Penjelasan BMKG Soal Suara Dentuman di Bandung

Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. Foto: Antara.

Penjelasan BMKG Soal Suara Dentuman di Bandung

Muhammad Adyatma Damardjati • 5 September 2026 13:15

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan suara dentuman di wilayah Bandung Raya tidak berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau. Secara ilmu meteorologi, rambatan gelombang suara dari kawasan Selat Sunda tersebut tak memungkinkan mencapai wilayah Cekungan Bandung akibat terhalang arah hembusan angin.

"Kondisi anginnya sendiri ini relatif cukup kencang. Arah pergerakan dari ketinggian 1,5 hingga 3 kilometer itu masih konsisten dari tenggara, sehingga pergerakannya itu mengarah ke arah barat," ujar Ahli Meteorologi BMKG, Mujahidin, dalam konferensi pers, Sabtu, 5 September 2026.

Dia mencatat kecepatan angin pasat tenggara pada jam kejadian berada di kisaran 40 hingga 58 kilometer per jam. Dengan begitu, hembusan udara yang bergerak kuat dari arah timur menuju barat tersebut secara otomatis membawa material letusan maupun rambatan suara menjauhi kawasan daratan Jawa Barat.

Senada, Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi, menambahkan bahwa secara ilmu fisika, fenomena suara dentuman yang berasal dari aktivitas vulkanik tidak mungkin terdengar jika melihat arah hembusan angin.

"Secara fisika, dentuman tersebut kalau memang berasal dari vulkanik, tidak memungkinkan untuk didengar oleh masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya karena terbawa oleh angin ke arah barat," kata Suaidi.

Analisis tersebut turut diperkuat oleh nihilnya laporan dari kawasan pesisir yang secara geografis berada pada radius terdekat dengan pusat erupsi. Menurut Suaidi, daerah yang berada di sekitar Selat Sunda justru mencatatkan kondisi tenang tanpa adanya laporan suara gemuruh.

"Dentuman tersebut hanya terdengar di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya. Tidak terdengar di Jakarta, Kota Bogor, maupun Banten dan sekitarnya. Ini yang menjadi fenomena yang sangat menarik," kata Suaidi.


Ilustrasi langit. Foto: Pexel. 

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menilai bahwa fenomena perambatan suara erupsi hingga jarak jauh seperti ini bukan hal yang tidak mungkin dalam peristiwa vulkanik. Peristiwa serupa pernah terjadi pada erupsi Gunung Kelud tahun 2014 dan Gunung Anak Krakatau pada 2020 yang dentumannya terdengar hingga daerah lain.

Adapun aktivitas Gunung Anak Krakatau terpantau sejak Jumat, 4 September hingga Sabtu dini hari, 5 September 2026. Secara visual, semburan erupsi berwarna merah menyala juga terlihat terus-menerus.

(Gabriella Thesa Widiari)