Petani di Berau Bertahan di Tengah Kemarau dan Ancaman Karhutla

Salah seorang petani cabai di Berau, Heni. (Metro TV/ Edi Akbar)

Petani di Berau Bertahan di Tengah Kemarau dan Ancaman Karhutla

Metro TV • 18 September 2026 07:02

Berau: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas dan kehidupan masyarakat. Di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ancaman itu dirasakan langsung warga Kampung Sei Bebanir Bangun, Kecamatan Sambaliung.

Heni, salah seorang petani, masih mengingat kepanikan saat api mendekati kebun sayur dan tanaman cabainya beberapa waktu lalu. Bersama suami dan anaknya, ia berusaha mencegah api masuk ke area kebun dengan peralatan seadanya, sembari menunggu tim Satgas Karhutla tiba di lokasi.

“Panik saat api muncul di dekat lahan perkebunan kami. Anak saya sampai lari-lari membawa alat penyemprotan air sederhana,” kata petani cabai, Heni, di Berau, Jumat, 18 September 2026.


Ancaman api bukan satu-satunya persoalan. Kemarau panjang yang berlangsung sejak Juli 2026 juga membuat sejumlah tanaman seperti cabai, tomat, dan sayuran mengalami kerusakan. Kondisi tersebut diperparah oleh cuaca panas dan kabut asap akibat karhutla.

Heni mengaku kondisi itu berdampak langsung terhadap hasil kebunnya. Produksi yang biasanya menjadi sumber pendapatan keluarga turun hingga sekitar 60 persen selama kemarau dan karhutla.


Kondisi kebakaran hutan dan lahan di Berau, Kalimantan Timur. (Metro TV/ Edi Akbar)


Meski begitu, Heni bersama suami dan anaknya tetap bertahan mengelola kebun. Tanaman yang masih mampu tumbuh dirawat semaksimal mungkin agar tetap bisa dipanen dan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi Heni, bertahan di tengah kemarau dan ancaman karhutla bukan pilihan mudah. Setiap hari, ia harus tetap bekerja sekaligus waspada jika api kembali mendekati lahan.

“Kami ini masih cemas dan selalu siaga,” ucap Heni.

Ia hanya berharap hujan segera turun dan kemarau berakhir. Dengan begitu, ancaman karhutla yang selama ini menghantui warga Sei Bebanir Bangun dapat segera usai. (Edi Akbar)

(Silvana Febiari)