Boolet 'Sulap' Limbah Tusuk Sate Jadi Furnitur Berkualitas, Panelis JJN Terkesan

Owner Boolet, dok: Metro TV

Boolet 'Sulap' Limbah Tusuk Sate Jadi Furnitur Berkualitas, Panelis JJN Terkesan

Putri Purnama Sari • 9 June 2026 15:29

Jakarta: Inovasi unik di bidang ekonomi sirkular ditampilkan oleh Boolet dalam ajang Juragan Jaman Now (JJN) Season 5. Perusahaan yang didirikan oleh Cindy Susanto tersebut berhasil mengubah limbah tusuk sate dan sumpit bekas menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari furnitur, kerajinan seni, hingga material alternatif pengganti kayu.

Mengusung misi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, Boolet hadir sebagai salah satu bisnis yang menawarkan solusi atas permasalahan sampah sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

Berawal dari Kepedulian terhadap Lingkungan

Dalam video profil yang ditayangkan, Boolet diperkenalkan sebagai perusahaan yang fokus mendaur ulang limbah tusuk sate dan sumpit bekas menjadi produk gaya hidup bernilai seni.

Selain mengolah limbah, perusahaan yang berdiri sejak 2022 itu juga aktif memberikan pelatihan dan kesempatan kerja bagi kelompok masyarakat yang selama ini memiliki akses ekonomi terbatas.

Saat mempresentasikan usahanya di hadapan panelis, Founder Boolet Cindy Susanto mengungkapkan besarnya potensi limbah tusuk sate di Indonesia.

"Mungkin tidak semua orang tahu kalau setiap tahunnya kita mengimpor lebih dari 15.000 ton tusuk sate. Artinya setiap kali kita selesai makan sate, semua tusuknya akan berakhir di TPA. Boolet percaya circular economy adalah solusinya," ujar Cindy, dalam tayangan Jugaran Jaman Now Metro TV, yang dikutip Selasa, 9 Juni 2026.

Ubah Sampah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Cindy menjelaskan bahwa Boolet mengumpulkan limbah tusuk sate dari berbagai sumber untuk kemudian diolah menjadi furnitur dan produk kerajinan.

Tak hanya itu, proses produksi juga melibatkan pengrajin perempuan yang mendapatkan pelatihan keterampilan sekaligus tambahan penghasilan.

"Kita mengumpulkan limbah tusuk sate dan mengolahnya menjadi furnitur dan juga art and craft. Pada saat yang bersamaan kita memberikan pelatihan kepada pengrajin perempuan sehingga mereka bisa mendapatkan peningkatan pendapatan," lanjutnya.

Menurutnya, pada tahun 2025 Boolet berhasil mencatatkan pendapatan lebih dari Rp500 juta. Limbah yang terkumpul kemudian melalui proses sterilisasi, pengeringan, hingga dipres menjadi panel yang dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai produk.

Menargetkan Menjadi Material Alternatif Pengganti Kayu


Produk Boolet, dok: Metro TV

Dalam jangka panjang, Boolet tidak hanya ingin dikenal sebagai produsen furnitur ramah lingkungan. Perusahaan tersebut menargetkan diri menjadi pemasok material alternatif yang mampu menggantikan penggunaan bahan baku kayu konvensional.

"Longterm-nya kita ingin menjadi alternatif virgin material. Yang ingin kita besarkan skalanya adalah pengadaan panel ini," tambahnya.

Untuk mendukung pengembangan bisnis, Boolet juga berharap dapat memperoleh dukungan dari para juragan dalam bentuk advisory board yang mampu membantu memperkuat strategi dan kredibilitas perusahaan.

Panelis Soroti Kualitas dan Daya Tahan Material

Panelis Dian Onno mengaku terkesan dengan inovasi yang ditampilkan Boolet, termasuk produk kacamata yang dibuat dari limbah tusuk sate. Namun, ia juga mempertanyakan aspek daya tahan material dibandingkan produk berbasis kayu lainnya.

"Interesting product, saya baru tahu ini dari tusuk sate bisa dipakai jadi kacamata seperti ini," kata Dian Onno.

