Sejarah Stasiun Kereta Tanjung Priok, Penghubung Jalur Kereta di Batavia

Foto: 168Railway

Sejarah Stasiun Kereta Tanjung Priok, Penghubung Jalur Kereta di Batavia

Riza Aslam Khaeron • 24 September 2026 18:02

Jakarta: Stasiun Tanjung Priok menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menyimpan jejak perkembangan Jakarta sejak masa kolonial Belanda.

Bangunan yang berada di kawasan Jakarta Utara ini bukan hanya menjadi tempat naik dan turunnya penumpang kereta, melainkan juga memiliki peran penting dalam menghubungkan pelabuhan modern dengan pusat kota Batavia dan daerah pedalaman Pulau Jawa.

Dilansir dari akun Instagram DKI Jakarta (@dkijakarta), pembangunan Stasiun Tanjung Priok berkaitan erat dengan perkembangan Pelabuhan Tanjung Priok yang kemudian menjadi pusat perdagangan dan logistik di Batavia.


Stasiun Tanjung Priok masa lampau. (Instagram/@dkiijakarta)

Pemerintah kolonial Belanda mulai membangun Pelabuhan Tanjung Priok sekitar tahun 1877. Pembangunan ini dilakukan karena Pelabuhan Sunda Kelapa, yang selama bertahun-tahun menjadi pelabuhan utama Batavia, sudah tidak lagi mampu menampung aktivitas perdagangan yang terus meningkat.

Pada awalnya, Tanjung Priok merupakan kawasan pesisir kecil di utara Batavia. Seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi pelabuhan penting pada akhir abad ke-19 yang melayani aktivitas ekspor dan impor dari berbagai wilayah.

Pada tahun 1906, kawasan Tanjung Priok mulai berkembang sebagai simpul penting transportasi dan perdagangan di Batavia. Pemerintah kolonial Belanda membangun stasiun kereta api sebagai bagian dari infrastruktur yang mendukung operasional pelabuhan modern.

Kemudian, pada tahun 1910, Tanjung Priok semakin berkembang sebagai pelabuhan modern yang menggantikan peran Pelabuhan Sunda Kelapa. Saat itu, kawasan Tanjung Priok masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda dan menjadi bagian dari Batavia.

Pada tahun 1914, pembangunan gedung utama stasiun dimulai, kemudian diresmikan pada tahun 1925. Pada tahun 1993, Stasiun Tanjung Priok ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya oleh Gubernur DKI Jakarta, Soerjadi Soedirdja.
 


Pembangunan stasiun ini bertujuan untuk menghubungkan pelabuhan dengan pusat kota Batavia dan daerah pedalaman. Jalur kereta api mempermudah pengangkutan barang, terutama hasil bumi dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, menuju Pelabuhan Tanjung Priok untuk didistribusikan lebih lanjut.

Saat ini, Stasiun Kereta Tanjung Priok melayani perjalanan KRL Commuter Line rute Tanjung Priok–Jakarta Kota yang terhubung melalui lintas Ancol dan Stasiun JIS, serta rute menuju Kampung Bandan.

Selain melayani rute KRL, Stasiun Tanjung Priok juga melayani angkutan kereta api barang yang mengangkut logistik peti kemas atau kontainer yang terintegrasi langsung dengan kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.

Hingga kini, Stasiun Tanjung Priok masih berdiri sebagai saksi sejarah perkembangan Jakarta, sekaligus mengingatkan bahwa kawasan utara Batavia pernah menjadi pintu gerbang utama aktivitas perdagangan dan transportasi pada masa kolonial.

(Siti Nahdia Usman)

(Riza Aslam Khaeron)