Pertanian tembakau di Jember. Foto: dok PTPN I.
PTPN I Dorong Kesejahteraan Petani Jember Lewat Skema Kemitraan
Husen Miftahudin • 10 July 2026 10:40
Jakarta: PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) (Persero) Regional 5 memperkuat kemitraan dengan petani di Desa Ajong, Kabupaten Jember, Jawa Timur, melalui pengembangan budidaya Tembakau Bawah Naungan (TBN) berkualitas premium yang ditujukan untuk pasar ekspor. Komoditas tersebut telah dipasarkan ke berbagai negara di kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.
Untuk memenuhi permintaan pasar global, PTPN I menerapkan skema kemitraan dengan masyarakat sekitar melalui penyewaan lahan milik petani. Pola tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja di wilayah setempat.
Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan melalui skema tersebut, PTPN I menyewa lahan persawahan milik petani yang sebelumnya digunakan untuk menanam padi maupun palawija. Meski disewakan, petani tetap dilibatkan dalam proses budidaya tembakau sehingga memperoleh dua sumber pendapatan, yakni kompensasi sewa lahan dan upah kerja.
"Kolaborasi agribisnis di Ajong, Jember ini dirancang sebagai model bisnis yang inklusif sekaligus berkelanjutan. Di satu sisi, PTPN I mengukuhkan posisinya di pasar internasional lewat keunggulan TBN, dan di sisi lain, petani lokal menghadirkan potensi aset lahan yang luar biasa," ungkap Rivai dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 10 Juli 2026.
"Melalui skema rotasi komoditas, kami melakukan sewa lahan persawahan warga secara kompetitif, dengan komitmen penuh aktivitas produksi dan penggarapan di lapangan tetap memberdayakan pemilik lahan itu sendiri," tambah dia.
Dengan pola ganda ini, lanjut Rivai, petani berhak mendapatkan uang sewa di depan sekaligus menerima upah dari hasil pekerjaannya. Melalui pendekatan ini, 'praja' atau harga diri mereka sebagai pemilik sawah tetap terjaga. "Ini adalah bentuk kolaborasi yang sangat produktif," tegas Rivai.
Menurut Rivai, skema tersebut juga dirancang sebagai model kemitraan agribisnis yang dapat diterapkan di daerah lain.
Kemitraan jadi sarana transfer teknologi pertanian
Selain memberikan kepastian pendapatan melalui pembayaran sewa di awal musim tanam, kemitraan tersebut juga membuka peluang bagi petani untuk memperoleh pengetahuan mengenai teknik budidaya pertanian modern.
PTPN I menilai petani tidak kehilangan hak atas lahan yang dimiliki karena tetap terlibat dalam aktivitas produksi sekaligus mengawasi asetnya. "Petani pemilik lahan pada dasarnya membutuhkan kepastian hasil, keamanan aset yang mereka miliki, dan rasa percaya diri di hadapan orang lain," ucap dia.
"Yang lebih penting, para petani yang sebelumnya masih menerapkan budidaya tradisional kini dapat menyerap pengetahuan dan pengalaman langsung dari model pertanian modern, seperti smart farming berbasis science farming. Melalui transfer pengetahuan ini, PTPN I berharap mereka dapat semakin mandiri dan sejahtera pada masa mendatang," ujar Rivai.

(Petani tembakau Jember. Foto: PTPN I)
Perkuat ekonomi lokal
PTPN I menilai perluasan kemitraan tersebut menempatkan petani sebagai mitra strategis dalam rantai pasok industri tembakau ekspor. Melalui pola kerja sama tersebut, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kompensasi sewa lahan maupun pendapatan sebagai tenaga kerja di area budidaya tembakau.
Perusahaan juga berharap kemitraan tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi baru di sektor perkebunan sekaligus memperkuat keberlanjutan produksi tembakau premium untuk pasar internasional.
Salah seorang petani pemilik lahan di Desa Ajong, Supardi, mengaku merasakan manfaat dari program kemitraan yang dijalankan PTPN I Regional 5. Menurut dia, pembayaran kompensasi sewa lahan di awal musim memberikan kepastian pendapatan bagi keluarga sekaligus menjadi modal untuk musim tanam berikutnya.
"Kami merasa sangat beruntung dengan adanya program kemitraan lahan dari PTPN I Regional 5 ini. Pembayaran kompensasi yang diselesaikan langsung di depan memberikan kepastian bagi kami untuk menjamin kebutuhan keluarga sekaligus menjadi modal bertani di musim berikutnya. Ditambah lagi, kami tidak kehilangan mata pencaharian karena tetap dilibatkan untuk menggarap lahan sendiri dengan upah harian yang sangat layak. Dengan begitu, kami tetap memiliki rasa bangga dan martabat karena mengawal tanah kami sendiri," kata Supardi, Kamis, 9 Juli 2026.
PTPN I menyebut antusiasme masyarakat terhadap program tersebut terus meningkat. Dalam setiap musim tanam, ratusan hingga ribuan hektare lahan persawahan di Desa Ajong disewakan melalui skema kemitraan untuk mendukung budidaya tembakau ekspor.