Ulik Fashion dari Sejarah Indonesia, Tanahwari Dipuji Panelis Juragan Jaman Now

Owner Tanahwari, foto: Metro TV

Ulik Fashion dari Sejarah Indonesia, Tanahwari Dipuji Panelis Juragan Jaman Now

Putri Purnama Sari • 9 June 2026 13:31

Jakarta: Brand fashion asal Bangka Belitung, Tanahwari, berhasil mencuri perhatian para panelis dalam ajang Juragan Jaman Now (JJN) season 5. Mengusung konsep unik yang mengangkat kisah sejarah Indonesia melalui desain fashion, Tanahwari mendapat banyak apresiasi atas kekuatan storytelling dan kualitas produknya.

Didirikan pada November 2021, Tanahwari hadir dengan misi memperkenalkan sejarah bangsa kepada generasi muda melalui media yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni pakaian.

Tanahwari, Sejarah Indonesia yang Dituangkan ke Atas Kain

Dalam video profil yang ditampilkan, Tanahwari menjelaskan bahwa setiap motif dan pola yang mereka ciptakan terinspirasi dari peninggalan sejarah Indonesia yang sarat makna perjuangan.

Nama Tanahwari sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "tanah air". Filosofi tersebut menjadi dasar bagi brand ini untuk terus mengangkat kisah-kisah sejarah dari berbagai daerah di Indonesia melalui karya fashion yang modern dan relevan.

Keunikan lain dari Tanahwari terletak pada proses pembuatannya. Motif-motif yang digunakan dikembangkan menggunakan teknik ilustrasi dotting, yaitu penyusunan ribuan titik kecil secara detail hingga membentuk gambar dan komposisi visual yang utuh.

Ingin Perkuat Branding dan Ekspansi Pasar Nasional

Founder Tanahwari, Yang Finalia, menjelaskan bahwa usaha yang dirintisnya bersama tim berasal dari Provinsi Bangka Belitung dengan tujuan memperkenalkan sejarah Indonesia ke pasar yang lebih luas.

"Kami berasal dari Provinsi Bangka Belitung yang ingin menceritakan sejarah melalui fashion hingga seluruh Indonesia," ujar Yang Finalia, dalam tayangan Juragan Jaman Now Metro TV, yang dikutip Selasa, 9 Juni 2026.

Sementara itu, Briyan memaparkan bahwa seluruh desain yang dihasilkan merupakan interpretasi dari berbagai peninggalan sejarah yang kemudian diolah menjadi pattern kain yang dapat diterima pasar modern.

Dalam presentasinya, Tanahwari mengungkapkan sejumlah kebutuhan untuk mengembangkan bisnis, mulai dari pembangunan galeri yang merepresentasikan identitas brand, dukungan branding dari figur publik nasional, konsep interior bernuansa sejarah, hingga penguatan tim manajemen branding profesional.

"Kami membutuhkan galeri yang merepresentasikan Tanahwari, membutuhkan branding yang kuat dari artis-artis nasional, serta tim manajemen branding profesional," ungkap Briyan.

Panelis Nilai Produk Tanahwari Modern dan Segar


Dok: Metro TV

Panelis JJN, Irwan Mussry, memberikan apresiasi terhadap pilihan warna yang digunakan Tanahwari. Menurutnya, produk tersebut tampil lebih segar dan kekinian dibandingkan kesan umum pakaian bernuansa budaya yang sering didominasi warna gelap.

"Kalau lihat produknya tadi, warnanya kekinian, fresh, dan tidak seperti pakaian bernuansa budaya yang biasanya cenderung gelap," kata Irwan Mussry.

Menanggapi hal tersebut, Yang Finalia menjelaskan bahwa pemilihan warna cerah dipengaruhi karakter masyarakat pesisir Bangka Belitung yang cenderung menyukai warna-warna terang. Namun, Tanahwari juga berupaya menyesuaikan desain agar dapat diterima pasar nasional.

Pentingnya Roadmap Bisnis untuk Menarik Investor

Panelis Rex Marindo menilai konsep dan cerita yang dibangun Tanahwari sangat menarik. Namun, ia mengingatkan pentingnya menyusun proposal investasi yang lebih komprehensif.

