Alasan Trump Sangat Ambisius untuk Mengakuisisi Greenland

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di World Economic Forum. Foto: YouTube WEF

Alasan Trump Sangat Ambisius untuk Mengakuisisi Greenland

Fajar Nugraha • 23 January 2026 06:29

Davos: Ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland menjadi isu sentral dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss. Trump menegaskan bahwa penguasaan atas wilayah otonom milik Denmark tersebut merupakan hal krusial bagi keamanan nasional AS dan stabilitas global.

Trump bahkan mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 10 hingga 25 persen bagi sejumlah negara Eropa jika mereka tidak mendukung rencana akuisisi ini. Ketertarikan Washington terhadap pulau terbesar di dunia tersebut didasari oleh berbagai faktor strategis yang mencakup aspek geografis, militer, dan kekayaan sumber daya alam.

1. Posisi Geografis yang Strategis

Secara geografis, Greenland merupakan bagian dari Amerika Utara yang terletak di antara Samudra Arktik dan Atlantik. Sebanyak 80 persen wilayahnya tertutup lapisan es, sehingga mayoritas penduduk menetap di wilayah pesisir. Kedekatannya dengan Kanada, hanya berjarak 26 km di titik tersempit, menjadikan Greenland sebagai benteng pertahanan alami bagi daratan Amerika Serikat.

2. Jalur Pelayaran Arktik yang Baru

Mencairnya lapisan es kutub telah membuka jalur pelayaran baru yang lebih efisien. Jalur Laut Utara (Northern Sea Route) dan Lintasan Barat Laut (Northwest Passage) berpotensi memangkas waktu tempuh pelayaran antara Asia Timur dan Eropa hingga 10-15 hari dibandingkan melalui Terusan Suez atau Panama. Penguasaan atas Greenland akan memberikan kendali signifikan terhadap lalu lintas maritim masa depan ini.

3. Pangkalan Militer dan Pertahanan Rudal

AS telah lama memiliki kehadiran militer di Greenland melalui Pangkalan Luar Angkasa Pituffik. Pangkalan ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini rudal balistik, pertahanan rudal, dan pengawasan ruang angkasa. Secara strategis, posisi ini sangat vital untuk memantau dan menahan aktivitas militer Rusia di kawasan Arktik.

4. Persaingan dengan Rusia dan Tiongkok

Rusia terus memperkuat jejak militernya di Arktik dengan mengaktifkan kembali pangkalan era Soviet dan menempatkan sistem pertahanan udara canggih. Sementara itu, Tiongkok telah menyatakan ambisinya membangun Jalur Sutra Polar melalui investasi besar-besaran di sektor pertambangan dan energi LNG di kawasan tersebut. AS memandang kepemilikan Greenland sebagai langkah perlu untuk membendung pengaruh kedua rival global tersebut.

5. Kekayaan Sumber Daya Alam dan Mineral Langka

Greenland menyimpan cadangan mineral yang luar biasa, termasuk seng, timbal, emas, besi, tembaga, dan minyak bumi. Secara khusus, pulau ini memiliki deposit logam tanah jarang (rare earth elements) terbesar di dunia yang sangat dibutuhkan untuk industri teknologi tinggi dan transisi energi. Saat ini, beberapa perusahaan China telah mulai menanamkan investasi pada proyek penambangan bahan-bahan strategis tersebut di Greenland.

6. Sejarah Hubungan AS-Greenland

Hubungan militer AS dan Greenland telah terjalin sejak Perang Dunia II pada 1941, ketika AS diizinkan mempertahankan wilayah tersebut dari ancaman kapal selam Jerman. Meskipun Greenland mendapatkan status pemerintahan mandiri dari Denmark pada 1979 dan kontrol penuh atas sumber daya alam pada 2009, Denmark tetap memegang kendali atas kebijakan luar negeri, pertahanan, dan pendanaan wilayah tersebut.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)