Harga Emas Hari Ini Bakal Tersungkur Lemah, Pasar 'Pelototi' Data Inflasi AS

Emas batangan. Foto: Whitegold.money

Harga Emas Hari Ini Bakal Tersungkur Lemah, Pasar 'Pelototi' Data Inflasi AS

Husen Miftahudin • 9 March 2026 10:22

Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026, seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya kekhawatiran inflasi global.

Pada awal sesi perdagangan Asia, harga emas (XAU/USD) tercatat melemah dan diperdagangkan di sekitar level USD5.075, dimana sebelumnya sempat menguat pada akhir pekan lalu selama sesi perdagangan Amerika Utara.

Penguatan yang terjadi pada Jumat didorong oleh data ketenagakerjaan ASyang lebih lemah dari perkiraan serta meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun, secara keseluruhan tekanan terhadap logam mulia masih cukup kuat seiring dengan penguatan mata uang dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Berdasarkan analisis teknikal yang disampaikan oleh analis Dupoin Futures Andy Nugraha, pergerakan emas saat ini masih menunjukkan kecenderungan bearish dalam timeframe H1. Kombinasi pola candlestick yang terbentuk bersama indikator Moving Average mengindikasikan tekanan jual masih mendominasi pasar.

"Kondisi ini menunjukkan momentum penurunan masih berpotensi berlanjut apabila tidak terdapat katalis kuat yang mampu mendorong harga emas kembali menguat dalam waktu dekat," jelas Andy dalam analisis hariannya, Senin, 9 Maret 2026.
 

Baca juga: Kilau Harga Emas Dunia Dicuri Minyak dan Dolar AS di Tengah Perang AS-Iran
 

Lonjakan harga minyak picu kekhawatiran inflasi AS


Dari sisi fundamental, pasar saat ini juga tengah mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah pergerakan emas. Salah satunya adalah lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran inflasi di AS.

Kenaikan inflasi berpotensi membuat Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Kebijakan suku bunga tinggi biasanya menjadi faktor negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi berbunga.

"Oleh karena itu, investor cenderung beralih ke aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik," papar Andy menambahkan.

Selain itu, pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan pada Rabu mendatang. Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

Saat ini, ungkap Andy, banyak ekonom memperkirakan bahwa bank sentral AS kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 17-18 Maret mendatang. Bahkan sebagian analis memprediksi bahwa pemangkasan suku bunga baru berpotensi terjadi pada pertengahan tahun 2026, sekitar Juni atau Juli.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan sempat memberikan dukungan sementara bagi harga emas. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi AS kehilangan sekitar 92 ribu pekerjaan pada Februari, jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penciptaan sekitar 59 ribu lapangan kerja. Sementara itu, tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4 persen dari sebelumnya 4,3 persen pada Januari.

"Kondisi pasar tenaga kerja yang melemah ini berpotensi menekan nilai dolar AS dalam jangka pendek dan memberikan ruang penguatan bagi komoditas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, termasuk emas," urai Andy.


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Harga emas berpotensi turun lebih lanjut


Namun demikian, secara keseluruhan emas masih berada dalam tekanan. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta penguatan dolar secara luas membuat logam mulia ini diperkirakan akan mencatatkan pelemahan mingguan mendekati 2,5 persen. Selain itu, data ekonomi lain seperti penjualan ritel AS yang mengalami kontraksi 0,2 persen secara bulanan turut menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global.

Secara teknikal, Andy memproyeksikan apabila tekanan bearish terus berlanjut, maka harga emas berpotensi turun lebih lanjut hingga mendekati level support di USD4.960. Level tersebut menjadi area penting yang perlu diperhatikan oleh para pelaku pasar dalam jangka pendek.

"Namun, apabila harga gagal melanjutkan penurunan dan mengalami koreksi naik, maka potensi kenaikan terdekat diperkirakan berada di sekitar level resistance USD5.139," kata Andy.

Dengan mempertimbangkan kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang ada saat ini, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Investor dan trader disarankan untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi AS, arah kebijakan Federal Reserve, serta dinamika geopolitik global yang dapat memicu volatilitas di pasar komoditas, khususnya emas.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)