Talkshow penguatan toleransi antarumat beragama. Foto: Istimewa
Toleransi Antarumat Dinilai Perlu Penguatan
M Sholahadhin Azhar • 12 February 2026 13:34
Jakarta: Toleransi dalam beragama, dinilai memerlukan penguatan. Terutama, ketika suatu agama bersentuhan dengan kepentingan manusia.
“Agama bagi pribadi mungkin sudah selesai, tapi keberagamaan, bagaimana agama bersentuhan dengan kepentingan manusia lain belum selesai. Kita perlu menyempurnakan sikap toleransi sebagai esensi dari ajaran Islam itu sendiri,” kata pimpinan Pondok Pesantren An-Nadhlah Afifuddin Harissa, dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis, 12 Februari 2026.
Hal tersebut diungkap Afifuddin, dalam talkshow yang digelar Gusdurian Makassar dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Amir Daerah JAI Sulawesi Selatan, Barat, dan Tengah, Ashraf Ahmad Muhiddin, menekankan toleransi memang mesti diperkuat.
“Meskipun sering menghadapi persekusi, Muslim Ahmadiyah secara konsisten memilih jalan damai dan tidak pernah membalas dengan kekerasan, meneladani akhlak Rasulullah SAW,” ujar Ashraf.
Guru Besar UIN Alaudin Makasar Qasim Mathar memberikan catatan kritis mengenai peran lembaga keagamaan. Terutama, dalam menjaga harmoni.

Talkshow penguatan toleransi antarumat beragama. Foto: Istimewa
Dari perspektif non muslim, Ketua Persatuan Umad Budha Indonesia (Permabudi Sulawesi Selatan) Yonggris Lao, memuji inklusivitas Ahmadiyah. Sebab, mampu membawakan rasionalitas dalam beragama dan context-non-confrontative.
Sementara itu, Direktur Oase Intim Christina J. Hutubessy memaparkan pentingnya teologi kemanusiaan. Yakni, sebagai titik temu lintas iman.
“Semua agama memiliki potensi besar untuk menghargai martabat manusia. Tugas kita adalah memperbanyak aktor strategis dan narasi positif untuk melawan intoleransi,” kata Christina.