Profil Tiga Pemimpin Agung Iran: Dari Khomeini Sampai Mojtaba

Ilustrasi Ali Khamenei memberikan bendera Iran ke putranya. (Telegram IRGC)

Profil Tiga Pemimpin Agung Iran: Dari Khomeini Sampai Mojtaba

Riza Aslam Khaeron • 9 March 2026 17:17

Jakarta: Republik Islam Iran tengah memasuki babak baru dalam sejarah politiknya setelah Mojtaba Khamenei resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Agung (Supreme Leader) yang baru.

Penunjukan oleh Majelis Pakar ini dilakukan satu minggu setelah kematian Ali Khamenei dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, yang menewaskan pemimpin tertinggi sekaligus ayah dari Mojtaba tersebut.

Sejak runtuhnya monarki Shah pada tahun 1979, sejarah Iran mencatat hanya ada tiga sosok yang pernah menduduki posisi otoritas tertinggi ini: Ayatollah Ruhollah Khomeini, Ayatollah Ali Khamenei, dan kini Ayatollah Mojtaba Khamenei. Berikut adalah profil singkat dari ketiga tokoh tersebut.
 

1. Ruhollah Khomeini


Sumber: Khamenei.ir

Ayatollah Ruhollah Musavi Khomeini (17 Mei 1900 – 3 Juni 1989) merupakan ulama Syiah yang menjadi ruh utama di balik Revolusi Islam Iran 1979. Gerakan ini berhasil menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi dan mengakhiri sistem monarki yang telah bertahan selama berabad-abad.

Pasca revolusi, Khomeini mengukuhkan diri sebagai Pemimpin Agung pertama dan memegang kendali negara hingga akhir hayatnya pada 1989.

Lahir di kota Khomein, sekitar 300 kilometer dari Teheran, Khomeini berasal dari keluarga ulama Syiah yang memiliki garis keturunan langsung hingga Nabi Muhammad.

Ia menempuh pendidikan agama yang mendalam di pusat-pusat studi besar seperti Arak dan Qom, sebelum akhirnya menjadi pengajar terpandang dalam bidang fikih, filsafat Islam, serta tasawuf.

Ketokohannya mulai mendunia saat ia menentang keras kebijakan modernisasi Shah yang dikenal sebagai White Revolution pada awal 1960-an. Kritik tajamnya terhadap pemerintah berujung pada penangkapan dan pengasingan selama lebih dari 14 tahun, yang ia lalui di Turki, Irak, hingga Prancis.

Pada Februari 1979, setelah Shah melarikan diri, Khomeini kembali ke Teheran dengan sambutan jutaan rakyat. Ia kemudian memimpin transformasi politik Iran menjadi sebuah Republik Islam.

Di bawah konstitusi baru, ia menjabat sebagai pemimpin tertinggi dengan mengusung konsep velayat-e faqih, atau kepemimpinan ulama atas negara. Setelah wafat pada 3 Juni 1989 di usia 89 tahun, tongkat estafet kepemimpinan beralih kepada Ali Khamenei.
 

2. Ali Khamenei


Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (Khamenei.IR)

Ayatollah Seyyed Ali Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 di kota suci Mashhad. Berasal dari keluarga ulama yang bersahaja, ia menempa ilmu agama di seminari besar Syiah di Qom dan Najaf. Pengalaman pendidikan ini tidak hanya membentuk pandangan religiusnya, tetapi juga orientasi politiknya sejak usia muda.

Khamenei merupakan pengikut setia Khomeini dan telah aktif dalam gerakan oposisi terhadap rezim Shah sejak 1960-an.

Aktivitas politiknya membuat ia kerap keluar-masuk penjara sebelum akhirnya Revolusi Islam 1979 berhasil meletus. Setelah revolusi, karier politiknya melesat tajam; ia sempat menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode (1981–1989).

Pasca wafatnya Khomeini pada 1989, Majelis Pakar memilih Khamenei sebagai Pemimpin Agung. Selama lebih dari tiga dekade memimpin, ia dikenal sebagai arsitek yang memperkuat posisi Iran sebagai kekuatan regional yang berani berseberangan dengan blok Barat, khususnya Amerika Serikat dan Israel.

Masa kepemimpinannya yang panjang berakhir secara dramatis pada 28 Februari 2026 melalui serangan rudal gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Ali Khamenei meninggalkan warisan kepemimpinan otoriter yang gigih melindungi komunitas Syiah di luar negeri, namun di sisi lain dikenal bertangan besi dalam menekan gejolak oposisi di dalam negerinya sendiri.
 
Baca Juga:
Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru
 

3. Mojtaba Khamenei


Mojtaba Khmaenei Pemimpin Tertingi Iran yang baru. Foto: Rudaw

Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad sebagai putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei. Ia tumbuh besar dalam lingkaran keluarga ulama yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam struktur politik Republik Islam Iran.

Di masa mudanya, Mojtaba sempat turun langsung dalam Perang Iran–Irak pada akhir 1980-an. Ia kemudian mendalami teologi di seminari Qom, pusat studi Syiah paling bergengsi di Iran. Di bawah bimbingan ulama-ulama senior, ia berkembang menjadi pengajar fikih tingkat lanjut di lingkungan hauzah.

Meski tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan sebelumnya, Mojtaba telah lama dikenal memiliki pengaruh besar di balik layar politik Iran. Ia memiliki kedekatan khusus dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta jaringan ulama konservatif.

Namanya mulai mencuat ke permukaan sejak pemilu presiden 2005 dan saat terjadinya protes besar pasca-pemilu 2009.

Hanya berselang beberapa hari setelah kematian ayahnya, pada 9 Maret 2026, Majelis Pakar Iran secara resmi menetapkan Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga. Pengangkatan ini menjadikannya tokoh ketiga yang menduduki takhta kekuasaan tertinggi di Iran sejak revolusi 1979.
 

Apa Saja Tugas dan Wewenang Pemimpin Tertinggi?

Melansir New York Times (NYT), pemimpin Tertinggi Iran merupakan otoritas tertinggi dalam sistem politik Republik Islam Iran. Jabatan ini tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai kepala negara yang memiliki pengaruh luas terhadap arah politik, militer, dan kebijakan strategis negara.

Dalam konstitusi Iran, Pemimpin Tertinggi memiliki kendali menyeluruh atas sistem pemerintahan dan angkatan bersenjata, termasuk IRGC. Ia bertindak sebagai panglima tertinggi militer dan memiliki wewenang menentukan kebijakan utama terkait pertahanan serta keamanan nasional.

Selain itu, Pemimpin Tertinggi juga memiliki kewenangan besar dalam struktur pemerintahan. Ia berhak mengangkat sejumlah pejabat penting, seperti kepala lembaga peradilan, komandan militer, serta pimpinan media penyiaran negara.

Posisi ini juga memiliki pengaruh kuat terhadap proses politik, termasuk dalam pengawasan kebijakan pemerintah dan arah politik negara. 

Dalam aspek keagamaan, Pemimpin Tertinggi dapat mengeluarkan fatwa, yakni opini atau keputusan keagamaan mengenai berbagai persoalan sosial dan politik yang dapat memengaruhi masyarakat tidak hanya di Iran, tetapi juga komunitas Syiah di berbagai negara. 

Meski Iran memiliki presiden yang dipilih melalui pemilu, dalam praktiknya presiden berada di bawah otoritas Pemimpin Tertinggi. Hal ini menjadikan jabatan tersebut sebagai pusat kekuasaan utama dalam sistem politik Republik Islam Iran.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)