Menurutnya, investor membutuhkan gambaran yang jelas mengenai penggunaan dana, target pertumbuhan bisnis, proyeksi pendapatan, hingga estimasi keuntungan yang dapat diperoleh dalam beberapa tahun ke depan.

Rex juga berpesan agar para pelaku UMKM tidak hanya fokus pada produk dan cerita brand, tetapi juga memperkuat kemampuan dalam bidang keuangan dan perencanaan bisnis.

Disarankan Maksimalkan Digital dan Pop-Up Store

Sementara itu, Reino Barack menyoroti rencana ekspansi Tanahwari ke luar Bangka Belitung. Ia menyarankan agar brand tersebut mempertimbangkan strategi yang lebih fleksibel seperti pop-up store atau penguatan penjualan digital sebelum membuka toko fisik permanen.

Menurut Reino, pengelolaan toko fisik membutuhkan sumber daya tambahan mulai dari perekrutan karyawan, pelatihan, hingga pengelolaan operasional yang berbeda dengan bisnis fashion secara umum.

Target Gen Z, Tapi Pembeli Justru Didominasi Kalangan Pemerintahan

Saat sesi pendalaman, Tanahwari mengungkapkan bahwa target pasar utama mereka sebenarnya adalah Gen Z.

Namun mentor Peter Shearer mengungkap fakta menarik dari data penjualan yang dimiliki Tanahwari. Ia menyebut bahwa pembeli terbesar justru berasal dari kalangan pejabat, aparatur sipil negara (ASN), dan sektor pemerintahan.

"Target marketnya sebenernya gen Z, tapi ternyata yang membeli malah para pejabat, PNS, dan sektor government. Ada product-market fit yang secara tidak sengaja ditemukan karena pembeli justru lebih banyak berasal dari sektor pemerintahan," kata Peter.

Menurut Peter, desain Tanahwari berhasil menghadirkan perpaduan antara nilai sejarah, budaya, dan tampilan modern yang elegan sehingga cocok digunakan oleh kalangan profesional.
 

Panelis Dorong Penguatan Target Market dan Branding

Panelis Muriel menilai Tanahwari perlu memperdalam pemetaan target pasarnya. Menurutnya, Gen Z memiliki banyak segmen yang berbeda sehingga strategi pemasaran harus lebih spesifik dan berbasis data.

Ia juga menyoroti pentingnya penyampaian cerita yang lebih ringkas dan visual karena karakteristik Gen Z cenderung menyukai konten yang cepat dipahami.

Muriel menyarankan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan riset pasar, memperkuat branding, hingga mengembangkan desain yang lebih sesuai dengan target audiens.

Produk Dipuji Memiliki Potensi Fashion Heritage Indonesia

Panelis Dian Onno memberikan apresiasi terhadap kualitas produk Tanahwari yang dinilai baik dari segi tampilan maupun material.

Meski demikian, ia menilai identitas sebagai brand fashion heritage Indonesia masih perlu lebih ditonjolkan. Menurutnya, konsumen harus dapat langsung mengenali unsur budaya Indonesia hanya dari tampilan visual produk sebelum mengetahui cerita sejarah yang ada di baliknya.

"Sekilas pandang orang harus langsung melihat bahwa ini Indonesia banget. Setelah itu baru mereka mengetahui cerita sejarah di baliknya," kata Dian Onno.

Tanahwari Optimistis Setelah Mendapat Banyak Masukan Positif

Usai sesi presentasi, Yang Finalia mengaku merasa gugup saat harus mempresentasikan bisnisnya di hadapan para juragan dan panelis berpengalaman. Meski demikian, ia bersyukur mendapatkan banyak masukan yang membangun untuk pengembangan bisnis ke depan.

Senada dengan itu, mentor Peter Shearer berharap berbagai tanggapan positif yang diberikan para panelis dapat membantu meningkatkan popularitas Tanahwari setelah tayangan Juragan Jaman Now disaksikan masyarakat luas.

Dengan konsep yang menggabungkan sejarah, budaya, dan fashion modern, Tanahwari dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai salah satu brand fashion lokal yang membawa identitas Indonesia ke panggung yang lebih luas.

(Muhamad Marup)