Strategi Pemda Mitigasi Kekeringan yang Dialami Warga Kubu Raya

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstri, BPBD Kubu Raya, Syarif Usmardan. Metrotvnews.com/Marup

Strategi Pemda Mitigasi Kekeringan yang Dialami Warga Kubu Raya

Muhamad Marup • 8 September 2026 23:18

Jakarta: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubu Raya, Kalimantan Barat, melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan. Salah satunya, pemerintah daerah (pemda) mendistribusikan air menggunakan mobil tangki ke sejumlah lokasi yang mengalami kesulitan air.

"Beberapa tempat kita sudah membagikan air tangki dari kita. Itu setiap hari rata-rata enam tangki, kita support masyarakat yang beberapa lokasi memang kesulitan air," kata Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, BPBD Kubu Raya, Syarif Usmardan, kepada Metrotvnews.com, Selasa, 8 September 2026.

Dia menyebut kondisi kekeringan juga berdampak pada kualitas air yang digunakan masyarakat. Surutnya Sungai Kapuas menyebabkan intrusi air laut masuk hingga ke wilayah hulu dan memengaruhi sumber air baku.

Syarif menambahkan air dari sumber tersebut hanya dapat digunakan untuk kebutuhan mandi dan toilet. Bahkan, sebagian masyarakat mulai enggan menggunakan air tersebut karena kualitasnya yang semakin menurun.

"Tahun kemarin masih bisa dimurnikan. Tapi sekarang untuk mandi saja mereka kadang-kadang sudah tidak mau," jelas Syarif.


Ilustrasi air bersih. Foto: Pexels.com/Safari Consoler.

Kondisi kekurangan air bersih tersebut telah dirasakan masyarakat selama kurang lebih dua pekan, sejak pemerintah daerah menetapkan status darurat kekeringan akibat cuaca ekstrem. BPBD memprioritaskan distribusi air ke kawasan permukiman yang memiliki kepadatan penduduk tinggi.

Dia mengatakan persoalan yang paling mendesak saat ini adalah memastikan ketersediaan air untuk konsumsi. Sejumlah depot air minum berhenti beroperasi akibat terbatasnya pasokan air baku, sementara kebutuhan masyarakat justru meningkat.

"Intinya kita ingin menyelesaikan masalah yang krusial dulu karena akibat kekeringan ini mungkin mandi dan cuci mungkin itu biasa. Tapi kalau minum, kalau tidak kita tangani ini implikasinya akan jauh. Karena itu masuk ke dalam tubuh," tutur Syarif.

Dia menyebut pemerintah daerah telah menemukan enam titik sumber air yang berpotensi digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Dari enam titik tersebut, dua di antaranya dinyatakan memenuhi standar untuk dikonsumsi setelah melalui proses sederhana berupa pemasakan.

"Kita akan kumpulkan juga asosiasi transport tangki, kemudian kita akan kumpulkan juga asosiasi pemain depot, galon. Tiga hal ini menjadi pasok rantai yang paling penting dalam mengatasi tidak terjadinya kepanikan masyarakat dalam kebutuhan air," ucap Syarif.

Di samping itu, dia menjelaskan kelangkaan air bersih berpotensi meningkatkan jumlah penyakit. Salah satunya diare.

"Kasus diare yang terjadi di usia anak-anak dan orang tua kasusnya meningkat sejak tanggal 7 kemarin. Ada kurang lebih 300 kasus," ujar Syarif.

(Achmad Zulfikar Fazli)