Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu
Negosiasi Mandek, Trump Minta Iran Telepon AS Jika Ingin Bicara
Muhammad Reyhansyah • 27 April 2026 14:58
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan Iran dapat menghubungi Washington kapan saja jika ingin membicarakan akhir dari perang.
Perang telah berlangsung selama dua bulan dan Trump menegaskan kembali bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Jika mereka ingin bicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami. Ada telepon. Kami punya jalur yang aman dan bagus,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News, dikutip dari AsiaOne, Senin, 27 April 2026.
Trump menambahkan bahwa Iran telah mengetahui syarat utama yang harus ada dalam kesepakatan.
“Mereka tahu apa yang harus ada dalam perjanjian. Sangat sederhana: mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, kalau tidak maka tidak ada alasan untuk bertemu,” kata Trump.
Pernyataan itu muncul setelah Iran menyebut AS harus terlebih dahulu menghapus hambatan menuju kesepakatan, termasuk blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Harapan untuk menghidupkan kembali upaya damai sempat memudar pada Sabtu ketika Trump membatalkan kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad.
Iran Bergerak ke Pakistan, Oman, dan Rusia
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu bergerak bolak-balik menemui mediator Pakistan dan Oman sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia, tempat ia dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin.Utusan Iran di Rusia, Kazem Jalali, menyebut pertemuan tersebut sebagai bagian dari kelanjutan “jihad diplomatik” untuk memajukan kepentingan negara di tengah ancaman eksternal.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Araghchi membahas keamanan Selat Hormuz dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq al-Said dan menyerukan kerangka keamanan kawasan yang bebas dari campur tangan pihak luar.
Dalam unggahannya di X, Araqchi mengatakan pembicaraan di Oman berfokus pada upaya memastikan jalur pelayaran aman yang menguntungkan negara-negara tetangga dan dunia.
Sementara itu, kantor berita Tasnim menyebut pembicaraan Araghchi dengan pejabat Pakistan mencakup implementasi rezim hukum baru di Selat Hormuz, kompensasi, jaminan tidak ada agresi militer baru, serta pencabutan blokade laut.
Perundingan Masih Terhambat
Harga minyak naik, dolar menguat tipis, dan kontrak berjangka saham AS melemah pada awal perdagangan Asia setelah pembicaraan damai AS-Iran tersendat pada akhir pekan, membuat jalur pelayaran Teluk tetap terganggu.Meski gencatan senjata telah menghentikan pertempuran skala penuh sejak perang yang dimulai oleh serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, belum ada kesepakatan mengenai syarat untuk mengakhiri konflik yang telah menewaskan ribuan orang, mendorong kenaikan harga minyak, memicu inflasi, dan memperburuk prospek pertumbuhan global.
Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik untuk mengakhiri perang yang tidak populer seiring menurunnya tingkat persetujuannya.
Di sisi lain, Iran yang melemah secara militer masih memiliki daya tawar melalui kemampuannya menghambat pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui seperlima pengiriman minyak dunia.
Iran sebagian besar menutup selat tersebut, sementara Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Trump pada Sabtu mengatakan ia membatalkan kunjungan utusannya karena terlalu banyak biaya dan perjalanan untuk tawaran Iran yang dianggap belum memadai.
“Iran menawarkan banyak hal, tetapi belum cukup,” ujar Trump.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya mengatakan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahwa Teheran tidak akan memasuki “negosiasi yang dipaksakan” di bawah ancaman atau blokade.
Ia menegaskan AS harus terlebih dahulu menghapus hambatan tersebut sebelum para perunding dapat mulai menyiapkan dasar penyelesaian.
Selain isu nuklir dan kontrol Selat Hormuz, perbedaan antara AS dan Iran juga meluas ke dukungan Teheran terhadap kelompok proksinya di kawasan serta kemampuan rudal balistik Iran.
Putaran pembicaraan di Islamabad awal April yang mempertemukan Wakil Presiden AS JD Vance dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf pun berakhir tanpa kesepakatan.