Insentif Mobil Listrik 2026 Masih Dikaji, Ini Manfaat yang Bisa Didapat

Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com

Insentif Mobil Listrik 2026 Masih Dikaji, Ini Manfaat yang Bisa Didapat

Eko Nordiansyah • 8 February 2026 20:13

Jakarta: Memasuki awal 2026, keberlanjutan insentif mobil listrik mengalami ketidakpastian bagi produsen dan konsumen usai berakhirnya masa berlaku tahun sebelumnya. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa insentif untuk mobil listrik dan hybrid 2026 kini dalam proses pembahasan kembali, mengingat manfaat signifikan yang dapat diperoleh dari program ini.

Dampak penghentian insentif mobil listrik

Sebelumnya, pemerintah telah memberikan insentif impor utuh Completely Built Up (CBU) untuk mobil listrik dari tarif normal 50 persen menjadi nol yang berlaku hingga 31 Desember 2025 lalu. Insentif tersebut meliputi pembebasan bea masuk, keringan  Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN). 

Melansir dari laman IESR, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga sempat menyatakan insentif mobil listrik tidak akan diperpanjang pada 2026 karena pemerintah berencana mengalihkan anggaran tersebut untuk mendukung program mobil nasional. Namun, keputusan tersebut justru menimbulkan berbagai potensi dampak negatif, meliputi:

1. Penurunan penjualan kendaraan listrik

Penghentian insentif berpotensi menekan minat masyarakat membeli mobil listrik.

2. Hambatan industri pendukung

Perkembangan sektor terkait, seperti baterai dan komponen kendaraan listrik bisa terhambat.

3. Perlambatan adopsi kendaraan ramah lingkungan

Tingkat penggunaan kendaraan listrik di masyarakat mungkin lebih lambat meningkat.

4. Pengaruh terhadap konsumsi BBM dan impor minyak

Adopsi kendaraan listrik yang lebih lambat berdampak pada lambatnya pengurangan konsumsi bahan bakar fosil dan impor minyak.

Lebih lanjut, Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development Indef, Abra Talattov, menilai wacana penghentian insentif kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) berisiko menghambat transisi energi sekaligus memperbesar tekanan fiskal negara di tengah ketidakpastian global.

Menurutnya, momentum pertumbuhan EV yang sudah terbentuk perlu dijaga agar Indonesia tidak kembali memperdalam ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM).

Strategi pemerintah menyikapi insentif mobil listrik

Dilansir dari Medcom.id, menjawab ketidakpastian di kalangan produsen dan konsumen, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, menyampaikan bahwa usulan insentif mobil listrik telah diajukan ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan saat ini masih dibahas secara lintas kementerian.

"Sudah bersurat kepada Kemenkeu dalam rangka supaya bisa membantu industri otomotif ini penjualannya juga membaik, (insentif) masih dalam pembahasan," jelasnya.

Lebih lanjut, Setia juga menegaskan insentif untuk kendaraan hybrid berada pada tahap pembahasan yang sama.

"Soal insentif ditunggu saja. Mudah-mudahan segera ada jawabannya," ungkapnya. 

Di sisi lain, Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan bahwa skema insentif otomotif 2026 yang diusulkan mempertimbangkan segmen kendaraan, jenis teknologi, tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta jenis baterai.

Ia menambahkan, mobil listrik dengan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) kemungkinan akan mendapatkan insentif lebih kecil dibandingkan kendaraan listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel.

Manfaat adanya insentif mobil listrik 2026

Berikut sejumlah manfaat yang didapatkan dari kebijakan insentif mobil listrik 2026, dilansir dari Auto2000:

1. Harga pembelian lebih terjangkau

Diskon pajak dan pembebasan bea masuk membuat harga mobil listrik menjadi lebih kompetitif dibanding sebelumnya.

2. Ramah lingkungan

Dengan lebih banyak kendaraan listrik di jalan, emisi karbon dapat ditekan dan kualitas udara di kota?kota besar membaik.

3. Efisiensi biaya operasional

Biaya pengisian listrik dan perawatan kendaraan listrik umumnya lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar fosil.

4. Mendorong inovasi teknologi otomotif

Permintaan yang meningkat akan memacu produsen untuk mengembangkan teknologi baterai, sistem pengisian daya, dan fitur kendaraan yang lebih canggih.

Kontribusi terhadap ketahanan energi nasional: Peralihan ke kendaraan listrik membantu mengurangi ketergantungan pada impor BBM sekaligus memanfaatkan sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, dan hidro untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik yang berkelanjutan. 

Manfaat di atas menunjukkan bahwa insentif mobil listrik yang ditetapkan pemerintah tidak hanya menguntungkan konsumen secara langsung, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan, industri otomotif, dan strategi energi nasional. (Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)