Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X (kanan) saat menerima penghargaan National Governance Awards (NGA) 2026. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.
Tingkatkan Fasilitas Pendidikan Modern, Yogyakarta Raih Penghargaan NGA 2026
Richard Alkhalik • 3 May 2026 05:33
Jakarta: Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali mengukuhkan statusnya sebagai kota pendidikan nasional dengan menyabet penghargaan Outstanding Province in Educational Facilities atas keberhasilannya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkualitas.
Penghargaan tersebut diterima secara langsung oleh Wakil Gubernur DIY Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X di malam puncak National Governance Awards (NGA) 2026 yang diinisiasi oleh Metro TV di Hotel The Ritz-Carlton, Jakarta, pada Jumat, 24 April 2026.
Penghargaan tersebut dianugerahkan sebagai bentuk pengakuan atas komitmen luar biasa Pemerintah Daerah DIY dalam merajut ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkualitas, sekaligus keberhasilannya dalam menjaga konsistensi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 82,48. IPM DIY meningkat 0,86 poin pada 2025, atau naik 1,05 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 81,62.
Momentum penganugerahan ini juga bertepatan dengan Hari Otonomi Daerah 2026, sebagai bentuk apresiasi kepada pemerintah daerah yang berhasil melahirkan inovasi dan transformasi pelayanan publik.
DIY sebagai Pusat Pendidikan
Reputasi DIY sebagai kota pelajar dan pusat pendidikan utama di Indonesia bukanlah hal baru. Berdasarkan rilis data Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Yogyakarta menempati peringkat pertama nasional untuk mata pelajaran krusial yang menjadi indikator utama literasi dan numerasi.
Nilai rata-rata Bahasa Indonesia siswa DIY menempati posisi puncak dengan skor 65,89. Pencapaian ini berhasil mengungguli DKI Jakarta di posisi kedua dengan skor 63,39, disusul Jawa Tengah dengan 61,56, dan Jawa Timur pada 59,84.
Kinerja cemerlang ini semakin memperkokoh citra dan kepercayaan publik terhadap identitas pendidikan Yogyakarta.
Pada 2025, Pemerintah DIY juga menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional dengan meraih penghargaan dari Kemendikdasmen atas capaian residu data pendidikan terendah. Penghargaan ini merepresentasikan kualitas tata kelola data pendidikan di DIY yang kuat.
Dengan keberadaan lebih dari 100 institusi pendidikan tinggi termasuk 13 perguruan tinggi negeri, serta biaya hidup dan pendidikan yang masih relatif terjangkau, Yogyakarta terus menjadi destinasi utama bagi pelajar dari seluruh Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau.
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X (kanan) saat menerima penghargaan National Governance Awards (NGA) 2026 yang diinisiasi oleh Metro TV di Hotel The Ritz-Carlton, Jakarta, pada Jumat, 24 April 2026. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.
Tanamkan Nilai Pendidikan Khas Kejogjaan
Di bawah kepemimpinan Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X, Pemerintah DIY tidak hanya berfokus pada keunggulan akademis, tetapi juga pada penguatan ekosistem pendidikan berbasis budaya. Pada 4 Mei 2026, Sri Sultan dijadwalkan meresmikan peluncuran program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) secara serentak.
Program tersebut akan diimplementasikan pada seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, hingga tingkatan perguruan tinggi.
Menurut Ketua Dewan Pendidikan DIY Sutrisna Wibawa inisiatif tersebut lahir langsung dari visi Gubernur DIY untuk mengarahkan generasi mudah lebih berkaraketer. Ia menambahkan program pendidikan khas kejogjaan bukan hanya sekadar kurikulum tambahan di institusi pendidikan, melainkan sebuah investasi peradaban.
Tujuannya adalah membentengi generasi muda Yogyakarta dari gempuran arus globalisasi, serta mencetak manusia dengan karakter “Jalma Kang Utama” yakni individu yang berbudi pekerti luhur, berkarakter, dan penuh tanggung jawab.
Sejak Dana Keistimewaan resmi digulirkan pada 2013 silam, Pemerintah DIY telah memancangkan komitmen yang untuk dapat mencetak sumber daya manusia yang berkarakter unggul, melalui integrasi nilai-nilai kearifan lokal ke dalam ekosistem pendidikan daerah.
Peningkatan Infrastruktur dan Pembangunan Sekolah Rakyat
Untuk menopang kualitas pendidikan di 2026, Pemerintah DIY telah merevitalisasi 28 satuan pendidikan jenjang SMA yang tersebar di seluruh wilayah Yogyakarta. Program revitalisasi tersebut menelan total anggaran sebesar Rp19,97 miliar.
Fokus pembangunan juga diarahkan pada perluasan akses bagi masyarakat kurang mampu melalui percepatan konstruksi gedung permanen Sekolah Rakyat (SR). Salah satu proyek yang tengah berjalan adalah Sekolah Rakyat di Kabupaten Kulon Progo.
Sekolah tersebut dibangun di atas lahan seluas 7,1 hektare dengan alokasi APBN sebesar Rp214 miliar dan progres konstruksinya kini telah menyentuh angka 38 persen dan ditargetkan rampung pada Juni 2026. Sekolah ini diproyeksikan mampu menampung hingga 1.080 peserta didik.
Sekolah Rakyat Kulon Progo dirancang sebagai kawasan pendidikan modern yang terintegrasi, dengan fasilitas yang mencakup ruang kelas berbasis teknologi dan pusat pembelajaran digital, laboratorium keterampilan serta perpustakaan, fasilitas asrama yang disediakan bagi siswa maupun guru, hingga fasilitas penunjang seperti klinik, kantin sehat, lapangan olahraga, ruang ekstrakurikuler, dan ruang terbuka hijau.