Trump Klaim Houthi Tak Akan Serang AS, Sebut Washington Terus Berkomunikasi

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

Trump Klaim Houthi Tak Akan Serang AS, Sebut Washington Terus Berkomunikasi

Muhammad Reyhansyah • 21 September 2026 09:12

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kelompok Houthi di Yaman telah sepakat untuk tidak menyerang Amerika Serikat.

Trump juga mengklaim Washington terus berkomunikasi dengan kelompok tersebut meski Houthi belakangan meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi. Pernyataan itu sejalan dengan laporan media mengenai komunikasi AS dengan Houthi.

Menurut laporan Fox News, saat melakukan kunjungan ke Irlandia pada 12 September, Trump mengatakan AS terus menjalin komunikasi dengan Houthi. Ia juga mengklaim kelompok tersebut telah sepakat untuk tidak memerangi AS.

Trump sebelumnya juga pernah mengatakan Houthi menahan diri untuk tidak menyerang pasukan AS di kawasan. “Houthi menghubungi kami, dan mereka tidak ingin berperang dengan kami,” kata Trump, dikutip dari TRT World, Senin, 21 September 2026.

“Mereka tidak ingin kami menyerang mereka,” lanjutnya.

Pernyataan terbaru Trump disampaikan ketika Arab Saudi menghadapi serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Houthi. Pada Sabtu, sebuah rudal dilaporkan menargetkan ibu kota Saudi, Riyadh.

Trump Singgung Perang Iran

Dalam kesempatan tersebut, Trump juga mengatakan dirinya memasuki tahap penting dalam menentukan langkah terkait perang yang sedang berlangsung dengan Iran.

Trump memperingatkan akan ada perkembangan besar jika Teheran tidak mengubah kebijakannya. “Pertanyaan saya adalah, jika dan kapan saya akan menghancurkan seluruh negara itu? Mereka sebaiknya bersikap baik,” kata Trump kepada Fox News.

Trump mengatakan AS memiliki sejumlah pilihan, termasuk menghancurkan Iran, membiarkan perekonomiannya “membusuk," atau bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan.

Ia menambahkan bahwa “hal-hal yang sangat besar akan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama."

Terkait Sidang Majelis Umum PBB di New York yang dimulai pekan ini, Trump mengatakan dirinya kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Teheran maupun Pezeshkian belum memberikan tanggapan langsung terhadap pernyataan Trump mengenai kemungkinan pertemuan tersebut.

Ketegangan Timur Tengah Meningkat

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada Februari. Teheran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan.

Pakistan kemudian berperan sebagai mediator dan membantu Washington serta Teheran mencapai kesepakatan pada Juni untuk mengakhiri permusuhan.

Namun, kesepakatan tersebut kemudian mengalami hambatan akibat perbedaan kedua negara terkait Selat Hormuz.

Yaman sendiri telah dilanda konflik sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Kondisi tersebut mendorong koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional.

Pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah kembali meningkat setelah gencatan senjata selama empat tahun runtuh pada Juli, beberapa bulan setelah perang antara AS dan Iran dimulai.

Dalam beberapa hari terakhir, ratusan orang dilaporkan tewas dalam bentrokan di sekitar Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk jalur pelayaran penting di Laut Merah.

Houthi juga memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi pada Juli di Laut Merah. Kelompok tersebut menyebut langkah itu sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai pengepungan Saudi terhadap Yaman, tuduhan yang dibantah Riyadh.

Baca juga: Arab Saudi Cegat Rudal Balistik Houthi yang Mengarah ke Riyadh

(Willy Haryono)