TNI AL memadamkan api yang membakar wilayah Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau pada Ahad, 23 Agustus 2026. ANTARA/HO-Lanal Ranai
El Nino di Natuna Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027
Silvana Febiari • 25 August 2026 09:39
Natuna: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Natuna, Provinsi Kepulauan Riau memprakirakan fenomena El Nino akan berlangsung hingga awal 2027. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kekeringan dan meningkatkan risiko Kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Natuna, Rafael Alesandro mengatakan kekeringan terjadi akibat penurunan curah hujan. Semua pihak perlu memberikan perhatian serius terhadap fenomena tersebut.
"Kami BMKG memprediksikan bahwa kondisi El Nino sangat kuat, diprakirakan masih bertahan dari Agustus hingga awal 2027. Artinya, ini perlu menjadi bahan monitor kita bersama," ucap Rafel, dilansir dari Antara, Selasa, 25 Agustus 2026.
Baca Juga :
Kualitas Udara Natuna Masuk Kategori Waspada
Selama belasan hari sepanjang Agustus, beberapa kecamatan di Natuna mengalami pengurangan curah hujan. Kondisi ini mengakibatkan pasokan air berkurang bahkan telah terjadi karhutla di beberapa titik.
"Kita juga menemukan beberapa titik panas dari aplikasi pada hari ini," katanya.
Pemkab Natuna telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi kondisi tersebut. Pada awal Agustus 2026, Bupati Natuna Cen Sui Lan telah menerbitkan Surat Edaran tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Kekeringan dan Karhutla.
Dalam edaran itu, Natuna mengaktifkan semua pihak untuk mengawasi, mencegah, hingga menangi secara bersama potensi-potensi yang bakal terjadi. "Untuk mengatasi kekeringan kita sudah mengerahkan Perumda Air Minum untuk mendistribusikan air secara gratis ke warga yang terdampak menggunakan mobil tanki," ujarnya.

Petugas saat memadamkan api di Tanjung Saguk, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau pada Ahad, 23 Agustus 2026 ANTARA/HO-Disdamkarmat Natuna
Pada Senin pagi, dia bersama para pemangku kepentingan juga melaksanakan rapat untuk menyikapi hal itu. Dalam pertemuan tersebut, disepakati beberapa langkah untuk mengantisipasi potensi kekeringan dan karhutla.
Langkah tersebut meliputi pemanfaatan air di Bukit Berangin untuk operasi pemadaman karhutla, penyiapan air baku dari Embung Sebayar untuk kebutuhan sehari-hari warga, kecuali untuk konsumsi, serta pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla.
Pemkab Natuna akan mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Pihaknya juga akan menerbitkan surat edaran yang mewajibkan petani menyediakan pompa pemadam sebagai langkah antisipasi jika terjadi kebakaran di lahan masing-masing.
"Kita juga akan bersurat kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatra untuk meminta dukungan berupa sumur bor yang dapat digunakan sebagai sumber air dalam operasi pemadaman di wilayah rawan," ungkapnya.