10 Letusan Gunung Terdahsyat di Dunia, Tambora Nomor 1

Awan abu raksasa dari letusan Gunung Pinatubo, 1991. (Dok. USGS)

10 Letusan Gunung Terdahsyat di Dunia, Tambora Nomor 1

Riza Aslam Khaeron • 6 September 2026 20:11

Jakarta: Letusan gunung berapi menjadi salah satu bencana alam paling dahsyat di dunia. Selain menghasilkan lava dan abu vulkanik, letusan besar dapat memicu aliran piroklastik, tsunami, hingga perubahan kondisi iklim dalam skala global.
 
BBC Science Focus mencatat sejumlah letusan terbesar dalam 200 tahun terakhir. Untuk membandingkan kekuatan letusan, digunakan Volcanic Explosivity Index (VEI) yang memiliki skala 0 hingga 8. Sementara itu, jumlah material yang dikeluarkan dalam setiap letusan diukur menggunakan Dense Rock Equivalent (DRE).

Dilansir dari BBC Science Focus, berikut 10 letusan gunung terdahsyat berdasarkan daftar tersebut.
 

Gunung Tambora, Indonesia – 1815


Kaldera Gunung Tambora yang terbentuk akibat letusan dahsyat 1815. (NASA)

Letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pada 1815 menjadi letusan gunung berapi terbesar yang tercatat dalam sejarah manusia.

Letusan tersebut memiliki skala VEI 7 dengan material yang dikeluarkan diperkirakan mencapai 35–50 kilometer kubik. Aktivitas erupsi dimulai pada 5 April 1815 dan berlangsung selama lebih dari empat bulan.

Letusan besar Tambora mengeluarkan abu dan gas dalam jumlah sangat besar ke atmosfer. Ketinggian gunung pun berkurang sekitar sepertiga akibat erupsi tersebut. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar Sumbawa. Material vulkanik yang memenuhi atmosfer menghalangi sinar matahari dan memengaruhi kondisi iklim global.

Tahun 1816 kemudian dikenal sebagai "tahun tanpa musim panas" karena perubahan iklim tersebut memicu gagal panen dan kekurangan pangan di berbagai wilayah dunia. BBC Science Focus memperkirakan sedikitnya 71.000 orang meninggal akibat rangkaian dampak letusan Tambora, termasuk akibat kelaparan.
 

Novarupta, Amerika Serikat – 1912

Letusan Novarupta di Alaska pada 1912 tercatat sebagai letusan gunung berapi terbesar pada abad ke-20. Erupsi ini memiliki skala VEI 6 dan menghasilkan sekitar 13–14 kilometer kubik material.
Letusan berlangsung selama tiga hari dan mengeluarkan material sekitar 30 kali lebih banyak dibandingkan letusan Mount St. Helens pada 1980.

Aliran piroklastik dari erupsi tersebut membentuk kawasan yang kemudian dikenal sebagai Valley of Ten Thousand Smokes. Meski kekuatannya sangat besar, tidak ada korban jiwa manusia yang tercatat.
 

Krakatau, Indonesia – 1883

Letusan Krakatau di Indonesia pada 1883 merupakan salah satu letusan gunung berapi paling terkenal dalam sejarah.

Letusan ini memiliki skala VEI 6 dan menghasilkan sekitar 9 kilometer kubik material. Ledakan besar menghasilkan aliran piroklastik serta tsunami yang menyapu kawasan di sekitar Selat Sunda.
BBC Science Focus memperkirakan sekitar 36.600 orang meninggal dalam rangkaian bencana tersebut.

Besarnya ledakan juga menghasilkan suara yang terdengar hingga wilayah Perth, Australia, yang berjarak lebih dari 3.000 kilometer. Abu vulkanik yang memenuhi atmosfer turut memengaruhi suhu global dan membuat warna matahari terbenam terlihat berbeda di berbagai belahan dunia.
 

Santa Maria, Guatemala – 1902

Gunung Santa Maria di Guatemala mengalami letusan besar pada 1902 setelah lama tidak menunjukkan aktivitas signifikan. Letusan gunung ini berlangsung selama 19 hari. Erupsi tersebut memiliki skala VEI 6 dan menghasilkan sekitar 6,4 kilometer kubik material.

Awan abu vulkanik membuat wilayah hingga sekitar 160 kilometer dari gunung mengalami kondisi gelap selama 53 jam. Abu bahkan dilaporkan mencapai San Francisco, Amerika Serikat, yang berjarak sekitar 4.000 kilometer.

BBC Science Focus memperkirakan korban meninggal dalam letusan ini mencapai 7.000–13.000 orang.
 

