Sejarah Erupsi Gunung Anak Krakatau, Tsunami 1883 hingga Letusan 2026

Litografi letusan gunung Krakatau tahun 1883. (Parker & Coward via Wikimedia Commons)

Sejarah Erupsi Gunung Anak Krakatau, Tsunami 1883 hingga Letusan 2026

Riza Aslam Khaeron • 6 September 2026 19:42

Jakarta: Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik intens pada awal September 2026. Erupsi terjadi terus-menerus sejak Jumat malam, 4 September 2026, disertai suara gemuruh, lontaran material pijar, hingga fenomena menyerupai lava fountain atau air mancur lava.
 
Pada Minggu, 6 September 2026, BMKG mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.

Gunung ini kembali meletus dalam waktu delapan tahun sejak bencana letusan dan tsunami pada 2018, mengingatkan ini merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.

Berdasarkan buku Dinamika Geologi Selat Sunda publikasi Badan Geologi, sejak kemunculannya di permukaan pada 1929, gunung ini memiliki rata-rata siklus letusan empat tahun sekali.

Masa istirahat kegiatan letusannya berkisar antara satu sampai delapan tahun, dengan laju pertumbuhan mencapai empat meter per tahun, menjadikannya sebagai salah satu gunung paling aktif di Indonesia.

Berikut sejarah gunung berapi aktif mulai dari bencana awal yang melatarbelakangi kelahirannya hingga kondisi terkini.
 

Letusan dahsyat Krakatau 1883


Sebuah ukiran awal berjudul “Het Brandende Eiland” (“Pulau yang Terbakar”) karya Jan V. Schley, yang diduga menggambarkan erupsi Krakatau sekitar tahun 1680. (Jelle Zellinga de Boer, dkk)

Sejarah Anak Krakatau tidak dapat dilepaskan dari letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883. Meskipun Gunung Anak Krakatau belum terbentuk saat itu, peristiwa ini merupakan pemicu utama lahirnya gunung tersebut.

Peristiwa ini kerap dicatat sebagai salah satu letusan gunung berapi terdahsyat dalam sejarah modern, hampir 70 tahun setelah letusan Gunung Tambora di Sumbawa pada 1815.

Berdasarkan buku Volcanoes in Human History: The Far-Reaching Effects of Major Eruptions karya Donald Theodore Sanders, dkk pada 26 Agustus, letusan gunung tersebut memicu guncangan kuat yang membuat warga terjaga di malam hari hingga ke Batavia (sekarang Jakarta) dan terasa sampai ke Australia.

Pada 27 Agustus, suara letusan gemuruhnya bahkan terdengar hingga ke Filipina, Australia, dan Ceylon (sekarang Sri Lanka). Di hari yang sama, letusan tersebut memicu tsunami dahsyat yang menerjang pesisir Pulau Jawa dan Sumatra serta menghancurkan lebih dari 160 pemukiman.

Tidak ada data pasti mengenai jumlah total korban jiwa akibat letusan Krakatau pada 1883 karena pencatatan populasi yang belum akurat, ditambah ribuan korban tersapu ke laut.

Pemerintah kolonial Belanda mencatat 36.417 orang tewas, dengan 90 persen di antaranya akibat gelombang tsunami. Sementara itu, 10 persen sisanya yang berada di pesisir Sumatra tewas akibat hempasan awan panas vulkanik (pyroclastic surge).

Meskipun malapetaka pada 1883 tidak disebabkan langsung oleh Gunung Anak Krakatau, peristiwa ini yang melatarbelakangi kelahiran gunung tersebut. Saat kejadian, tiga puncak Krakatau purba, Perbuwatan, Danan, dan separuh Rakata runtuh menjadi kantong magma yang kosong, membentuk kaldera di  bawah laut.

Hampir setengah abad kemudian, pada 1927, gunung api baru, Anak Krakatau, mulai muncul dan erupsi dari dasar kaldera bawah laut tersebut.

Kelahiran Gunung Anak Krakatau (1927-1929)


Ilustrasi: X/@zakiberkata

Anak Gunung Krakatau lahir pada1927 di dalam kaldera 1883, tepatnya di titik antara bekas kerucut Danan dan Perbuwatan di bawah laut.

Pada 29 Desember 1927, terjadi letusan bawah laut pertama yang menyemburkan air laut di pusat Kompleks Gunung Api Krakatau menyerupai air mancur. Fenomena ini berlangsung terus-menerus hingga 15 Januari 1929, ketika material vulkanik akhirnya muncul menembus permukaan laut.

Pada 20 Januari 1929, dinding kawah mulai terbentuk di sekitar pusat aktivitas dan pulau baru di sekitar kawah tersebut resmi dinamai Gunung Anak Krakatau. Mengingat erupsi pada periode ini berlangsung di bawah laut, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan darat yang tercatat.
 

Danau Kawah Gunung Anak Krakatau (1931-1960)

Setelah muncul ke permukaan, Anak Krakatau memasuki periode aktivitas vulkanik yang sangat tinggi. Berdasarkan catatan Badan Geologi, sekitar 47 letusan terjadi antara tahun 1931 hingga 1960.

Pada awalnya, kawah gunung berbentuk menyerupai bulan sabit dan terbuka ke arah barat hingga barat daya, sehingga air laut dapat masuk dan membentuk danau kawah. Namun, danau kawah tersebut akhirnya lenyap pada 1961 akibat akumulasi endapan material letusan.
 

