Korut Kecam Latihan Freedom Edge AS-Korsel-Jepang, Ancam Akan Membalas

Ilustrasi latihan militer. (Anadolu Agency)

Korut Kecam Latihan Freedom Edge AS-Korsel-Jepang, Ancam Akan Membalas

Willy Haryono • 8 September 2026 06:26

Pyongyang: Korea Utara mengecam latihan militer gabungan Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang yang berlangsung selama lima hari.

Pyongyang memperingatkan akan adanya konsekuensi atas apa yang disebutnya sebagai aktivitas militer Washington yang semakin provokatif di Semenanjung Korea.

Latihan bernama Freedom Edge tersebut dimulai dengan upacara pembukaan di Pangkalan Udara Yokota, Jepang pada Senin kemarin, dan akan berlangsung hingga Jumat mendatang.

Menurut Komando Pasifik AS, latihan digelar di perairan dan wilayah udara internasional di sebelah selatan Korea Selatan, serta sejumlah instalasi militer dan pos komando di Jepang.

Freedom Edge merupakan latihan trilateral yang berfokus pada peningkatan interoperabilitas dalam operasi udara, maritim, dan siber. Latihan tersebut juga mencakup pertahanan udara dan rudal terintegrasi.

Dikutip dari Anadolu Agency, Selasa, 8 September 2026, Korea Selatan menyebut latihan itu bersifat defensif dan bertujuan memperkuat kemampuan penangkalan serta respons terhadap ancaman nuklir dan rudal Korea Utara.

Namun, Pyongyang memandang latihan tersebut sebagai ancaman terhadap Korea Utara dan negara-negara lain di kawasan.

Dalam pernyataan Kementerian Pertahanan yang disiarkan Korean Central News Agency (KCNA), Korea Utara menuduh Washington melakukan “provokasi militer” dan berjanji mengambil “langkah-langkah respons."

Menteri Pertahanan Korea Utara Kim Song-ji menyampaikan peringatan terhadap apa yang disebutnya sebagai gerakan militer sembrono AS dan negara-negara sekutunya.

Langkah tersebut, menurut Kim, berpotensi menciptakan konfrontasi militer serius dan meningkatkan kemungkinan konflik di Semenanjung Korea. Kim juga memperingatkan secara tegas mengenai konsekuensi yang dapat ditimbulkan oleh latihan tersebut.

Pernyataan Kementerian Pertahanan Korut menegaskan tidak ada perubahan dalam kebijakan Pyongyang untuk merespons permusuhan AS dengan “pendirian paling keras sampai akhir."

Berlangsung setelah Trump Minta Pengurangan Latihan

Latihan Freedom Edge berlangsung beberapa pekan setelah Presiden AS Donald Trump meminta pengurangan latihan militer bilateral AS-Korea Selatan.

Pada 17 Agustus, Trump mengatakan telah menginstruksikan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk “secara substansial mengurangi” latihan bilateral yang telah direncanakan.

Trump saat itu menyinggung biaya latihan serta hubungannya dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Menurut Trump, latihan militer tersebut mengirimkan sinyal yang “tidak pantas dan bermusuhan” kepada Pyongyang. Meski demikian, latihan Freedom Edge tetap digelar sebagai latihan trilateral AS, Korea Selatan, dan Jepang.

Latihan ini menjadi bagian dari upaya ketiga negara memperkuat koordinasi pertahanan di tengah kekhawatiran terhadap pengembangan program nuklir dan rudal Korea Utara.

Pyongyang secara konsisten menilai latihan militer gabungan AS dan sekutunya sebagai simulasi invasi, sementara Washington dan Seoul menyatakan latihan tersebut diperlukan untuk meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman dari Korea Utara.

Baca juga: AS Bersama Korsel dan Jepang Memulai Latihan Militer Gabungan Lima Hari

(Willy Haryono)