Warisan Pemikiran Tjokroaminoto Dinilai Tetap Penting bagi Masa Depan Bangsa

Ilustrasi persatuan masyarakat Indonesia. Foto: Istimewa

Warisan Pemikiran Tjokroaminoto Dinilai Tetap Penting bagi Masa Depan Bangsa

Deny Irwanto • 20 June 2026 07:14

Jakarta: Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat, nilai-nilai persaudaraan, persatuan, dan keadilan sosial dinilai tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa. Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI, Muhammad Senanatha, menilai pemikiran Sosialisme Islam yang diwariskan oleh H.O.S. Tjokroaminoto masih relevan untuk menjawab berbagai tantangan sosial yang dihadapi Indonesia saat ini.

"Hari ini, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan komitmen kebangsaan yang kuat. Kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi semata. Kemajuan sejati juga ditentukan oleh kemampuan masyarakatnya menjaga solidaritas, memperkuat persaudaraan, serta merawat persatuan dalam keberagaman," kata Senanatha dalam keterangan pers dikutip, Jumat, 19 Juni 2026.

Menurut Senanatha, Sosialisme Islam yang diperjuangkan Tjokroaminoto berbeda dengan konsep sosialisme yang berkembang di Barat. Gagasan tersebut bertumpu pada ajaran Islam yang menempatkan seluruh manusia dalam kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT, sehingga melahirkan semangat persaudaraan, gotong royong, dan tanggung jawab bersama dalam membangun kehidupan yang adil dan sejahtera.

Dalam pemikiran Tjokroaminoto yang tertuang dalam buku Islam dan Sosialisme, Islam dipandang telah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjunjung tinggi keadilan sosial sejak awal. Nabi Muhammad SAW juga membangun tatanan masyarakat yang menghapus diskriminasi berdasarkan suku, keturunan, maupun status sosial.

Bagi Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI), nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjuangan, tetapi juga harus terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI, Muhammad Senanatha. Dokumentasi/ istimewa.

Senanatha menjelaskan sebagai organisasi yang lahir dari rahim perjuangan Syarikat Islam, SEMMI memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan mengembangkan nilai persamaan, persaudaraan, dan persatuan di tengah masyarakat yang semakin beragam dan dinamis.

Menurutnya kaderisasi menjadi instrumen penting dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga kesadaran sosial yang tinggi.

"Oleh karena itu, kaderisasi yang dilakukan SEMMI harus mampu melahirkan generasi muda yang berilmu, berintegritas, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Kader SEMMI harus hadir sebagai pelopor perubahan yang memperjuangkan keadilan sosial, mempererat persaudaraan, dan menjaga keutuhan bangsa di tengah berbagai tantangan zaman," ungkapnya.

Ia menambahkan nilai-nilai Sosialisme Islam yang diwariskan Tjokroaminoto dapat menjadi jawaban atas berbagai persoalan kontemporer, termasuk polarisasi sosial dan kesenjangan ekonomi yang masih terjadi di berbagai daerah.

Ketika masyarakat semakin terfragmentasi oleh berbagai kepentingan kelompok, semangat persamaan dan persaudaraan dinilai mampu menjadi perekat yang menjaga kohesi nasional. Sementara dalam menghadapi ketimpangan ekonomi, prinsip keadilan sosial dalam Islam dapat menjadi landasan pembangunan yang lebih berpihak kepada kepentingan rakyat.

Karena itu, SEMMI mendorong generasi muda untuk kembali menggali pemikiran para pendiri bangsa yang berakar pada nilai-nilai Islam dan keindonesiaan.

"SEMMI meyakini bahwa persamaan, persaudaraan, dan persatuan merupakan modal utama dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut, generasi muda Indonesia akan mampu menghadapi tantangan masa depan sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Senanatha.

Bagi SEMMI, warisan pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan panduan moral yang tetap relevan untuk membangun Indonesia yang maju, adil, dan bermartabat di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.

 

(Deny Irwanto)