Tradisi Labuhan Ageng di Pantai Sembukan. (Dokumentasi/ Disarpus Kabupaten Wonogiri)
Mengenal Labuhan Ageng Pantai Sembukan, Tradisi Sakral Sedekah Laut saat 1 Sura
Silvana Febiari • 13 June 2026 18:21
Wonogiri: Labuhan Ageng di Pantai Sembukan, Desa Paranggupito, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, merupakan tradisi sedekah laut sekaligus tolak bala yang telah berlangsung turun-temurun sejak masa Mangkunegaran IV sekitar tahun 1848.
Mengutip laman Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri, tradisi ini digelar setiap malam 1 Sura dalam penanggalan Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian ritual sakral masyarakat Jawa.
Labuhan Ageng dipandang sebagai bentuk hubungan spiritual masyarakat pesisir selatan Jawa dengan Laut Selatan yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Tradisi ini juga diyakini memiliki keterkaitan dengan keraton-keraton di Jawa.
Makna Labuhan Ageng dan Kepercayaan Masyarakat
Istilah “Labuhan” berasal dari kata “labuh” yang berarti melarung atau menyerahkan sesuatu ke air, sementara “Ageng” berarti besar atau agung. Secara keseluruhan, Labuhan Ageng dimaknai sebagai sedekah besar kepada laut, yang dipersembahkan kepada Kanjeng Ratu Kidul sebagai penguasa Laut Selatan.Pantai Sembukan sendiri dipercaya memiliki nilai historis dan spiritual tinggi, bahkan diyakini sebagai lokasi pertemuan antara Kanjeng Ratu Kidul dan Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram Islam. Kepercayaan ini juga berkaitan dengan wilayah Wisata Kahyangan Dlepih di Kecamatan Tirtomoyo yang dipercaya sebagai tempat semedi Panembahan Senapati.
Rangkaian Prosesi Labuhan Ageng
Pelaksanaan Labuhan Ageng diawali dengan persiapan sesaji berupa kepala, kaki, dan ekor sapi atau kerbau yang memiliki makna simbolis: kepala melambangkan kebijaksanaan, kaki sebagai pijakan hidup, dan ekor sebagai penyeimbang kehidupan.Setelah itu, masyarakat melaksanakan tirakatan malam berupa doa bersama di tepi pantai yang dipimpin tokoh adat dan tokoh agama. Kemudian dilanjutkan kirab sesaji dari pusat desa menuju Pantai Sembukan dengan iring-iringan masyarakat dan perangkat desa.
Puncak acara ditandai dengan pelarungan sesaji ke tengah laut sebagai persembahan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Momen ini diiringi doa bersama untuk keselamatan wilayah, keberkahan hasil bumi dan laut, serta perlindungan dari berbagai bencana. Masyarakat meyakini, pada saat pelarungan berlangsung, ombak laut sering terlihat lebih tenang sebagai tanda diterimanya persembahan.

Petugas pembawa sesaji Labuhan Ageng berjalan menuju ke laut untuk melepaskan sesaji. (Dokumentasi/ Disarpus Kabupaten Wonogiri)
Makna Spiritual dan Sosial
Labuhan Ageng tidak hanya memiliki makna spiritual sebagai wujud syukur kepada Tuhan dan penghormatan terhadap keseimbangan alam, tetapi juga sarat nilai sosial. Tradisi ini memperkuat gotong royong, kebersamaan, serta identitas masyarakat pesisir Desa Paranggupito.Selain itu, Labuhan Ageng juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda untuk tetap menjaga hubungan harmonis dengan alam, leluhur, dan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.