Hunian subsidi. Foto: Istimewa
Pengembangan Hunian Subsidi Pertimbangkan Harga hingga Lokasi
M Sholahadhin Azhar • 24 September 2026 17:18
Jakarta: Pengembangan hunian subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), terus digencarkan pemerintah. Penambahan jenis hunian ini mempertimbangkan beberapa hal, antara lain harga hingga lokasi.
"Hunian yang terjangkau bagi MBR tidak cukup hanya diukur dari harga rumah. Lokasi, akses terhadap transportasi publik, serta biaya dan waktu perjalanan sehari-hari juga menentukan keterjangkauan yang sesungguhnya," kata Pelaksana Tugas Direktur Utama Perum Perumnas Imelda Alini Pohan, dalam keterangan tertulis, Kamis, 24 September 2026.
Hal tersebut diungkap Imelda, terkait penambahan pasokan hunian subsidi bagi MBR di kawasan perkotaan. Skema dilakukan dengan mengembangkan hunian yang terintegrasi transportasi publik.
Menurut Imelda, Perumnas mendorong penyediaan hunian subsidi lebih dekat dengan pusat aktivitas dan terintegrasi dengan transportasi publik. Hal itu, untuk menekan biaya serta waktu perjalanan masyarakat.
Salah satunya dilakukan melalui pengembangan kawasan Transit-Oriented Development (TOD) bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI), dengan mengintegrasikan kawasan hunian dan sistem transportasi publik.
Pada tiga kawasan TOD, Perumnas mengalokasikan sebanyak 768 unit hunian subsidi bagi MBR, terdiri atas 256 unit di Samesta Mahata Tanjung Barat, 182 unit di Samesta Mahata Margonda, dan 330 unit di Samesta Mahata Serpong.
Perumnas mencatat unit subsidi di kawasan TOD Margonda dan Tanjung Barat telah terserap habis. Untuk memenuhi kebutuhan hunian MBR, perusahaan selanjutnya akan kembali membangun tower hunian subsidi di Samesta Mahata Serpong.
Selain melalui kawasan TOD, Perumnas menyediakan hunian subsidi di sejumlah wilayah, antara lain Samesta Sentraland Cengkareng, Samesta Grand Sentraland Karawang, Samesta Jakabaring Palembang, Proyek Jatim II Pasuruan, dan Proyek Cirebon.

Hunian subsidi. Foto: Istimewa
Perumnas juga mengembangkan Samesta Alonia Jakarta di Kemayoran sebanyak 609 unit sebagai hunian subsidi vertikal. Proyek tersebut ditujukan sebagai alternatif hunian terjangkau bagi MBR yang dekat dengan pusat aktivitas di tengah keterbatasan lahan Jakarta.
"Perumnas ingin agar MBR tidak selalu dihadapkan pada pilihan antara rumah yang terjangkau tetapi jauh dari pusat aktivitas, atau lokasi yang strategis tetapi tidak terjangkau," kata Imelda.
Menurut dia, pengembangan TOD serta hunian subsidi vertikal maupun tapak menjadi bagian dari upaya menyediakan alternatif tempat tinggal yang lebih dekat, terkoneksi, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.
Pengembangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan Perumnas terhadap Program 3 Juta Rumah melalui penyediaan hunian subsidi bagi MBR yang terjangkau dan memiliki akses terhadap pusat aktivitas perkotaan.