Selat Hormuz jadi perairan penting dalam rute perdagangan minyak. Foto: Anadolu
Australia Berkomitmen Penuh Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka
Dimas Chairullah • 14 April 2026 17:05
Canberra: Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menegaskan bahwa Canberra "sangat berkomitmen" untuk memastikan jalur perairan strategis Selat Hormuz tetap terbuka.
Gangguan pengiriman di kawasan tersebut dinilai telah memicu dampak serius terhadap pasokan bahan bakar global.
Melansir laporan kantor berita Anadolu, Marles menekankan urgensi normalisasi jalur maritim di perairan yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia tersebut.
"Kami sangat berkomitmen untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengembalikan rantai pasokan bahan bakar global ke kondisi normal," kata Marles, seperti dikutip dari siaran Sky News Australia yang dilansir Anadolu, Selasa, 14 April 2026.
"Kita benar-benar perlu melihat dinamika yang terjadi selama sisa masa gencatan senjata dan bagaimana keadaan di Selat Hormuz, yang nantinya akan memungkinkan beberapa upaya untuk dimulai," jelas Marles.
Kendati demikian, Marles memberikan syarat yang tegas. Australia hanya akan menerjunkan kontribusi langsung pada upaya membuka kembali Selat Hormuz jika status gencatan senjata yang saat ini berlaku telah diubah menjadi kesepakatan damai permanen.
Sebagai langkah diplomasi terdekat, laporan Anadolu menyebutkan bahwa Australia akan berpartisipasi dalam pertemuan tingkat tinggi yang diselenggarakan oleh Inggris dan Prancis pada akhir pekan ini. Pertemuan tersebut secara khusus diagendakan untuk merumuskan perlindungan armada pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Krisis maritim ini merupakan imbas dari eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang meletus pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, Iran secara sepihak telah membatasi akses lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati oleh sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Situasi kian memanas setelah perundingan damai antara delegasi AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu gagal menghasilkan terobosan. Padahal, pertemuan tingkat tinggi tersebut digelar di tengah masa gencatan senjata dua minggu yang dimediasi secara langsung oleh pemerintah Pakistan.
Sebagai langkah balasan atas kebuntuan di meja perundingan, AS mengambil keputusan drastis dengan memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM), sebagaimana dilaporkan Anadolu, menyatakan bahwa blokade laut tersebut akan diberlakukan secara imparsial. AS akan menindak dan mencegat seluruh kapal yang mencoba memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran, baik yang berada di wilayah Teluk Arab maupun Teluk Oman.