Muktamar ke-35 di Tambakberas Dinilai sebagai Panggilan Pendiri NU

Logo Nahdlatul Ulama (NU). Foto: Dok. NU.

Muktamar ke-35 di Tambakberas Dinilai sebagai Panggilan Pendiri NU

Fachri Audhia Hafiez • 8 July 2026 21:05

Jakarta: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyambut penetapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026. Keputusan ini dinilai sarat akan makna historis dan spiritual yang mendalam bagi perjalanan organisasi.

“Saya memandang keputusan ini sebagai karomah Mbah Yai Abdul Wahab Chasbullah. Muktamar di Tambakberas seperti menjadi panggilan para muassis agar seluruh keluarga besar NU kembali kepada rumah perjuangan, kembali memperkuat ukhuwah, adab, dan khidmah,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH. Ma’shum Faqih (Gus Ma'shum), dalam keterangannya, dilansir Antara, Rabu, 8 Juli 2026.
 


Gus Ma’shum menjelaskan bahwa KH. Abdul Wahab Chasbullah merupakan inisiator utama lahirnya NU lewat embrio Komite Hijaz pada 1926. Menurutnya, penunjukan Tambakberas sebagai lokasi muktamar di tengah berbagai dinamika saat ini membawa pesan moral agar seluruh warga NU meneladani ketawaduan para pendiri organisasi.

Hubungan sejarah antara Tambakberas, KH. Abdul Wahab Chasbullah, dan Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari sangatlah erat karena kedua tokoh tersebut merupakan bagian dari keluarga besar pesantren tersebut.

“Saya meyakini para muassis tidak pernah meninggalkan NU. Seakan-akan Mbah Yai Wahab sedang mengajak kita semua pulang, kembali meneguhkan persatuan dan mengutamakan kemaslahatan jam’iyah di atas kepentingan apa pun,” ujar Gus Ma’shum.


Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH. Ma’shum Faqih (Gus Ma'shum). Foto: ANTARA/HO-PBNU.

Anggota Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan tersebut berharap momentum Muktamar ke-35 ini dapat menyatukan kembali barisan warga NU serta meneguhkan tata kelola organisasi yang sesuai dengan khittah. Gus Ma'shum juga menekankan pentingnya mengembalikan keharmonisan peran struktur ulama di dalam tubuh organisasi berlambang jagat tersebut.

“Para muassis telah memberikan teladan bahwa ulama adalah penuntun arah perjalanan jam’iyah. Karena itu, saya berharap Muktamar di Tambakberas menjadi momentum memperkuat kembali peran Mustasyar dan Syuriyah sebagai penjaga nilai, hikmah, dan arah organisasi, sementara Tanfidziyah menjalankan amanah organisasi sesuai kewenangannya," kata Gus Ma’shum.

(Fachri Audhia Hafiez)