Antisipasi Ebola, Thailand Terapkan Karantina bagi Pelancong Asal Kongo dan Uganda

Ilustrasi virus. (Medcom.id)

Antisipasi Ebola, Thailand Terapkan Karantina bagi Pelancong Asal Kongo dan Uganda

Muhammad Reyhansyah • 25 May 2026 17:01

Bangkok: Thailand memperketat langkah pengawasan Ebola terhadap pendatang dari Republik Demokratik Kongo dan Uganda dengan menerapkan karantina ketat selama 21 hari bahkan bagi pelancong tanpa gejala.

Kebijakan itu diberlakukan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 17 Mei 2026 menetapkan wabah Ebola varian Bundibugyo sebagai darurat kesehatan global.

Varian tersebut hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui. Thailand kemudian menetapkan Kongo dan Uganda sebagai zona terdampak Ebola.

Melansir The Independent, Senin, 25 Mei 2026, komite teknis yang memberi masukan kepada Departemen Pengendalian Penyakit Thailand juga merekomendasikan karantina bagi pendatang tanpa gejala dari kedua negara Afrika tersebut.

Direktur departemen itu, Dr Montein Kanasawadse, mengatakan wabah di Kongo menunjukkan tanda-tanda memburuk sehingga sejumlah negara memperketat pengawasan terhadap pelancong dari wilayah berisiko tinggi.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sebelumnya mengatakan lebih dari 900 kasus suspek Ebola telah teridentifikasi di Kongo dan sebanyak 101 di antaranya telah terkonfirmasi.

Per 22 Mei, Thailand mencatat delapan pendatang dari Uganda dan dua dari Kongo. Seluruh pelancong tersebut tidak menunjukkan gejala, namun tetap dikarantina selama 21 hari sebagai langkah pencegahan.

Relawan Palang Merah Tewas di Kongo

Di Kongo, tiga relawan Palang Merah dilaporkan meninggal dunia setelah terinfeksi Ebola yang diduga tertular saat menangani jenazah korban.

Mereka menjadi salah satu korban pertama yang diketahui dalam wabah terbaru di negara tersebut.

Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengidentifikasi ketiga relawan itu sebagai Ajiko Chandiru Viviane, Sezabo Katanabo, dan Alikana Udumusi Augustin.

Ketiganya diduga tertular virus saat menangani jenazah pada Maret dalam misi kemanusiaan yang tidak berkaitan dengan Ebola. Saat itu wabah terbaru belum teridentifikasi.

Mereka bertugas di Provinsi Ituri, wilayah timur laut Kongo, dan meninggal pada 5, 15, serta 16 Mei. "Para relawan ini kehilangan nyawa saat melayani komunitas mereka dengan keberanian dan kemanusiaan," kata federasi tersebut.

Jenazah korban Ebola diketahui sangat menular dan proses pemakaman yang tidak aman menjadi salah satu penyebab utama penyebaran penyakit.

Palang Merah mengatakan para relawannya kini melakukan edukasi dari rumah ke rumah untuk melawan misinformasi terkait Ebola di wilayah pusat wabah di Kongo.

Baca juga:  Angka Kasus Positif Ebola Lampaui 100 di Tiga Provinsi RD Kongo

(Willy Haryono)