Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saar meninjau lokasi Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Menteng Atas, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Foto: dok. Pemprov DKI.
Pramono: Mulai Agustus Sampah ke Bantargebang Hanya untuk Residu
Gabriella Thesa Widiari • 30 July 2026 19:08
Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan mengubah sistem pengelolaan sampah Jakarta dari pola kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah. Per 1 Agustus 2026, sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang harus dipilah dan diolah sejak dari sumber.
"Kalau dulu kumpul-angkut-buang, sekarang menjadi pilah-angkut-olah. Mulai 1 Agustus 2026, sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang diarahkan hanya berupa residu," kata Pramono, dalam keterangan tertulis, Kamis, 30 Juli 2026.
"Kebijakan ini merupakan langkah konkret untuk menghentikan praktik open dumping secara bertahap menuju target zero open dumping pada 2029," kata Pramono.
Adapun transformasi tersebut mulai diperkuat melalui optimalisasi fasilitas pengolahan sampah di tingkat wilayah. Salah satunya dilakukan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Menteng Atas, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.
TPS 3R Menteng Atas merupakan hasil kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan PT Morego Green Indonesia dan PT Metro Klina Intranusa melalui skema creative financing dalam bentuk joint operation. TPS 3R Menteng Atas ini berada di kawasan padat penduduk sekaligus pusat aktivitas ekonomi Setiabudi dan Kuningan, yanng memiliki kapasitas terpasang 25 ton sampah per hari dengan potensi pengembangan kapasitas hingga 132 ton per hari.
Menurut Pramono, keberhasilan transformasi pengelolaan sampah hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Masyarakat didorong membiasakan memilah sampah sejak dari rumah, sementara kawasan komersial, perkantoran, hotel, restoran, dan kafe (Horeka) diwajibkan mengelola sampah yang dihasilkannya secara mandiri.
Sebagai langkah transisi sebelum Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) beroperasi penuh, Pemprov DKI Jakarta mengoptimalkan seluruh TPS 3R yang tersebar di berbagai wilayah. Saat ini terdapat 29 TPS 3R di Jakarta, namun tingkat pemanfaatan kapasitasnya baru sekitar 21 persen.
"Model kemitraan ini akan menjadi percontohan untuk mengoptimalkan TPS 3R lainnya di Jakarta," kata Pramono.

TPS 3R Menteng Atas. Foto: dok. Pemprov DKI.
Saat ini, TPS 3R Menteng Atas baru mengolah sekitar 6–8 ton sampah per hari sehingga masih memiliki ruang yang besar untuk meningkatkan volume pengolahan. Potensi tersebut membuka peluang bagi Horeka, kawasan komersial, perkantoran, serta pelaku usaha lainnya untuk berpartisipasi dengan menyalurkan sampah terpilah agar dapat diolah secara bertanggung jawab di TPS 3R Menteng Atas.
Pemprov DKI Jakarta juga telah membebaskan lahan seluas 40 hektare di Ciaingir, Banten, untuk memperkuat pengolahan sampah organik. Upaya tersebut melengkapi pembangunan tiga unit PLTSa, termasuk di Sunter, yang diproyeksikan mampu mengolah hingga 7.500 ton sampah per hari, serta fasilitas RDF di Rorotan dan Bantargebang.