Danantara Konsolidasikan Lebih dari 1.000 BUMN, Dorong Efisiensi Aset dan Investasi

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani pada acara CNA Summit 2026. Foto: Metrotvnews.com/Muhammad Adyatma Damardjati.

Danantara Konsolidasikan Lebih dari 1.000 BUMN, Dorong Efisiensi Aset dan Investasi

Husen Miftahudin • 5 February 2026 18:32

Jakarta: Pemerintah mendorong konsolidasi aset badan usaha milik negara (BUMN) melalui pembentukan Danantara sebagai strategi memperkuat efisiensi pengelolaan perusahaan negara sekaligus membuka ruang investasi baru.

Langkah ini dinilai penting untuk memperbesar kontribusi BUMN terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan yang terus meningkat.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menjelaskan Danantara dibentuk untuk menyatukan pengelolaan aset BUMN dalam satu kerangka strategis sehingga keputusan investasi dapat dilakukan lebih terarah dan terukur. Konsolidasi tersebut mencakup lebih dari seribu perusahaan negara yang selama ini tersebar dalam berbagai sektor usaha.

"Kami mengonsolidasikan seluruh aset BUMN di bawah Danantara, mencakup lebih dari 1.000 perusahaan," ucap Rosan dalam sambutannya di acara CNA Summit, Kamis, 5 Februari 2026.

Menurut dia, struktur baru ini memungkinkan optimalisasi dividen BUMN agar dapat kembali diinvestasikan tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Skema tersebut diharapkan memperkuat kapasitas pembiayaan proyek strategis sekaligus meningkatkan daya tarik kolaborasi dengan investor global.

"Dana yang berasal dari dividen bisa kami investasikan kembali, termasuk untuk berinvestasi bersama investor asing," ungkap dia.
 
Baca juga: PNM ke Kemenkeu, CEO Danantara: Baru 'Omongan' Doang


(Wisma Danantara Indonesia. Foto: dok Danantara)
 

Dorong transformasi BUMN


Konsolidasi melalui Danantara juga dipandang sebagai bagian dari transformasi kelembagaan BUMN agar lebih adaptif terhadap perubahan lanskap ekonomi global. Dengan pengelolaan aset yang terpusat, pemerintah menargetkan efisiensi operasional meningkat serta tumpang tindih investasi antarperusahaan negara dapat ditekan.

Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan pembangunan jangka menengah yang besar membuat pemerintah harus mencari sumber pendanaan alternatif di luar fiskal tradisional. Optimalisasi aset BUMN dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga kesinambungan proyek infrastruktur, hilirisasi industri, serta pengembangan energi bersih.

Langkah tersebut sekaligus mencerminkan pergeseran peran BUMN, dari sekadar operator sektor strategis menjadi motor investasi nasional yang mampu menarik kemitraan global. Dengan struktur yang lebih terintegrasi, pemerintah berharap kontribusi BUMN terhadap pertumbuhan ekonomi dapat meningkat secara berkelanjutan. (Muhammad Adyatma Damardjati)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)