Tiga Makam Sultan Buton Diusukan Jadi Cagar Budaya Nasional

Menbud RI Fadli Zon (kiri) bersama Gubernur Andi Sumangerukka saat mengunjungi Benteng Keraton Buton, Sulawesi Tenggara. ANTARA/HO-Pemprov Sultra

Tiga Makam Sultan Buton Diusukan Jadi Cagar Budaya Nasional

Silvana Febiari • 14 July 2026 06:57

Baubau: Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengusulkan penetapan status Cagar Budaya Nasional untuk tiga makam Sultan Buton yang berlokasi di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Ketiga situs bersejarah yang diusulkan tersebut adalah makam Sultan Murhum (Sultan Buton ke-1), Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo (Sultan Buton ke-20), dan La Maani atau Oputa Kabumbu Malanga (Sultan Buton ke-22).

"Saat ini Benteng Kesultanan Buton telah berstatus sebagai Cagar Budaya Nasional. Oleh karena itu, kami berharap situs-situs penting lain di kawasan tersebut, khususnya ketiga makam sultan, segera menyusul untuk mendapatkan status serupa," kata Fadli Zon, dilansir dari Antara, Selasa, 14 Juli 2026.
 


Fadli Zon menjelaskan penetapan status ini penting untuk memperkuat upaya pemajuan kebudayaan nasional. Kendati demikian, upaya tersebut memerlukan sinergi kuat antara Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Sultra, Pemerintah Kota Baubau, dan seluruh pemangku kepentingan terkait.

"Langkah pelestarian tidak boleh berhenti pada aspek perlindungan, konservasi, dan perawatan saja. Warisan budaya yang ada harus dikembangkan, dimanfaatkan, serta dibina secara berkelanjutan," ujarnya.

Fadli Zon menilai kompleks benteng ini bukan sekadar saksi bisu perjalanan sejarah Kesultanan Buton. Ini merupakan aset budaya luar biasa yang menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia.

Melalui penataan yang baik, ia optimistis kawasan bersejarah ini akan menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara untuk belajar sejarah, sekaligus menikmati keindahan alam dan potensi wisata kuliner Buton.


Menbud RI Fadli Zon (kiri) bersama Gubernur Andi Sumangerukka saat mengunjungi Benteng Keraton Buton, Sulawesi Tenggara. ANTARA/HO-Pemprov Sultra


Kawasan Benteng Kesultanan Buton atau yang dikenal sebagai Benteng Wolio merupakan salah satu warisan sejarah paling krusial di Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, benteng sepanjang 2,75 kilometer ini mulai dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Buton ke-3, La Sangaji, dan rampung pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-4.

Keunikan utama benteng dengan 12 pintu gerbang (lawa) dan 16 bastion (baluara) ini terletak pada pembangunannya yang murni dilakukan secara swadaya oleh masyarakat Buton. Benteng dibangun menggunakan batu karang dan perekat kapur setempat, bukan oleh kolonial Belanda atau Portugis.

Karakteristik arsitektur dan nilai historisnya yang kuat di Nusantara inilah yang menjadi fondasi utama atas statusnya sebagai Cagar Budaya Nasional.

(Silvana Febiari)