Kuba Gelap Gulita di Pemadaman Listrik Nasional Kedua dalam Sepekan

Kuba kembali mengalami pemadaman listrik nasional kedua dalam sepekan di tengah krisis energi. (Anadolu Agency)

Kuba Gelap Gulita di Pemadaman Listrik Nasional Kedua dalam Sepekan

Willy Haryono • 11 July 2026 12:34

Havana: Kuba kembali mengalami pemadaman listrik nasional pada Jumat sore, 10 Juli 2026, menjadikannya gangguan listrik berskala nasional kedua dalam waktu kurang dari sepekan dan yang keempat sejak awal tahun ini.

Dilansir dari Al Jazeera, Sabtu, 11 Juli 2026, perusahaan listrik milik negara, Union Electrica de Cuba, mengumumkan bahwa gangguan listrik mulai terjadi sekitar pukul 16.30 waktu setempat atau beberapa saat sebelum malam tiba.

Pemadaman tersebut menyebabkan sebagian besar wilayah di pulau itu kembali berada dalam kegelapan. Hingga kini, otoritas Kuba belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab gangguan terbaru tersebut.

Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemadaman nasional serupa melanda negara itu pada Senin lalu. Dua pemadaman total lainnya juga tercatat terjadi pada Maret, menyoroti semakin rapuhnya sistem kelistrikan Kuba.

Pemadaman listrik bukan hal baru bagi Kuba, yang selama bertahun-tahun menghadapi persoalan infrastruktur energi yang menua.

Sebagian besar pembangkit listrik dan jaringan distribusi negara tersebut dibangun antara dekade 1960 hingga 1980 dan kini mengalami penurunan kemampuan operasional.

Namun, krisis energi dilaporkan semakin memburuk sejak awal tahun setelah pasokan minyak impor ke Kuba menurun tajam.

Menurut data Badan Energi Internasional (IEA), Kuba hanya mampu memproduksi sekitar 40 persen kebutuhan minyak domestiknya, sementara sisanya bergantung pada impor dari luar negeri.

Kondisi tersebut berdampak pada berbagai layanan publik, termasuk transportasi dan fasilitas kesehatan.

Infrastruktur Kuba

Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Volker Turk pada Juni lalu memperingatkan bahwa keterbatasan bahan bakar dan pasokan energi telah memberikan dampak serius terhadap masyarakat sipil Kuba, terutama kelompok rentan.

Menurut Turk, berbagai pembatasan yang memengaruhi pasokan energi telah menyebabkan fasilitas kesehatan mengalami kesulitan memperoleh obat-obatan dan peralatan medis penting.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menilai persoalan tersebut lebih disebabkan oleh masalah pengelolaan dan infrastruktur di Kuba.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio sebelumnya mengatakan pemerintahnya tidak mengambil langkah yang secara khusus ditujukan untuk menghukum rakyat Kuba.

Di tengah krisis tersebut, pemerintah Kuba terus mempercepat transisi menuju energi terbarukan, termasuk tenaga surya, guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

Meski demikian, energi terbarukan hingga kini baru menyumbang sekitar 18 persen dari total konsumsi energi nasional berdasarkan data terakhir yang tersedia.

Pemerintah Kuba menargetkan porsi energi terbarukan meningkat hingga mendekati seperempat dari total kebutuhan energi nasional pada 2030.

Baca juga:  Listrik Padam Total di Kuba, Krisis Energi Kian Memburuk

(Willy Haryono)