Pemilih Independen Condong ke Demokrat Jelang Pemilu Sela, Sinyal Buruk bagi Trump

Survei Gallup menunjukkan pemilih independen AS lebih condong ke Demokrat jelang pemilu sela 2026. (Anadolu Agency)

Pemilih Independen Condong ke Demokrat Jelang Pemilu Sela, Sinyal Buruk bagi Trump

Willy Haryono • 6 September 2026 15:43

Washington: Pemilih independen di Amerika Serikat (AS) semakin condong ke Partai Demokrat menjelang pemilu sela pada November 2026.

Data terbaru Gallup menunjukkan keunggulan Demokrat atas Partai Republik di kalangan pemilih independen mencapai sembilan poin persentase.

Mengutip Washington Examiner pada Sabtu, 5 September 2026, sebanyak 49 persen responden Gallup yang tidak mengidentifikasi diri sebagai Demokrat maupun Republik mengatakan mereka lebih condong ke Demokrat. Sementara itu, 39 persen lainnya lebih condong ke Partai Republik.

Keunggulan Demokrat di kalangan pemilih independen tersebut meningkat empat poin persentase sejak kuartal pertama 2025, ketika Presiden Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih untuk periode kedua.

Perubahan juga terlihat di kalangan pemilih yang secara langsung mengidentifikasi diri dengan salah satu partai.

Secara nasional, 31 persen responden kini mengidentifikasi diri sebagai Demokrat, naik dari 28 persen ketika Trump kembali menjabat. Meski demikian, mayoritas pemilih AS masih tidak mengidentifikasi diri sebagai Demokrat maupun Republik, meskipun proporsinya berfluktuasi selama periode kedua pemerintahan Trump.

Menurut The New York Times, angka tersebut menjadi keunggulan terbesar Demokrat atas Republik sejak 2008.

Penurunan sembilan poin persentase sejak kuartal keempat 2022 di kalangan pemilih independen yang condong ke Republik berpotensi menjadi tantangan bagi kandidat Partai Republik yang berupaya merebut suara pemilih moderat dalam persaingan ketat.

Popularitas Donald Trump

Kekhawatiran Partai Republik juga diperkuat oleh tren penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Trump selama periode keduanya.

Trump sebelumnya banyak berkampanye dengan menyoroti tekanan biaya hidup yang muncul pada masa pemerintahan mantan Presiden Joe Biden. Namun, inflasi masih berada di atas target 2 persen Federal Reserve sejak konflik di Iran dimulai pada Februari.

Sejumlah pemilih juga semakin mengaitkan penurunan dukungan terhadap Trump dengan ketegangan di Timur Tengah serta kenaikan biaya yang dipicu gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Di sisi lain, Partai Republik berharap tokoh-tokoh sosialis yang menonjol di Partai Demokrat, termasuk Wali Kota New York Zohran Mamdani dan kandidat Senat AS dari Demokrat di Michigan, Abdul el Sayed, dapat membantu mereka dalam sejumlah persaingan ketat.

Komite Nasional Partai Republik (RNC) juga menggelar konvensi bernuansa kampanye di Texas pekan ini. Partai tersebut berupaya membangun kontras politik yang mereka sebut sebagai "akal sehat melawan kegilaan."

Survei Gallup tersebut menggunakan sampel acak gabungan lebih dari 3.000 orang dewasa AS. Survei memiliki margin of error sebesar dua poin persentase.

Baca juga: Trump Peringatkan Risiko Pemakzulan Jika Partai Republik Kalah Pemilu Sela

(Willy Haryono)