Fenomena Langit Agustus 2026, Hujan Meteor hingga Gerhana Matahari Total

Ilustrasi Hujan Meteor. (NASA)

Fenomena Langit Agustus 2026, Hujan Meteor hingga Gerhana Matahari Total

Riza Aslam Khaeron • 30 July 2026 18:43

Jakarta: Bulan Agustus 2026 akan dihiasi sejumlah fenomena astronomi menarik, mulai dari penampakan dan konjungsi planet, kemunculan komet, hingga puncak hujan meteor Perseid. Selain itu, dua peristiwa gerhana juga dijadwalkan terjadi pada bulan ini, yaitu Gerhana Matahari Total dan Gerhana Bulan Sebagian.

Meski demikian, tidak semua fenomena tersebut dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus dan Gerhana Bulan Sebagian pada 28 Agustus 2026 tidak melintasi wilayah Tanah Air.

Walau begitu, masyarakat di Indonesia masih bisa menikmati berbagai fenomena langit lainnya, baik secara langsung dengan mata telanjang maupun menggunakan bantuan binokular dan teleskop kecil.

Berdasarkan NASA dan International Meteor Organization (IMO) Berikut adalah deretan fenomena langit yang akan berlangsung sepanjang Agustus 2026:

1. Elongasi Barat Maksimum Merkurius (2 Agustus 2026)

Menurut In-the-sky.org, Merkurius akan mencapai titik elongasi barat maksimum pada 2 Agustus 2026. Pada kondisi ini, planet terdekat dari Matahari tersebut berada pada jarak sudut sekitar 19 derajat di sebelah barat Matahari.

Posisi ini menjadi waktu terbaik untuk mengamati Merkurius di langit timur sebelum Matahari terbit. Planet ini akan tampak bagai titik cahaya terang menyerupai bintang dengan magnitudo sekitar 0,0. Pengamatan disarankan dilakukan dari lokasi yang memiliki pandangan terbuka ke arah horizon timur.

2. Komet 10P/Tempel (3 Agustus 2026)

Komet 10P/Tempel diperkirakan mencapai titik paling terang sekaligus berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi pada 3 Agustus 2026, yaitu sekitar 0,41 satuan astronomi.

Dengan perkiraan tingkat kecerlangan mencapai magnitudo 7,4, komet ini tidak dapat diamati dengan mata telanjang. Pengamat memerlukan binokular atau teleskop kecil serta lokasi pengamatan berlangit gelap. Perlu dicatat bahwa kecerlangan komet dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada aktivitas debu dan gasnya.

3. Bulan Berdekatan dengan Saturnus (4 Agustus 2026)

Bulan dan Saturnus akan tampak berdekatan di kawasan konstelasi Pisces pada 4 Agustus 2026. Jarak sudut di antara kedua benda langit ini diperkirakan sekitar 6 derajat.

Fenomena ini dapat diamati langsung mulai malam hari hingga menjelang fajar. Bulan akan tampak menonjol karena tingkat kecerlangannya, sedangkan Saturnus terlihat sebagai titik cahaya kekuningan yang stabil dan tidak berkedip.

4. Bulan Berdekatan dengan Mars (9 Agustus 2026)

Pada 9 Agustus 2026 menjelang fajar, Bulan sabit tua akan tampak berdampingan dengan Mars di konstelasi Taurus. Kedua benda langit ini terpisah dengan jarak sudut sekitar 4 derajat.

Mars dapat dikenali dari warnanya yang khas kemerahan, sementara Bulan menampilkan sebagian kecil permukaannya yang memantulkan sinar Matahari. Pemandangan ini dapat dipantau di langit timur laut beberapa jam sebelum fajar menyingsing.

5. Gerhana Matahari Total (12 Agustus 2026)

Gerhana Matahari Total akan berlangsung pada 12 Agustus 2026. Berdasarkan NASA, jalur totalitas gerhana ini melintasi Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, hingga sebagian wilayah Spanyol, dengan durasi totalitas terlama mencapai sekitar 2 menit 18 detik.

Menurut BMKG, fenomena ini tidak melewati wilayah Indonesia. Masyarakat di Indonesia hanya dapat mengikuti jalurnya melalui tayangan siaran langsung atau dokumentasi dari lokasi yang dilintasi gerhana.

6. Puncak Hujan Meteor Perseid (12–13 Agustus 2026)

Hujan meteor Perseid menjadi salah satu fenomena utama pada bulan ini. Berdasarkan IMO, aktivitas Perseid sudah berlangsung sejak 17 Juli hingga 24 Agustus dan diprediksi mencapai puncaknya pada 13 Agustus.

Berasal dari rekah serpihan Komet 109P/Swift-Tuttle, hujan meteor ini mampu menghadirkan sekitar 50 hingga 100 meteor per jam pada kondisi ideal. Perseid dikenal dengan karakteristik meteornya yang meluncur cepat, terang, serta kerap meninggalkan jejak cahaya yang bertahan beberapa detik.

