El Nino Picu Karhutla, Pakar Ingatkan Bahaya Pengguna Api saat Pembukaan Lahan

Ilustrasi Pexels

El Nino Picu Karhutla, Pakar Ingatkan Bahaya Pengguna Api saat Pembukaan Lahan

Muhamad Marup • 6 May 2026 17:24

Jakarta: Fenomena El Nino memiliki korelasi kuat dengan meningkatnya risiko kebakaran karena menyebabkan kondisi hutan menjadi lebih kering. Akan tetapi, kondisi kering saja tidak cukup untuk memicu kebakaran hutan.

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, mengatakan, faktor dominan adalah praktik penggunaan api dalam pembukaan lahan oleh masyarakat. Aktivitas tersebut dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tanpa adanya pengendalian.

"Jadi, kaitannya bukan kemudian dengan pengelolaan lahan, tetapi dengan adanya penggunaan api yang sembarangan dalam mengelola lahan," Fiqri, mengutip laman resmi UGM, Rabu, 6 Mei 2026.

Fiqri menilai, kapasitas masyarakat dalam menggunakan api masih menjadi tantangan besar. Menurutnya, banyak praktik pembukaan lahan yang tidak dibarengi oleh pengendalian lahan yang memadai.

Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar (slash and burn) masih umum digunakan karena dianggap sebagai metode yang cepat. Hanya saja eringkali tidak disertai dengan langkah pengamanan pembuatan sekat bakar.

"Yang kemudian tidak diperhatikan umumnya oleh masyarakat itu tidak membuat sekat bakar atau tidak mengisolasi bahan bakar di area tersebut, jadi apinya malah menyebar ke mana-mana," jelasnya.

Dampak luas karhutla

Fiqri mengungkapkan, memperingatkan potensi terulangnya kebakaran besar seperti pada kasus karhutla di tahun 2015. Insiden tersebut berdampak luas terhadap kerusakan hutan, bahkan aktivitas sosial dan ekonomi.

Ia menyebut risiko akan semakin besar terutama pada wilayah hutan yang memiliki tanah gambut yang lebih rentan terbakar hingga ke lapisan bawah tanah. Hal ini dapat berpotensi menimbulkan kabut asap dalam jangka waktu yang lumayan panjang.

"Yang terburuk adalah kondisi karhutla kembali seperti tahun 2015, karena deforestasinya cukup tinggi. Akibatnya nanti akan terjadi kabut asap lagi dalam jangka waktu yang lama dan itu berdampak pada aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, aktivitas penerbangan, serta kesehatan masyarakat,” terangnya.

Ilustrasi Pexels

Langkah konkret pencegahan

Dalam menghadapi berbagai potensi tersebut, Fiqri menilai pemerintah sudah mulai melakukan pendekatan yang mengarah pada pencegahan melalui sistem peringatan dini (early warning system) secara terstruktur. Prediksi dari BMKG dinilai menjadi pintu awal untuk menekan risiko sejak sebelum kebakaran terjadi, bukan sekadar merespons saat bencana berlangsung. 

"Adapun peringatan dini tersebut harus diikuti dengan langkah konkret di lapangan, terutama dengan membatasi penggunaan api dalam pengelolaan lahan dan mendorong alternatif pembukaan lahan tanpa bakar," katanya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa upaya pencegahan juga perlu diperkuat dengan dilakukan patroli rutin, pemantauan terkait kondisi lahan dan ekosistem gambut, serta peningkatan edukasi kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan agar siap siaga dalam menghadapi risiko karhutla.

"Di tengah peningkatan potensi El Nino, penguatan tata kelola kehutanan berbasis kolaborasi dan pencegahan menjadi kunci utama untuk menekan risiko karhutla di Indonesia,” tuturnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)