Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie). Foto: Dok. NasDem.
Lestari Moerdijat: Bangun Kewaspadaan Masyarakat untuk Antisipasi Ancaman Virus Nipah
Fachri Audhia Hafiez • 4 February 2026 20:31
Jakarta: Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengajak untuk membangun kewaspadaan masyarakat untuk mengantisipasi ancaman penyebaran virus Nipah di Tanah Air. Hal ini disampaikannya saat membuka diskusi daring bertema Mengantisipasi Penyebaran Virus Nipah di Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 di Jakarta.
"Belajar dari pandemi covid-19 yang baru lalu, saat ini sangat tepat bila kita membangun kewaspadaan dan bersiap dengan menggali berbagai informasi untuk mendapatkan gambaran yang jelas terkait ancaman virus Nipah ini," kata Lestari, Rabu, 4 Februari 2026.
Diskusi yang dimoderatori Arimbi Heroepoetri, S.H., L.LM (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Sumarjaya (Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI), Prof. Dr. NiLuh Putu Indi Dharmayanti, MSi (Kepala Organisasi Riset Kesehatan - Peneliti Ahli Utama Virologi, Badan Riset dan Invovasi Nasional /BRIN), dan Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama (Direktur Pascasarjana Universitas YARSI – Direktur WHO SEARO/World Health Organization South East Asia Regional Office, periode 2018-2020) sebagai narasumber. Selain itu, hadir pula Nurhadi, S.Pd., M.H yang merupakan anggota Komisi IX DPR RI sebagai narasumber.
Menurut Lestari, kesiapan para pemangku kepentingan dalam menerapkan mekanisme pencegahan yang tepat dan pemahaman masyarakat terkait virus Nipah harus segera dilakukan. Meski, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, di Indonesia hingga saat ini belum terkonfirmasi kasus terpapar virus Nipah.
Diakui Rerie, pemerintah sudah mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penyebaran virus Nipah yang sudah terdeteksi di sejumlah negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu mendorong agar para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah dapat memberi arahan terkait langkah-langkah antisipasi dan apa saja yang harus dilakukan masyarakat dalam menyikapi ancaman penyebaran virus Nipah di tanah air.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berharap sejumlah pihak terkait mampu membangun kewaspadaan masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun mekanisme perlindungan bagi setiap warga negara.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan serta Peneliti Ahli Utama Virologi BRIN NiLuh Putu Indi Dharmayanti mengungkapkan wabah virus Nipah yang terjadi saat ini sifatnya sporadis dan terjadi di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Paparan wabah virus Nipah itu, menurut Indi, begitu NiLuh Putu Indi Dharmayanti biasa disapa, tidak hanya menyasar manusia, tetapi juga terhadap hewan.
Di Singapura, ujar dia, virus Nipah menyerang hewan babi yang menyebabkan kerugian besar pada sejumlah peternakan.
Menurut Indi, Indonesia dengan megabiodiversity memiliki risiko tinggi terpapar virus Nipah.

Ilustrasi. Foto: Dok. Medcom.id.
Virus Nipah ini, jelas Indi, menginveksi manusia dan hewan dengan menyerang otot, pernafasan, hingga otak.
Menurut Indi, tantangan yang dihadapi dalam upaya mencegah penyebaran virus Nipah saat ini antara lain adalah data epidemiologis masih terbatas karena wabah yang terjadi masih sporadis, kapasitas diagnostik yang belum merata, dan kesadaran masyarakat yang masih rendah dalam menyikapi ancaman tersebut.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Sumarjaya mengungkapkan virus Nipah masuk kategori penyakit emerging, yaitu penyakit yang pernah muncul dan sekarang muncul kembali.
Menurut Sumarjaya, reservoir alami virus Nipah adalah kelelawar buah.
Cara penularannya, tambah Sumarjaya, bisa karena kontak langsung dengan hewan terinfeksi, mengonsumsi hewan atau makanan mentah yang terkontaminasi, dan kontak erat dengan orang terinfeksi atau benda terkontaminasi virus Nipah.
Sumarjaya mengungkapkan, masa inkubasi virus Nipah dari tepapar hingga timbul gejala membutuhkan waktu 4-14 hari.
Gejala yang muncul pada orang yang terinfeksi virus Nipah, jelas dia, awalnya demam, flu, pusing, penurunan kesadaran, gangguan pernafasan berat hingga kematian.
Hingga saat ini, jelas Sumarjaya, belum ada obat yang spesifik dan vaksin juga belum tersedia.
Sumarjaya berharap masyarakat tetap tenang bila mengalami sejumlah gejala tersebut dan segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Direktur WHO SEARO periode 2018-2020 Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan, peristiwa sebaran virus Nipah sejatinya sama dengan covid-19 yang ketika awal masih diberi nama pneumonia syndrome.
Virus Nipah, ungkap Tjandra, pertama kali mewabah di Malaysia pada 1998-1999 diberi nama wabah Hendra, sesuatu yang menyerupai virus.
Menurut Tjandra, virus Nipah ini masuk ke dalam daftar WHO pada 30 Januari 2026 sebagai disease outbreak news (DONs), yaitu informasi mengenai kejadian kesehatan masyarakat akut yang terkonfirmasi atau kejadian yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran.
Bila masuk dalam daftar WHO, jelas Tjandra, kemungkinan akan dianggap berpotensi sebagai pandemi bila tidak bisa ditanggulangi.
Kemungkinan kedua, tambah dia, juga bisa dinyatakan berhenti bila kasus-kasus virus Nipah bisa diatasi.
"Kemungkinan ketiga, bisa hanya dianggap sebagai DONs saja oleh WHO agar dunia mengetahui informasi awal dan menjadi perhatian," ujar Tjandra.
Virus Nipah ini, ungkap Tjandra, sudah masuk roadmap research and development WHO sebagai bagian upaya untuk menemukan upaya pencegahan yang lebih baik.
Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi berpendapat, membicarakan virus Nipah saat ini sangat relevan dan strategis.
Menurut Nurhadi, bukan semata karena virus Nipah penyakit menular, tetapi juga soal ketahanan sistem kesehatan nasional, kesiapsiagaan negara dan perlindungan rakyat sebelum krisis terjadi.
Berkaca dari pandemi covid-19, tambah Nurhadi, ancaman kesehatan tidak pernah datang lewat pengumuman resmi.
"Ancaman kesehatan datang dengan sunyi, kemudian membesar jika negara lalai mewaspadai tanda-tanda awal ancaman kesehatan tersebut," ujar Nurhadi.
Menurut Nurhadi, respons cepat berdasar deteksi dini sangat diperlukan untuk mengatasi ancaman virus Nipah.
Wartawan senior Saur Hutabarat mengungkapkan, di masa kecil dirinya bila melihat buah digigit binatang beranggapan itulah buah yang paling enak.
Saat ini, ujar Saur, setelah mendengar wabah virus Nipah pandangan tentang buah yang digigit hewan jadi berubah 180 derajat. "Jangan dimakan itu buah," ujar Saur.