Gunung Pinatubo, Filipina – 1991

Gunung Pinatubo di Pulau Luzon, Filipina, meletus pada 1991 dengan kekuatan VEI 6 dan menghasilkan sekitar 4,8 kilometer kubik material. Erupsi menghasilkan kolom abu yang sangat tinggi, aliran piroklastik, serta lahar yang menghancurkan permukiman dan wilayah pertanian.

Dampak letusan semakin diperparah oleh Topan Yunya yang melanda Filipina ketika aktivitas Pinatubo mencapai puncaknya. Abu dan debu vulkanik kemudian tersebar lebih luas akibat angin kencang yang dibawa topan.

BBC Science Focus mencatat 1.202 orang meninggal akibat bencana tersebut.
   

Hunga Tonga-Hunga Ha'apai, Tonga – 2022

Letusan gunung api bawah laut Hunga Tonga-Hunga Ha'apai di Tonga pada 15 Januari 2022 memiliki skala VEI 5,7 dengan sekitar 7,1 kilometer kubik material yang dikeluarkan. Erupsi tersebut menghancurkan bagian pulau yang berada di atas permukaan laut dan menghasilkan kolom abu yang mencapai sekitar 20 kilometer ke atmosfer.

Letusan juga memicu tsunami besar di kawasan Samudra Pasifik dan menyebabkan enam orang meninggal dunia. Erupsi ini turut mengeluarkan air dalam jumlah sangat besar ke atmosfer. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian karena dapat memicu perubahan pada lapisan ozon.


Quizapu, Chile – 1932

Gunung Quizapu di Pegunungan Andes, Chile, mengalami letusan besar pada 10 April 1932. Erupsi ini memiliki skala VEI 5 dengan perkiraan material yang dikeluarkan mencapai 7–10 kilometer kubik.

Letusan ini menghasilkan abu vulkanik dalam jumlah besar yang terbawa hingga ke wilayah Argentina. Material vulkanik berupa lapili juga jatuh di sejumlah wilayah akibat erupsi tersebut.
Meski tidak ada korban jiwa manusia yang tercatat, vegetasi di sekitar gunung mengalami kerusakan parah.

BBC Science Focus menyebut kawasan yang terdampak membutuhkan waktu lebih dari 60 tahun untuk kembali ditumbuhi vegetasi.
 

Mount Hudson, Chile – 1991

Mount Hudson merupakan salah satu gunung berapi aktif di Chile. Letusannya terjadi pada 1991 dan memiliki skala VEI 5 dengan material yang diperkirakan mencapai 1,6–2,7 kilometer kubik.
Saat letusan mencapai puncaknya, pecahan batu vulkanik terlontar hingga ketinggian sekitar 18 kilometer.

Material dari letusan tersebut juga terbawa angin hingga mencapai Kepulauan Falkland, sekitar 1.000 kilometer dari lokasi gunung.

Tidak ada korban jiwa manusia karena warga telah dievakuasi ketika aktivitas gunung mulai meningkat. Namun, hujan abu menyebabkan ribuan hewan ternak mati akibat dampaknya terhadap lahan penggembalaan.
 

El Chichón, Meksiko – 1982

Gunung El Chichón di Chiapas, Meksiko, mengalami letusan besar pada 1982 setelah sebelumnya dianggap tidak aktif selama lebih dari 600 tahun. Erupsi pertamanya terjadi pada 28 Maret. Beberapa hari kemudian aktivitas gunung sempat mereda sehingga sebagian warga yang telah mengungsi mulai kembali.

Namun, pada 4 April, El Chichón kembali meletus dan menghasilkan aliran piroklastik yang terdiri dari gas panas, abu, dan batuan. Aliran tersebut menghantam sejumlah desa di sekitar gunung.
Letusan juga melepaskan sulfur dioksida dalam jumlah besar ke atmosfer. BBC Science Focus memperkirakan sekitar 1.900 orang meninggal dalam rangkaian letusan tersebut.
   

Mount St. Helens, Amerika Serikat – 1980


Foto: USGS

Mount St. Helens di Amerika Serikat meletus pada 18 Mei 1980 setelah menunjukkan peningkatan aktivitas selama beberapa bulan. Letusan tersebut memiliki skala VEI 5 dan menghasilkan sekitar 0,5 kilometer kubik material.

Beberapa bulan sebelum erupsi, aktivitas Mount St. Helens meningkat dan ditandai oleh serangkaian gempa bumi yang menunjukkan pergerakan magma di dalam gunung. Ketika erupsi terjadi, ledakan menghasilkan gelombang tekanan dengan kecepatan hingga 1.080 kilometer per jam. Area sekitar 600 kilometer persegi terdampak dalam hitungan menit.

BBC Science Focus mencatat 57 orang meninggal dunia. Letusan tersebut juga menjadi erupsi gunung berapi paling merusak dan mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.

(Siti Nahdia Usman)

(Riza Aslam Khaeron)