Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. MI/Insi Nantika Jelita
Purbaya Sebut AIIB akan Buka Kantor Perwakilan di Indonesia
Eko Nordiansyah • 27 June 2026 10:25
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) berencana membuka kantor perwakilan di Indonesia. Kemenkeu akan menyiapkan lahan dan bangunan untuk kantor AIIB.
Komitmen itu merupakan salah satu hasil kunjungan kerja Purbaya ke Tiongkok pada 16-19 Juni 2026. Dalam lawatannya, pemerintah juga memperoleh komitmen pembiayaan proyek senilai 17 miliar dolar AS dari AIIB.
"AIIB juga ingin buka kantor cabang di Indonesia. Kalau saya hitung-hitung kan kalau dikasih pinjaman USD17 miliar, boleh lah kita kasih kantor cabang. Kita janji ke mereka akan sediakan tanah dan bangunan untuk mereka, untuk mereka pakai. Karena saya juga punya aset-aset yang enggak kepakai," kata Purbaya dalam taklimat media di kantornya, Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu, 27 Juni 2026.

(Ilustrasi Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Foto: Dok istimewa)
Pendanaan USD17 miliar bagian dari pembiayaan proyek
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan komitmen pendanaan senilai USD17 miliar tersebut bukan merupakan utang dalam pengertian umum, melainkan pembiayaan proyek (project financing) yang ditujukan untuk mendukung proyek-proyek produktif di Indonesia.Skema pembiayaan bisa dimanfaatkan secara bertahap hingga 2029 sesuai kesiapan proyek-proyek yang diajukan pemerintah.
"Jadi sebenarnya kalau saya bilang, ini seperti orang investasi ke sini, kita ngulangin investasi untuk proyek yang produktif tapi bunganya lebih rendah daripada investor biasa dan barangnya jadi milik kita. Itu available, bisa diambil sampai 2029," ujarnya.
Dalam kunjungannya ke Tiongkok, Purbaya tidak hanya mengamankan komitmen pembiayaan dari AIIB.
Ia juga menggelar sejumlah pertemuan dengan regulator dan investor untuk mematangkan rencana penerbitan surat utang berdenominasi renmibi, Panda Bond.
Ia mengatakan minat investor Tiongkok terhadap Panda Bond jauh lebih tinggi dari perkiraan. Karena itu, pemerintah membuka peluang menaikkan target penerbitan di atas rencana awal sebesar USD1 miliar.