Lawan Saham Gorengan, Ini 4 Langkah Perkuat Kualitas Pasar Modal

Board of Trustees Prasasti Center for Policy Studies Ilya Avianti. Foto: Dok Istimewa

Lawan Saham Gorengan, Ini 4 Langkah Perkuat Kualitas Pasar Modal

Eko Nordiansyah • 23 January 2026 17:55

Jakarta: Board of Trustees Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Ilya Avianti, menekankan pentingnya memperkuat strategi mekanisme pencegahan terhadap praktik spekulatif di tengah maraknya fenomena saham gorengan. Menurut dia, pertumbuhan jumlah investor ritel saat ini harus dibarengi dengan kualitas pasar yang sehat.

Saham gorengan adalah istilah yang digunakan untuk saham yang fundamentalnya kurang baik, namun seringkali menunjukkan pergerakan saham yang tidak biasa. Harga saham dapat naik dan turun secara signifikan dalam waktu singkat. amun pergerakan harga sahamnya tidak biasa.

Pergerakan ini yang seringkali dijadikan peluang oleh investor retail untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat, tapi tidak jarang banyak yang mengalami kerugian cukup besar dari membeli saham gorengan.

Ilya menjelaskan, terdapat empat langkah strategis yang perlu dijalankan oleh regulator dan pelaku pasar untuk menekan peredaran saham gorengan, di antaranya:

1. Disiplin transparansi emiten

Langkah pertama yang paling krusial untuk mencegah manipulasi harga adalah memperkuat transparansi emiten. Ilya menegaskan, setiap perusahaan terbuka wajib disiplin dalam menyampaikan laporan keuangan serta informasi material secara tepat waktu.

"Kalau informasi perusahaan terbuka dan mudah dibaca, ruang untuk memainkan persepsi pasar akan semakin sempit," ujar Ilya, dikutip Jumat, 23 Januari 2026.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

2. Pengawasan transaksi yang tajam

Ilya menekankan, pengawasan transaksi harus semakin tajam dalam mendeteksi pola yang tidak wajar. Hal ini mencakup perlunya respons cepat terhadap lonjakan harga maupun volume transaksi yang terjadi secara tiba-tiba. Dirinya mengingatkan, harga saham seharusnya mencerminkan nilai perusahaan, bukan sekadar hasil tarik-menarik jangka pendek.

"Harga saham seharusnya mencerminkan nilai perusahaan, bukan sekadar hasil tarik-menarik jangka pendek," ujar dia.

3. Edukasi berbasis fundamental

Ilya memandang edukasi sebagai benteng terpenting bagi investor agar tidak terjebak dalam skema spekulasi yang merugikan. Investor diharapkan memiliki kesadaran untuk mempelajari model bisnis dan prospek usaha secara mendalam sebelum menanamkan modalnya.

“Kalau investor mau belajar fundamental, mereka tidak mudah terjebak saham gorengan," jelas Ilya.

4. Tanggung jawab pelaku pasar

Sebagai langkah terakhir, Ilya menilai peran pelaku pasar sangat krusial dalam membangun budaya investasi berbasis data. Ia mendorong broker, analis, dan media ekonomi untuk turut serta dalam membangun budaya investasi yang dewasa, dengan lebih mengedepankan data dan kinerja perusahaan dibandingkan sekadar mengejar sensasi harga. (Surya Mahmuda)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)