Erupsi Hampir Setiap Hari (1992)


Gunung Krakatau 1993. (Ruska Hadian/PVMBG)

Salah satu periode paling aktif dalam sejarah modern Anak Krakatau dimulai pada November 1992. Sejak November 1992 hingga Juni 2001, Gunung Api Anak Krakatau meletus hampir setiap hari, bahkan kerap terjadi setiap 15 menit sekali. 

Pada 7 November 1992, jumlah gempa vulkanik dangkal meningkat pesat. Sehari kemudian, lebih dari 400 gempa gunung api terekam dalam kurun waktu 10 jam menjelang letusan utama pada 8 November.
 

Ratusan Letusan dalam Sehari (2007-2009)

Aktivitas vulkanik kembali meningkat tajam pada Oktober 2007. PVMBG menaikkan status menjadi Level III (Siaga) pada 26 Oktober setelah kegempaan melonjak dan kolom abu vulkanik berulang kali membumbung tinggi. Masyarakat serta wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak.

Aktivitasnya semakin intensif pada 9 November 2007 dengan mencatatkan 182 kali letusan dalam sehari yang disertai gempa vulkanik. Lava pijar terlontar dari kawah, sementara aliran lava meluncur ratusan meter menuruni lereng.

Erupsi berulang terus berlanjut hingga 2008 dan 2009. Pada April 2008, suara dentuman dari Anak Krakatau bahkan terdengar hingga pos pengamatan yang berjarak sekitar 42 kilometer. Pada 25 Maret 2009, tercatat 19 kali erupsi dalam sehari, memicu perpanjangan status Siaga hingga Mei 2009.
   

Ribuan Gempa dan Abu Sampai Bandar Lampung (2011-2012)

Pada akhir September 2011, aktivitas seismik meningkat pesat hingga 4–5 kali gempa vulkanik per menit. Status kembali dinaikkan ke Level III (Siaga) dan area steril dinaikkan. Smithsonian Institution mencatat kegempaan harian mencapai ribuan kali, dengan puncak 5.883 kejadian seismik pada 8 Oktober 2011.

Pada September 2012, erupsi tipe Strombolian melontarkan lava sejauh 200–300 meter di atas kawah. Hujan abu terbawa angin ke utara hingga menutupi kota Bandar Lampung yang berjarak sekitar 75 kilometer. Aliran lava juga mencapai bibir pantai dan memperpanjang garis pantai pulau sejauh 100 meter.
 

Tsunami Gunung Anak Krakatau (2018)


Letusan gunung Anak Krakatau 2018. (Wikimedia Commons)

Peristiwa paling mematikan sepanjang sejarah Anak Krakatau terjadi pada 22 Desember 2018.

Setelah mengalami rangkaian erupsi selama berbulan-bulan, sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau runtuh dan longsor ke dalam laut Selat Sunda. Longsoran material skala masif ini memindahkan volume air laut secara mendadak dan memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung tanpa peringatan gempa awal.

Berdasarkan data BNPB, tsunami tersebut mengakibatkan:
  • 437 orang meninggal dunia
  • 10 orang hilang
  • 31.943 orang mengalami luka-luka
  • 16.198 orang mengungsi
Kerusakan fisik meluas di sepanjang pesisir Selat Sunda, mencakup 1.527 rumah rusak berat, ratusan bangunan fasilitas umum hancur, serta 434 perahu dan kapal rusak. Dampak bencana tercatat di Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Pesawaran, hingga Tanggamus dan memaksa lebih 40 ribu orang mengungsi.
 

Erupsi Kolom Abu hingga 1.000 Meter (2022-2023)

Pada awal Februari 2022, aktivitas erupsi kembali melonjak. Badan Geologi mencatat sembilan kali letusan pada 4 Februari 2022 dengan tinggi kolom abu mencapai 800 hingga 1.000 meter di atas puncak.

Saat itu status berada pada Level II (Waspada) sebelum berfluktuasi sepanjang tahun. Rangkaian erupsi berlanjut sepanjang 2023. Pada Januari, letusan menghasilkan kolom abu setinggi 300–350 meter disertai lontaran material pijar.

Peningkatan signifikan terjadi pada 5 Desember 2023 ketika erupsi menghasilkan kolom abu hingga 1.000 meter di atas puncak, membuat status kembali dinaikkan ke Level III (Siaga). Rangkaian erupsi terus tercatat hingga 16 Desember 2023 sebelum memasuki fase jeda erupsi yang relatif panjang.
   

Erupsi Setelah Jeda Panjang (2026)


Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik yang diduga sampai ke Kota Bandarlampung. Minggu (6/9/2026). ANTARA/HO-Tangkapan layar

Aktivitas erupsi Anak Krakatau kembali aktif pada 2 Juli 2026 dengan dua kali letusan utama. Sejak saat itu, status aktivitas dinaikkan kembali menjadi Level III (Siaga). Erupsi berkembang menjadi tipe Strombolian yang ditandai ledakan berulang, lontaran batu pijar, serta semburan abu vulkanik.

Dalam aktivitas terbaru mulai Jumat, 4 September 2026, Anak Krakatau mengalami erupsi terus-menerus selama beberapa jam disertai suara gemuruh dan semburan merah menyala. Fenomena ini membentuk lava fountain (air mancur lava) yang menyemburkan material pijar ke udara dan mengalirkan lava ke lereng gunung.

Sebaran abu vulkanik dilaporkan menjangkau wilayah Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, hingga Bengkulu.

(Riza Aslam Khaeron)