Ilustrasi produksi obat derivat plasma (PODP). (ANTARA/HO-Takeda)
Kemenkes Gandeng Swasta Bangun Ekosistem Obat Derivat Plasma
Achmad Zulfikar Fazli • 13 July 2026 09:38
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggandeng perusahaan biofarmasi global Takeda membangun ekosistem produk obat derivat plasma (PODP) atau obat yang dibuat dari plasma darah, di Indonesia untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional dan memperluas akses masyarakat terhadap terapi berbasis plasma. Investasi tahap awal mencapai USD30 juta (sekitar Rp539 miliar).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan inisiatif ini mencerminkan komitmen Pemerintah Indonesia membangun industri strategis di sektor kesehatan. Hal ini juga untuk memastikan masyarakat memiliki akses lebih baik terhadap pengobatan penting dan inovatif.
"Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan," kata Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan tertulis, dilansir dari Antara, Senin, 13 Juli 2026.
Penetapan Takeda sebagai industri farmasi yang menyelenggarakan fraksionasi atau pemisahan plasma, memungkinkan perusahaan mengumpulkan plasma dan proses fraksionasi bertahap sebagai bagian dari pembangunan ekosistem industri plasma nasional. Langkah itu diharapkan memperkuat ketersediaan produk obat derivat plasma di dalam negeri dan mendukung pengembangan industri biofarmasi nasional.
%20Budi%20Gunadi%20Sadikin_%20ANTARA%20FOTO_Rivan%20Awal%20Lingga.jpg)
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Kemitraan tersebut juga melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Program itu menjadi inisiatif pertama di Asia Tenggara yang berfokus pada pembangunan sistem pengumpulan plasma berkualitas tinggi secara berkelanjutan dan pengembangan manufaktur produk obat derivat plasma dalam skala besar.
Pada tahap awal, Takeda menginvestasikan hingga USD30 juta (sekitar Rp539 miliar) dalam jangka waktu dua tahun untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia. Hasil tahap pengembangan awal tersebut akan menjadi dasar evaluasi bersama Kementerian Kesehatan terhadap kelayakan model operasional sebelum dikembangkan menjadi jaringan bank plasma nasional.
Pengembangan jaringan tersebut juga diharapkan membuka peluang kerja baru bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium, serta mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan transfer pengetahuan.
President Plasma-Derived Therapies Takeda Ramy Riad mengaku senang dapat memperluas kerja sama dengan Indonesia. Pihaknya telah menghadirkan PODP pertama di Indonesia pada awal tahun ini hingga investasi dalam infrastruktur industri plasma dari hulu ke hilir.
"Kami berharap pengalaman global Takeda dapat mendukung tujuan jangka panjang Indonesia dalam meningkatkan layanan kesehatan, menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi, dan memperkuat ketersediaan layanan dan pengobatan yang menyelamatkan serta menopang kehidupan pasien," ujar Ramy Riad.
Selain membangun jaringan bank plasma, Takeda akan mengkaji potensi pembangunan fasilitas manufaktur produk obat derivat plasma berteknologi tinggi di Indonesia untuk mendukung kebutuhan dalam negeri maupun pasar global. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kesehatan dan manufaktur obat.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P Roeslani mengatakan investasi tersebut tidak hanya menghadirkan modal baru. Tetapi, membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penciptaan lapangan kerja.
"Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem kesehatan Indonesia, tetapi juga mendukung visi kami untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju," kata Rosan.
Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 sebagai bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda.
Selama fasilitas fraksionasi plasma di Indonesia masih tahap pengkajian, plasma yang dikumpulkan akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda dengan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan Indonesia terhadap produk obat derivat plasma sesuai ketentuan perundang-undangan.