Menanggapi hal tersebut, Cindy menjelaskan bahwa material yang digunakan telah melalui proses sterilisasi berlapis menggunakan air, tawas, oven panas, hingga sinar ultraviolet.

"Kalau dibandingkan dengan MDF yang ada di luar sana, material kami jauh lebih kuat. Saat ini kekuatannya sudah comparable dengan jati," ungkap Cindy.

Meski demikian, ia mengakui bahwa standar nasional untuk bambu laminasi masih terus berkembang mengingat kategori material tersebut tergolong baru di Indonesia.

Fokus Jadi Penyedia Material Ramah Lingkungan

Dalam sesi diskusi, panelis Reino Barack menanyakan model bisnis yang dijalankan Boolet, khususnya terkait proses pengerjaan furnitur hingga pemasangan.

Cindy menjelaskan bahwa ke depan Boolet ingin lebih fokus sebagai penyedia material dibandingkan mengerjakan proyek furnitur secara menyeluruh.

"Sekarang saja kami sudah mendapatkan sekitar 3 sampai 5 ton bahan per bulan. Kalau semuanya kami kerjakan sendiri, saya percaya akan ada keterbatasan sebagai sebuah brand," ujarnya.

Dinilai Punya Potensi Besar di Industri F&B dan Korporasi

Panelis Rex Marindo melihat peluang kolaborasi yang cukup besar antara Boolet dan industri makanan serta minuman. Menurutnya, material hasil daur ulang tersebut berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti meja, tatakan, maupun elemen interior lainnya.

Namun, Rex mengingatkan bahwa faktor harga akan menjadi kunci utama jika Boolet ingin memperluas pasar dan meningkatkan skala bisnisnya.

Sementara itu, Irwan Mussry menilai produk Boolet memiliki peluang besar untuk menyasar segmen premium, terutama perusahaan dan kantor yang memiliki komitmen terhadap konsep keberlanjutan serta desain modern.

Sustainability Jadi Kekuatan Utama Boolet

Panelis Muriel memberikan apresiasi terhadap fokus keberlanjutan yang menjadi fondasi bisnis Boolet.

"I love the sustainability angle. Itu bagus banget sudah fokus di situ," kata Muriel.

Meski demikian, ia menilai perusahaan masih perlu memperjelas roadmap bisnis, mulai dari kondisi saat ini hingga target yang ingin dicapai dalam skala yang lebih besar.

Menurutnya, strategi fokus produk dan kemitraan perlu diperjelas agar perjalanan bisnis Boolet menuju tahap berikutnya menjadi lebih terarah.

Dorong Penguatan Advisory Board dan Kredibilitas Bisnis

Mentor Tom MC Ifle menilai langkah Boolet mencari advisory board merupakan strategi yang tepat untuk mempercepat pertumbuhan bisnis.

Menurutnya, kehadiran figur-figur berpengalaman dalam jajaran penasihat dapat meningkatkan kepercayaan publik sekaligus memperkuat posisi perusahaan di mata calon mitra dan investor.

"Boolet perlu memiliki credible advisory board yang punya nama dan bisa meng-endorse bahwa ini adalah bisnis yang layak dan bisa dipercaya," ujar Tom.

Ingin Bangun Kesadaran tentang Sampah di Indonesia

Di akhir sesi, Cindy menegaskan bahwa tujuan utama Boolet bukan sekadar membangun bisnis, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan sampah.

"Kalau kita bisa mengajak industri dan pemerintah mulai aware bahwa sampah yang sekecil tusuk sate ini bisa menghasilkan dampak yang luar biasa besar, maka sampah-sampah lainnya akan menjadi lebih mudah untuk kita tangani secara bertanggung jawab," tuturnya.

Senada dengan hal tersebut, Tom MC Ifle berharap para panelis tidak hanya melihat Boolet sebagai peluang bisnis semata, tetapi juga sebagai upaya nyata untuk mengembalikan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.

Dengan konsep ekonomi sirkular yang kuat, dampak sosial yang nyata, serta potensi pasar yang terus berkembang, Boolet menjadi salah satu peserta Juragan Jaman Now yang berhasil menunjukkan bahwa sampah dapat diubah menjadi peluang bisnis berkelanjutan.

(Muhamad Marup)