tertahan di Selat Hormuz

Sebuah kapal tanker tertahan di Selat Hormuz di tengah blokade maritim AS. (Anadolu Agency)

Hari Kedua Blokade AS, Sejumlah Kapal Tanker Tertahan di Selat Hormuz

Willy Haryono • 15 April 2026 07:12

Teheran: Rekaman video di Selat Hormuz dari wilayah Iran pada Selasa, 14 April 2026, memperlihatkan sejumlah kapal tanker minyak tertahan dan berlabuh.

Dikutip dari Viory, Rabu, 15 April 2026, situasi ini terjadi di hari kedua sejak Amerika Serikat (AS) memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan di jalur sempit ini langsung memicu guncangan pada pasar energi global.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kebijakan blokade tersebut merupakan respons terhadap apa yang ia sebut sebagai sistem “pemerasan” Iran melalui pungutan terhadap kapal-kapal yang melintas.

Blokade Selektif, Ancaman Militer Menguat

Komando Pusat AS (CENTCOM) menjelaskan bahwa operasi ini bersifat selektif, hanya berlaku bagi kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran, dan tidak mencakup pelayaran umum yang melintasi selat menuju tujuan lain.

Namun demikian, Trump mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap kapal angkatan laut Iran yang mendekati area blokade akan “segera dieliminasi”, dengan respons yang disebutnya akan berlangsung “cepat dan brutal."

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz berada dalam yurisdiksi maritimnya. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan seluruh lalu lintas di kawasan tersebut tetap berada di bawah “kendali penuh” angkatan bersenjata Iran.

Teheran juga menegaskan bahwa kapal non-militer tetap dapat melintas, selama mematuhi regulasi yang ditetapkan oleh pihak Iran.

Pasar Mulai Terguncang

Ketegangan ini memicu reaksi internasional. Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyebut langkah blokade AS sebagai tindakan “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” yang berpotensi memperburuk konflik.

Upaya diplomatik sejauh ini masih mengalami kebuntuan setelah perundingan di Islamabad gagal menghasilkan jaminan terkait keamanan jalur pelayaran jangka panjang. Meski demikian, Pakistan mengindikasikan kemungkinan digelarnya putaran negosiasi lanjutan.

Kekhawatiran global pun meningkat, terutama karena belum terbentuknya misi maritim multinasional untuk mengamankan jalur tersebut. Inggris dan Prancis dilaporkan tengah mempertimbangkan pembahasan terkait operasi pertahanan guna memastikan kelancaran pelayaran.

Dampak ekonomi mulai terasa, dengan aliran minyak yang terhambat serta volatilitas harga yang meningkat tajam akibat ketidakpastian berkepanjangan.

Selain sektor energi, lembaga kemanusiaan juga memperingatkan risiko terhadap ketahanan pangan global. Gangguan distribusi pupuk, gandum, dan kargo curah lainnya dikhawatirkan akan mendorong kenaikan harga dan tekanan inflasi di berbagai negara.

Baca juga:  Australia Berkomitmen Penuh Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)