Pelaku pemalsuan riset diduga melakukan pemalsuan identitas di konferensi ISPPD 2026, Kopenhagen, Denmark. (Instagram/@w.o.d.d)
Peneliti WNI Diduga Palsukan Riset Guna Dapat Travel Gratis, Simak Kronologinya
Riza Aslam Khaeron • 27 May 2026 19:57
Jakarta: Dunia akademik Indonesia baru-baru ini diguncang kontroversi. Tiga peneliti asal Indonesia, Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti, diduga melakukan pemalsuan secara terorganisasi demi mendapatkan dana hibah (grant) atau hadiah dari ajang-ajang ilmiah yang diikuti, serta fasilitas perjalanan ke luar negeri gratis.
Kontroversi ini pertama kali diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat, seorang dosen sekaligus peneliti yang turut menghadiri International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026, bersama Ida Bagus Mandhara Brasika melalui akun media sosial mereka.
Menurut keterangan keduanya, dugaan pemalsuan yang dilakukan oleh Prihantini dan kawan-kawan (dkk.) terjadi pada konferensi ilmiah bergengsi ISPPD 2026 — sebuah forum global bagi para ahli pneumonia dari seluruh dunia yang tahun ini diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark. Berikut ulasan selengkapnya.
Profil Prihantini dkk.
Sangat sedikit informasi yang dapat digali mengenai rekam jejak ketiga peneliti tersebut. Saat artikel ini disusun, akun media sosial yang terafiliasi dengan mereka terpantau sudah tidak lagi aktif atau tidak dapat diakses oleh publik.
Prihatini di ISPPD 2026. (Instagram/@w.o.d.d)
Prihantini, yang akrab disapa Titin, dikenal sebagai peneliti independen, penulis, sekaligus penggerak komunitas pendidikan. Dalam profil profesionalnya, ia mengeklaim fokus pada bidang riset matematika, komputasi, dan sains data untuk sektor biomedis, dengan afiliasi pada The IMCD BioMed Research Foundation sebagai Independent Researcher.
Secara akademik, Prihantini menempuh pendidikan Sarjana Matematika di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada periode 2015–2019, lalu melanjutkan studi Magister Matematika di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan kajian yang berfokus pada dinamika fluida (fluid dynamics) dan tsunami.
Ia tercatat sebagai penerima Beasiswa LPDP tahun 2019 dan pernah meraih Juara 1 Pertamina National Science Olympiad bidang Matematika.
Di luar ranah akademik, ia mendirikan Orbit Paper — sebuah platform bimbingan penulisan akademik — serta Youth Passion to Action, komunitas pengembangan pemuda berbasis seminar dan diskusi ilmiah.

Rifaldy Fajar (kiri) dan Rini Winarti (kanan) tahun 2016. (Dok. UNY)
Rifaldy Fajar merupakan alumnus Program Studi Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2014. Pria kelahiran Bulukumba, 20 April 1996 ini pernah dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama UNY Program Sarjana pada tahun 2017 dan mengklaim telah berhasil mengibarkan bendera merah putih di sembilan negara.
Semasa kuliah, Rifaldy aktif dalam berbagai kompetisi nasional maupun internasional, di antaranya meraih medali perak dalam 1st India International Innovation Fair di Bengaluru serta berpartisipasi dalam forum akademik di Bangkok.
Rini Winarti tercatat sebagai alumnus Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UNY angkatan 2014. Namanya beberapa kali muncul dalam arsip resmi kampus sebagai bagian dari tim riset mahasiswa yang aktif menorehkan prestasi di kompetisi internasional.
Bersama Rifaldy Fajar, Rini dilaporkan pernah meraih medali emas dalam The 3rd International Youth Invention Contest 2015 di Seoul, Korea Selatan, serta dua medali emas dalam The Egyptian International Invention and Innovation Exhibition 2016 di Kairo, Mesir.
| Baca Juga: Lestari Moerdijat: Manfaatkan Hasil Riset untuk Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat |
Modus Terduga Penipuan
Kontroversi ini mencuat saat ketiganya menghadiri ISPPD 2026 di Kopenhagen. Berdasarkan pemaparan Wa Ode Dwi Daningrat melalui akun Instagram pribadinya (@w.o.d.d), salah satu dari terduga pelaku disinyalir melakukan pemalsuan identitas dengan modus berganti-ganti nama pada beberapa sesi presentasi yang berbeda, hanya bermodalkan jilbab dan kartu nama (nametag).Pada sesi presentasi di Station 01, pelaku hadir dengan identitas sebagai Riana Dwi Kurniawati. Namun, 10 menit kemudian, ia berpindah ke Station 04 dengan menggunakan nametag berbeda atas nama Dimas Fajar Prasetyo.
Wa Ode Dwi, yang menilai isi materi presentasi tersebut tidak masuk akal, menuding kelompok Prihantini dkk menyusun riset mereka menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI) serta melakukan fabrikasi data secara sistematis, mulai dari memalsukan data, gambar, hingga narasi tulisan.
Ia juga menyoroti kejanggalan lokasi penelitian yang dicantumkan. Meskipun riset tersebut diklaim dilakukan di berbagai penjuru dunia, mulai dari Pegunungan Andes di Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India Utara, seluruh perisetnya justru berasal dari Indonesia tanpa adanya kolaborator asing maupun dokumen persetujuan etik (ethical clearance) sama sekali.
Kelompok peneliti ini juga dituding mencantumkan afiliasi lembaga fiktif bernama The IMCD BioMed Research Foundation.
“Dengan cara ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa ke luar negeri ‘GRATIS’,” tulis Wa Ode.
“Gratis, karena yang membayar mahal adalah Indonesia, yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia,” tambahnya.
Netizen juga kerap mempertanyakan kualifikasi Prihatini, dkk. Pasalnya ketiganya berhasil mendapatkan travel grant selama bertahun-tahun dalam hal riset kedokteran meskipun ketiganya tidak pernah menjalankan studi kedokteran maupun kesehatan.
Belum ada tanggapan resmi dari pihak Prihantini maupun Rini Winarti terkait tudingan tersebut. Sementara itu, Rifaldy Fajar dikabarkan sempat mengunggah klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya, sebelum akhirnya akun tersebut dinonaktifkan atau ditutup dari akses publik.