Tim gabungan melakukan evakuasi warga yang terdampak banjir di sejumlah wilayah di Kota Padang pada Senin (3/8). (Sumber: BPBD Kota Padang)
Potensi Hujan Deras Masih Mengancam Wilayah Sumbar
Yose Hendra • 4 August 2026 18:33
Padang: Ancaman cuaca ekstrem masih menghantui Sumatra Barat setelah hujan deras memicu banjir dan genangan di sejumlah wilayah, terutama Kota Padang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi hujan lebat masih mungkin terjadi dalam beberapa hari mendatang.
Peneliti Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Barat di Sicincin, Rizky Armei Saputra, menyatakan kondisi atmosfer penyebab cuaca ekstrem di Sumbar hingga kini masih berlangsung.
"Potensi cuaca ekstrem masih ada. Pemicu utamanya adalah sirkulasi siklonik yang masih aktif di sekitar wilayah Indonesia bagian barat sehingga mendukung pembentukan awan hujan," kata Rizky, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurutnya, hujan yang mengguyur Kota Padang pada Senin, 3 Agustus 2026, tergolong ekstrem. Hasil pengamatan BMKG menunjukkan curah hujan di Lubuk Minturun mencapai 286 milimeter dalam sehari, setara dengan akumulasi hujan sepanjang satu bulan.
"Curah hujan sebulan tumpah dalam sehari. Itu masuk kategori ekstrem," ujarnya.
Baca Juga :
BNPB: Banjir 1,5 Meter di Padang Mulai Surut
BMKG menetapkan kategori hujan ekstrem jika curah hujan harian melebihi 150 milimeter. Selain Lubuk Minturun, sejumlah stasiun pemantau lain juga mencatat angka sangat tinggi, seperti Nanggalo 248 mm, AWS Bungus 255 mm, dan Stasiun Universitas Andalas 164 mm dalam sehari. Rizky mengungkapkan curah hujan di Lubuk Minturun merupakan rekor tertinggi selama 16 tahun terakhir di lokasi tersebut.
"Curah hujan yang tercatat pada 4 Agustus 2026 di Lubuk Minturun menjadi nilai tertinggi dalam 16 tahun terakhir," katanya.
Ia menjelaskan cuaca ekstrem kali ini dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor atmosfer yang terjadi bersamaan, seperti konvergensi massa udara, sirkulasi siklonik di Samudra Hindia, aktifnya gelombang Rossby ekuatorial, suhu permukaan laut yang lebih hangat dari normal, serta gelombang Kelvin yang turut memperkuat kondisi tersebut.

Ilustrasi banjir di Padang (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
"Kondisi-kondisi tersebut saling memperkuat proses pembentukan awan konvektif sehingga hujan yang turun menjadi sangat lebat dan berlangsung dalam durasi yang cukup panjang," jelasnya.
BMKG mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir, tanah longsor, genangan, pohon tumbang, dan angin kencang, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana atau di bantaran sungai.
Rizky juga mengingatkan masyarakat agar terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan.