Dinkes Kaltim Waspadai Potensi Lonjakan Kasus Diare Selama Kemarau Panjang

Penyaluran air bersih. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/agr

Dinkes Kaltim Waspadai Potensi Lonjakan Kasus Diare Selama Kemarau Panjang

Silvana Febiari • 15 September 2026 14:17

Samarinda: Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi lonjakan kasus diare. Imbauan ini disampaikan seiring terbatasnya ketersediaan air bersih pada musim kemarau panjang saat ini.

"Kondisi kemarau dan keterbatasan air bersih berpotensi memicu penurunan sanitasi serta meningkatkan risiko penularan diare," kata Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin di Samarinda, dilansir dari Antara, Selasa, 15 September 2026.

Musim kekeringan yang melanda berbagai wilayah, termasuk di Kabupaten Penajam Paser Utara, Paser, hingga Mahakam Ulu menyebabkan pasokan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dan sanitasi warga menyusut. Keterbatasan air bersih tersebut kerap membuat kebersihan peralatan makan, bahan pangan, serta perilaku cuci tangan menjadi terabaikan sebagian warga.


"Diare bukan sekadar gangguan pencernaan biasa karena tanpa penanganan tepat dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan secara drastis hingga berujung dehidrasi berat," ujar Jaya.

Kelompok balita dan anak-anak merupakan pihak yang paling rentan menghadapi bahaya komplikasi dehidrasi akibat serangan penyakit pencernaan tersebut. Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi benteng pertahanan utama dalam mengelola konsumsi air dan kebersihan lingkungan tempat tinggal.

"Masyarakat wajib memastikan air minum direbus hingga mendidih sempurna serta selalu mencuci tangan memakai sabun di bawah air mengalir," tutur Jaya.  

Pertolongan pertama saat anggota keluarga terserang diare difokuskan pada penggantian cairan tubuh melalui pemberian minum ekstra dan larutan oralit. Tanda bahaya dehidrasi yang harus diwaspadai sejak dini mencakup rasa haus ekstrem, bibir kering, jarang buang air kecil, lemas, hingga mata cekung.

"Jika pasien mengalami gejala dehidrasi berat, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar memperoleh penanganan medis secepatnya," jelas Jaya.


Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin saat diwawancarai di Samarinda, Selasa, 15 September 2026. ANTARA/Ahmad Rifandi


Sebanyak 188 puskesmas dan puluhan rumah sakit di seluruh kabupaten dan kota se-Kaltim disiagakan untuk memantau perkembangan kasus penyakit sensitif iklim. Dinas Kesehatan Kaltim juga menguatkan ketersediaan logistik obat pencernaan serta vitamin bagi masyarakat di wilayah terdampak kekeringan.

"Kesadaran dan kedisiplinan warga menjaga kebersihan diri serta lingkungan sangat menentukan keberhasilan kita mencegah penularan penyakit selama kemarau," tegas Jaya.

(Silvana Febiari)