Iran Tutup Selat Hormuz, Pakar Sebut Ekonomi Global Sedang Disandera

IRGC siap untuk tembak yang melintasi Selat Hormuz. Foto: Anadolu

Iran Tutup Selat Hormuz, Pakar Sebut Ekonomi Global Sedang Disandera

Fajar Nugraha • 3 March 2026 09:13

Jakarta: Langkah strategis Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang menutup Selat Hormuz di tengah gempuran militer AS-Israel dinilai sebagai langkah defensif paling ekstrem.

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), Yon Mahmudi Ismail, menyebut tindakan ini sebagai upaya Iran untuk menyandera ekonomi dunia guna menekan komunitas internasional agar segera bertindak meredakan agresi aliansi Barat.

Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan energi global yang sangat krusial. Hampir 20 persen kebutuhan minyak dan gas dunia melintasi jalur sempit ini setiap harinya. Penutupan jalur ini secara otomatis akan mengguncang stabilitas pasar energi dan memicu krisis global yang sangat besar.

Ismail menjelaskan bahwa langkah ini adalah senjata terakhir yang dimiliki Teheran saat ini.

"Ini kan sebagai senjata satu-satunya terakhir yang dimiliki oleh Iran, tidak ada pilihan lain untuk menekan publik internasional, agar kemudian bisa menekan kepada negara-negara yang terlibat perang terutama Amerika dan Israel," jelas Yon dalam Program Breaking News Metro TV.

Secara teknis, penutupan ini dilakukan dengan ancaman serangan langsung terhadap kapal-kapal tanker yang mencoba melintas. Ismail menganalogikan situasi ini sebagai aksi penyanderaan ekonomi berskala besar. Ratusan kapal kargo dan tanker kini berada dalam posisi terancam jika memaksakan diri melewati wilayah kedaulatan Iran tersebut.

Dampak dari penutupan ini tidak hanya dirasakan oleh Amerika Serikat, tetapi akan menimpa seluruh sistem ekonomi dunia tanpa terkecuali. Ismail memprediksi perdagangan internasional akan terhenti jika serangan Amerika Serikat terus berlanjut dalam durasi yang lama.

"Ini kan ibarat seperti disandera, jadi kapal-kapal yang ratusan itu akan keluar, kemudian diancam ketika melalui Hormuz akan ditembak. Jika Amerika terus melakukan serangan dalam waktu yang lama, pasti perdagangan akan terhenti," ungkap Yon.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)