Puncak Perseid tahun ini diuntungkan oleh fase Bulan baru sehingga bebas dari gangguan cahaya Bulan. Dari Indonesia, waktu pengamatan terbaik adalah menjelang fajar dengan mengarah ke langit utara atau timur laut. Intensitas meteor yang terlihat dari Indonesia kemungkinan lebih rendah dibanding wilayah di lintang utara karena posisi titik radiant yang relatif lebih rendah.


Hujan meteor Perseid melintas di langit yang sebagian berawan di atas Hutan Nasional Inyo di Bishop, California, pada tahun 2024. (Preston Dyches/NASA)

7. Venus Mencapai Elongasi Timur Maksimum (15 Agustus 2026)

Venus akan berada pada posisi elongasi timur maksimum pada 15 Agustus 2026. Kondisi ini membuat Venus berada pada sudut pengamatan yang ideal di langit barat setelah Matahari terbenam.
Planet ini akan bersinar sangat terang dengan magnitudo sekitar -4,3.

Karena tingkat kecerlangannya yang menonjol dibanding objek langit sekitar, Venus sering kali dijuluki sebagai "Bintang Kejora".

8. Bulan Sabit Berdekatan dengan Venus (16 Agustus 2026)

Sehari setelah Venus mencapai elongasi maksimum, Bulan sabit muda akan melintas berdekatan dengan planet tersebut pada 16 Agustus 2026. Jarak sudut keduanya tergolong sangat dekat, yaitu sekitar 1 derajat 50 menit busur.

Fenomena konjungsi ini dapat disaksikan langsung tanpa alat bantu di langit barat sesaat setelah Matahari terbenam. Momen ini juga menjadi target menarik bagi para fotografer untuk mengabadikan pemandangan langit berpadu dengan lanskap kota atau alam.

9. Puncak Hujan Meteor Kappa Cygnid (18 Agustus 2026)

Hujan meteor minor Kappa Cygnid aktif sepanjang 3–25 Agustus dan mencapai puncaknya sekitar 18 Agustus. Karena berskala minor, jumlah kemunculan meteor per jamnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Perseid.

Titik asal (radiant) meteor ini berada di kawasan konstelasi Draco dan Cygnus. Bagi pengamat di Indonesia bagian selatan, pengamatan tergolong cukup menantang karena posisi titik radiant berada rendah di horizon utara. Meskipun demikian, meteor terang masih berpeluang melintas melintasi bagian langit lain.

10. Bulan Purnama dan Gerhana Bulan Sebagian (28 Agustus 2026)

Bulan akan memasuki fase purnama penuh pada 28 Agustus 2026 pukul 11.18 WIB. Pada hari yang sama, terjadi Gerhana Bulan Sebagian dengan sekitar 93 persen piringan Bulan masuk ke dalam bayangan umbra Bumi.

Gerhana ini dapat disaksikan dari wilayah Amerika, Eropa, Afrika, serta sebagian Samudra Pasifik. Namun, fenomena ini tidak dapat diamati dari Indonesia karena Bulan berada di bawah garis horizon saat peristiwa berlangsung. Masyarakat Indonesia tetap dapat menikmati keindahan piringan Bulan purnama pada malam sebelum dan sesudahnya.

11. Bulan Kembali Berdekatan dengan Saturnus (31 Agustus 2026)

Agustus 2026 ditutup dengan fenomena konjungsi antara Bulan dan Saturnus pada 31 Agustus. Kedua objek ini akan terpisah jarak sudut sekitar 6 derajat di konstelasi Pisces.

Pasangan ini dapat diamati sejak awal malam hingga menjelang subuh. Saturnus akan terlihat sebagai titik cahaya konstan berwarna kekuningan di sekitar Bulan, sedangkan bentuk cincinnya baru dapat diidentifikasi jika menggunakan teleskop.

Jadwal Fase Utama Bulan (WIB) Bulan Agustus 2026

Mengutip timeanddate.com, berikut adalah rincian waktu puncak fase Bulan untuk wilayah Waktu Indonesia Barat (WIB):
  • Bulan Kuartal Akhir: 6 Agustus, pukul 09.21 WIB
  • Bulan Baru: 13 Agustus, pukul 00.36 WIB
  • Bulan Kuartal Awal: 20 Agustus, pukul 09.46 WIB
  • Bulan Purnama: 28 Agustus, pukul 11.18 WIB
Kualitas pengamatan seluruh fenomena astronomi ini sangat bergantung pada faktor cuaca lokal, tingkat polusi cahaya, serta kejelasan horizon di lokasi pengamatan. Khusus pengamatan hujan meteor, disarankan untuk mencari lokasi yang gelap dan membiarkan mata beradaptasi dengan kegelapan selama 20–30 menit terlebih dahulu.

(Riza Aslam Khaeron)